
Tetap hidup, semua makhluk menginginkannya, tak terkecuali manusia. Keabadian adalah salah satu keinginan ternaif dari dalam lubuk hati seorang manusia, tetapi hal itu akan terjadi jika orang tersebut bahagia. Mereka takut pada kematian karena tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.
Ya, pada umumnya memang benar seperti itu, tetapi ada beberapa yang menginginkan kematian. Mereka tak lain adalah orang-orang tanpa harapan, atau sudah putus asa. Saat dalam keadaan terpojok atau tidak berdaya.
Sekarang, di bawah langit cerah pada pagi menjelang siang hari, Leon tertunduk pasrah pada takdir. Ia berusaha untuk menolak dan mengubahnya, tetapi mustahil dilakukan. Kedua tangannya mengepal, kini ia harus menerima fakta kalau dirinya lumpuh.
“Duduk di atas kursi roda tua ini ... aku merasa kecewa pada diriku sendiri,” Leon bergumam pelan.
Di dekat Leon, berdiri teman-temannya yang juga terluka. Vord adalah satu-satunya orang yang masih sehat tanpa luka atau apa pun. Sedangkan sisanya terluka, termasuk Sasa.
Pertarungan antara Vord dengan Jahad menimbulkan kekacauan, hingga menimbulkan efek serangan di sekitar. Sasa terkena serangan tersebut lalu terluka walau tidak parah seperti Leon, Sun, dan Ni. Beruntung, mereka semalam ternyata berada di bangunan rumah sakit terbengkalai sehingga Vord berhasil menemukan kursi roda untuk Leon.
Wajah semua orang terlihat murung, kecuali Vord yang berdiri dengan tenang sambil menatap ke depan. Leon sedikit mengangkat kepala, menatap punggung Vord sejenak, kemudian kembali murung. Ia merasa ingin mati, selalu merepotkan serta membuat orang lain menderita membuatnya berniat menghilang saja.
“Leon ....”
Leon sedikit bereaksi ketika Vord menyebut namanya.
“Apakah kau akan kalah oleh luka itu? apa sebaiknya kita kembali saja ke kota. Kurasa itu lebih baik daripada terus melanjutkan perjalanan ke Menara Harapan,” Vord melanjutkan.
“Entahlah.” Sulit memang bagi Leon mengakui kalau perjalanan ini terlalu berbahaya. Namun, tetap saja ia tidak akan pernah puas jika belum mencapai tujuan.
“Tentukan pilihanmu. Menyerah begitu saja, atau terus melangkah?”
Suasana menjadi hening, tubuh Leon gemetar, kedua tangannya mengepal erat. Perlahan mulutnya begerak, mengucapkan keputusan berat, “Aku akan terus maju. Tidak peduli jika memang harus seorang diri, aku pasti sampai ke tujuan walau mengandalkan keajaiban.”
Keputusan Leon sudah bulat, tak dapat diganggu lagi. Ia tidak peduli bagaimana tanggapan orang lain, keinginannya untuk menebus dosa harus dimulai dengan mencari tempat seperti apa itu Menara Harapan.
“Lalu, bagaimana dengan yang lain? Sun, Sasa, Ni, kalian bebas memutuskan.” Kali ini, Vord memastikan jawaban semua orang.
“Aku akan ikut bersama Leon.” Ni segera angkat bicara.
“Apa alasanmu? Jangan bilang kau hendak ikut tanpa alasan.”
__ADS_1
“Kurasa Leon adalah orang baik, dan dia seperti orang yang kucari selama ini.”
Vord diam, tidak menjawab atau mengomentari ucapan Ni.
“Aku juga akan ikut!” Sun pun memutuskan.
“Kenapa?”
“Dia sudah banyak menyelamatkan nyawaku. Mana mungkin aku membiarkan dia menyebrangi bahaya seorang diri sebelum aku berhasil membalas budi.”
“Kalau begitu kau sebaiknya kembali.”
“Apa maksudmu?” Ucapan Vord membuat Sun sedikit kesal.
“Kau sudah terluka cukup parah, dan kau juga sudah membalas budi pada Leon. Hanya dengan alasan balas budi, kau tak bisa melanjutkan perjalanan ini.”
“Jangan seenaknya memutuskan!”
“Lalu, apa alasanmu sebenarnya?”
Sun menggertakkan gigi, tangannya mengepal erat. “Meski kau menghalangi, aku akan tetap ikut bersama Leon. Dia ... dia bagai secerah harapan bagiku. Tak tahu mengapa, tapi dia seperti bintang yang harus kuikuti serta jadikan petunjuk.”
