The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 2 part 2


__ADS_3

Aku melancarkan sebuah pukulan menggunakan tangan kanan, ke arah mahkluk itu. Dia mundur beberapa langkah, lalu tanpa adanya peringatan, kaki ini langsung melompat ke samping, di mana gerbang besar berada. Tak tinggal diam, mahkluk tadi meluncur dengan cepat sambil menebaskan cambuknya kepadaku.


Sial, dia tidak mudah untuk ditipu. Apa yang harus kulakukan sekarang?


Mahkluk tersebut mengerang selama beberapa saat, tanpa henti ia menebaskan cambuknya. Namun, diri ini masih dapat menghindari semua serangannya itu. Tiba-tiba, dia berhenti, lalu mundur beberapa langkah, sambil menegakkan tubuh dan menatapku. Kami saling tatap, hanya bergeming tanpa adanya tanda-tanda hendak menyerang. Situasi yang membingungkan, entah apa yang sedang mahluk itu pikirkan.


Ah, bodohnya aku, mana mungkin hewan tak berakal itu dapat berpikir.


“Siapa kau?”


Suara yang terdengar serak itu, lantas membuatku berdiri mematung, karena tak memahami situasi. Aku melongo, ketika tahu kalau kalimat tadi terlontar dari mulut seekor mahkluk aneh yang ada di depan.


“Kenapa kau tidak menjawab?” Dia bertanya untuk kedua kalinya. Sungguh, aku tak tahu harus bereaksi seperti apa.


Mulut sedikit menganga, lidah perlahan mulai bergerak untuk menyampaikan sebuah kata. “A-ku.” Suara yang terdengar serak itu, terlontar dari mulut ini. Aku sediri tidak dapat percaya, ternyata bisa berkata dalam wujud sosok hitam.


“Apa kau adalah sekutuku?”

__ADS_1


Mahluk itu memegang erat cambuk di tanganya, seperti hendak bersiap untuk menyerang. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan sekutunya? Apakah dia mengira aku memiliki tato yang sama dengannya?


Kucoba untuk membiasakan diri berbicara saat berada dalam wujud sosok hitam, dengan lidah yang sedikit lebih panjang dari lidah manusia normal, suara yang keluar sungguh berbeda. Perlahan merangkai sebuah kalimat, akhirnya aku dapat mengatakannya. “Aku tidak mengerti maksudmu.”


“Apakah kau mau menjadi sekutuku, atau mungkin ....”


Deru angin berhembus, menerpa tubuh kami yang ada di sini. Jubah milik mahkluk tersebut, sedikit berkibar karena deruan angin. Mendadak, misil kembali meluncur dengan cepat, mengahantam lapangan luas tempat kami berada. Para remaja mulai kalut, mereka berlarian dengan panik tanpa tahu arah. Namun, mereka juga tak berani masuk ke dalam gerbang, karena ada dua mahkluk aneh yang menghalangi.


“Mungkin kita perlu mendiskusikannya nanti ...,” kataku, karena mulai panik akan keadaan. “Selain itu, pintu gerbang tampaknya akan segera menutup.”


Menggunakan semua tenaga, kaki melangkah dengan cepat untuk masuk ke dalam gerbang. Dua buah pintu raksasa, perlahan mulai menutup gerbang. Aku menjadi semakin panik, lalu mempercepat langkah hingga akhirnya masuk ke dalam.


Pandangan mulai menggelap, sedangkan telinga masih dapat mendengar seruan dari banyak orang yang tengah berlarian. Tubuh ini terinjak beberapa kali, hingga akhirnya kesadaranku menghilang bagai tertiup angin.


***


Di kedalaman hutan yang sangat jauh dari dinding tempat Leon berada, tampak seorang pemuda berpakaian serba hitam sedang melambung-lambungkan sebuah pistol yang ada di tangan kanannya. Sesekali ia mengarahkan pistol itu ke sebuah pohon, lalu kembali melambungkannya. Wajah pemuda itu tertutup oleh topeng berwarna hitam, yang di mana sebelah kanan topengnya sudah hancur. Jubah hitam si pemuda, sedikit berkibar diterpa angin, dan sebuah senyum jahat terpampang jelas di wajahnya.

__ADS_1


Dari arah belakang pemuda tersebut, datang seorang pemuda lain dengan rambut coklat. Pakaian berwarna putih yang dikenakan oleh pemuda yang baru datang itu, begitu lusuh, dan sekujur tubuhnya dipenuhi oleh keringat.


Pemuda berseragam hitam, berhenti melambungkan pistolnya, lalu mengarahkan pistol tersebut ke atas. “Ada apa, Zanik?”


“Sepertinya, kita sudah tidak mempunyai waktu lagi, Andrew.”


Pemuda berambut coklat, bernama Zanik, menatap pemuda yang ia sebut Andrew, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjangnya yang berwarna hitam.


“Benarkah?” Andrew menanggapi perkataan Zanik, dengan santainya.


“Seperti dugaanmu, dia telah berevolusi.” Tiba-tiba seorang gadis berambut panjang, yang datang dari balik pepohonan, menyela percakapan antara dua pemuda tadi.


“Heeh ....” Tanpa rasa takut sedikit pun, Andrew menurunkan tangannya. “Ini akan menjadi semakin menarik .... Untunglah aku sengaja mengulur waktu untuknya.”


Sementara itu, Zanik hanya terus berdiri dengan santai, tak mau tahu pada apa yang akan dilakukan oleh Andrew. Karena, dia adalah orang yang tega berhianat demi keselamatan dirinya. Jika memang sudah tidak ada peluang untuk menang, maka ia akan berpaling. Menggunakan kecerdikan otaknya, Zanik merasa yakin kalau dia pasti baik-baik saja.


“Masih perlu satu tahap lagi, sebelum aku menghabisinya,” gumam Andrew, dengan pelan. “Pada saat waktunya tiba, dia akan mati ....”

__ADS_1


Zanik sedikit tersenyum, ia merasa dapat memanfaatkan hal ini. Mari kita lihat, apakah kau dapat memenangkan semua ini, pikir Zanik.


__ADS_2