Keheningan kembali menyelimuti sekitar. Angin sedikit berembus menghantarkan udara segar. Leon mengetahui tekad tulus Sun. Namun, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membiarkannya menghadapi bahaya.
“Baiklah, aku mengerti. Kita akan melanjutkan perjalanan, biarkan aku menjadi perisai bagi kalian.” Vord pun melangkah ke depan.
Perjalanan kembali dimulai, semua anggota memilih untuk lanjut daripada pulang. Selain itu, dengan adanya Vord, nampaknya semua pasti baik-baik saja. Entah bagaimana, Leon lega karenanya. Walaupun sedikit tidak enak harus melibatkan mereka.
Apa kau senang? Memiliki banyak teman memang melegakan ya?
Haha, bagaimana caraku untuk menyangkalnya? Aku memang senang, mempunyai teman saat tengah terpuruk maupun senang.
Kalau begitu, nikmatilah. Orang baik sepertimu pantas mendapatkannya.
__ADS_1
Ini terlalu bagus untuk orang sepertiku ....
Yeah, entahlah ....
Di bawah terik matahari, tepat di antara reruntuhan sebuah kota, Sasa mendorong Leon perlahan, menyesuaikan kecepatan Sun dan Ni. Sementara Vord berjalan dengan tenang memimpin mereka sambil memasukkan kedua tangan dalam saku celana.
***
Vord terus melangkah ke depan tanpa ekspresi, tetapi tetap waspada sekiranya ada serangan mendadak. Kejadian tidak terduga beberapa saat lalu membuatnya tersenyum. Bagaimana tidak, Leon dan teman-temannya memiliki tekad yang bahkan jauh lebih kuat dibanding dirinya.
Ini membuatnya bertanya-tanya, apakah badai akan segera tiba? Belum pasti, tetapi ia yakin, badai kekacauan sudah dekat. Saat itu, ada seseorang yang menjadi peredanya. Namun, itu hanyalah pemikiran naif dari Vord.
“Mana mungkin ...,” gumam Vord, sepelan mungkin hingga orang di belakang tidak mendengarnya.
Setelah berjalan melintasi reruntuhan desa dan menapakkan kaki di atas dataran berbatu. Vord menyadari ada sebuah ritangan besar supaya bisa sampai di Menara Harapan. Cukup menghawatirkan. Ia menoleh ke belakang sesaat, lalu menatap ke depan lagi.
Perlahan Vord mengelengkan kepala. “Apa pun itu, pasti semuanya berjalan lancar.”
***
Keputusan sudah ditentukan sebelum Sasa mampu memutuskan. Kini ia hanya terus berjalan dengan perasaan campur aduk. Ia belum mengerti kenapa Sun sangat ingin ikut bersama Leon, padahal bisa saja dia kembali ke kota. Namun, percuma saja terus memikirkannya tanpa tahu harus berbuat apa.
Meski ragu, Sasa akhirnya terpaksa ikut. Alasannya sederhana, jika Sun memutuskan demikian, ia ikut. Apa pun, selagi Sun yakin pada hal tersebut, secara spontan Sasa mengikutinya. Akan tetapi, pada hal ini, keraguan sedikit mengganggu hati Sasa.
Sudah benarkan keputusan ini? Apakah akhirnya nanti bahagia? Atau mungkin menyedihkan?
Sasa ingin percaya pada keputusan Sun. Namun, hatinya berkata lain.
Sejenak Sasa melirik Leon yang duduk di atas kursi roda. Ia bertanya-tanya, kenapa orang seperti dia bisa menjadi harapan untuk Sun? Padahal, pada dasarnya, Leon merupakan orang lemah, berbeda dari Vord atau Pelahap Energi tingkat 1 lainnya.
Masih terus belum dapat mengerti, Sasa menoleh melihat raut wajah Sun. Pemuda itu nampak datar, tanpa menampilkan ekspresi di wajahnya.
“Berhenti!” Tiba-tiba Vord berseru meneriakkan perintah. “Bersiaplah memasuki Lembah Evolusi.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Vord, secara refleks Sasa tersentak. Mereka kini berada di depan sebuah lembah, terlebih Sasa telah tahu banyak tentang Lembah Evolusi ini. Terdapat sebuah aturan di sini, jika ingin hidup, lewatilah lembah, jangan melewati bagian atasnya.