The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 12 : Penyesalan


__ADS_3

Dengan dekapan suhu udara yang hangat, Leon berbaring menikmati itu semua tanpa tahu di mana ia berada sekarang ini. Matanya perlahan terbuka, seketika itu terlihat olehnya sosok seorang gadis berambut panjang.


Itu adalah Ellise, Leon sudah sangat mengenalnya. Walaupun sekarang Leon sudah sadar tengah berbaring di atas pangkuan Ellise, pemuda itu tak kunjung juga bangun.


Perlahan Ellise mengelus kepala Leon, matanya terlihat memerah dan wajahnya cukup pucat serta berair. Akan tetapi, gadis itu tetap tersenyum hangat pada Leon sambil berkata, "Syukurlah kau sadar ...."


Tidak ada reaksi apa-apa dari Leon. Sejenak semuanya menjadi hening. Kesunyian yang panjang, Leon belum juga membalas dengan satu patah kata pun.


"Ellise ...." Tangan Leon terulur, mengusap air mata di pipi Ellise. "Jangan menangis ... aku di sini ...."


"Hm." Sungguh, Ellise menampakkan senyum paling indah kepada Leon. "Kau tidak akan meninggalkanku, kan?"


"Gadis bodoh. Bagaimana mungkin aku dapat melakukannya." Leon bangun, lalu mengelus kepala Ellise dengan lembut. "Kekuatan telah membuatku jatuh. Sudah berapa kali aku seperti ini?"


"Ini yang terakhir kalinya ... kau harus berjanji padaku!" Ellise berusaha mengusap air mata di pipinya.


Seketika Leon menempelkan keningnya pada kening gadis itu. "Jika aku melanggarnya, kau jadilah sebagai pengingatnya."


Mungkin penyesalan Leon sebelumnya sekali lagi ditaklukkan oleh keegoisan. Padahal ia pernah ingin menghilangkan keegoisan di dalam dirinya, tetapi sifat tidak dapat dirubah dengan mudah. Ia berpikir, satu-satunya cara untuk berubah adalah memulai ulang dari awal.


Namun, itu untuk sekali lagi kehilangan ingatan dan membuat hidup baru. Apakah tidak ada cara lainnya? Leon masih belum mendapatkan jawaban.


Terpikir olehnya salah satu faktor penting untuk merubah dirinya, itu tidak lain adalah lingkungan. Akan tetapi, lingkungannya selalu saja seperti medan peperangan. Di mana keegoisan harus tetap ada, sehingga kesombongan juga perlahan muncul setelah keberhasilan.


Di luar sana, terlihat Sasa tengah menyalurkan energi berwarna putih dari telapak tangannya ke dada Leon. Dia berusaha keras agar Leon segera tersadar. Kedua rekannya masih bergeming, mereka hendak membantu Sun yang sedang bertarung tetapi terdapat sebuah penghalang api di hadapan mereka.


"Sial!" Gild berdecak kesal. "Kita harus segera membantunya!"


"Tidak bisa, ini adalah pelindungnya!" Theo yang sama paniknya dengan Gild juga mulai gelisah.


"Kalau terus begini, bisa-bisa Sun mati!"


"Gild ...." Raut wajah Theo seketika berubah. "Kita turuti saja perintahnya."


"Kau bercanda!" Segera Gild meraih kerah baju Theo. "Dia Sun! Kau tidak peduli padanya?"


"Bukan begitu!" Kali ini Theo membalas dengan berteriak. "Hanya saja ... kita terlalu lemah."

__ADS_1


"Kau!" Hampir saja Gild lepas kendali, tetapi sesaat sebelum itu terdengar suara teriakan lantang dari belakang.


"Kalian berdua! Tenanglah!" Itu adalah Sasa, gadis itu juga sama tegangnya dengan Theo dan Gild. "Gild ... aku tahu perasaanmu, tapi ini pilhannya."


"Jadi kau juga sama dengan Theo!" Gild langsung mengalihkan perhatiannya ke Sasa.


"Gild!" Sekarang Theo sudah hampir lepas kendali. "Hentikan itu!"


"Kalian berdua ...." Sebelum kalimat Gild berlanjut, pandangannya mengarah pada Leon. "Ini semua salahnya!"


Dari balik jubahnya, Gild menarik sebilah pedang. Dia mengarahkan benda berbahaya itu kepada Leon. "Sasa, singkirkan tanganmu darinya!"


"Apa yang kau inginkan?" Sasa sudah mulai curiga melihat tindakan Gild.


"Minggir!" Sekuat tenaga Gild menebaskan pedangnya secara vertikal ke arah Leon.


Namun, beruntung, Theo menahan serangan tersebut menggunakan pedang juga hingga Gild melompat ke belakang. Tatapan Gild pun berubah.


"Ternyata kalian lebih memilih orang asing itu daripada Sun!"


Gild benar-benar sudah kehilangan akal, kedua orang di depannya saat ini sadar pada hal itu.


Gild mengarahkan pedangnya tegak lurus di atas kepala. Dari pedang tersebut muncul kilatan-kilatan berwarna biru keputihan.


Untuk menghadapi situasi sekarang, Theo memegang pedang menggunakan tangan kanan kemudian mengarahkan ujung ke tanah tepat di sebelah kiri pinggul. Pedangnya itu juga berkilauan, tetapi jauh berbeda dari milik Gild.


"Hia!" Segera Gild menebaskan pedangnya secara vertikal. Di saat yang sama Theo juga menebaskan pedangnya untuk menahan serangan Gild. Akan tetapi, sosok berwarna hitam mendadak muncul di tengah keduanya dan memegang pedang mereka.


Jubah hitam yang berkobar bagai api, dilapisi bayangan hitam dari ujung kaki hingga leher. Tatapan matanya tajam, wajahnya datar layaknya dinding.


Pemuda berambut hitam itu menatap Gild dan Theo secara bergantian. "Kalian sedang apa?" tanyanya, pelan, seolah tak tahu apa-apa.


"Kau ... brengsek!" Bukan menarik pedangnya kembali, Gild malah semakin memberikan tekanan pada pedangnya.


Seketika itu, pedang Gild patah, lalu pemuda tadi berjalan perlahan menuju dinding api yang semakin menipis.


"Leon ...." Dari belakang, Sasa menggumamkan nama pemuda itu.

__ADS_1


Leon, pemuda yang dilapisi jubah bayang perlahan mendekati dinding api. Tanpa ada rasa takut, ia menerobos ke dalamnya.


Seketika matanya terbuka lebar, Sun sudah terkapar di tanah sambil mencekik lehernya sendiri, sementara Tan hanya mengarahkan tangan kanannya ke depan. Tak berlama-lama, Leon melemparkan bola bayang kepada Tan.


"Oops!" Tanpa bergerak sedikit pun, serangan Leon berhasil ditahan oleh Tan.


"Hia!" Dalam sekejap Leon melompat ke depan, sebilah kapak besar terbentuk tepat di tangannya. Ia pun segera menggunakan kapak tersebut untuk menebas Tan secara vertikal.


Sekarang kapaknya terbentur, ia terlempar ke belakang. Namun, serangan tersebut berhasil sedikit mengacaukan konsentrasi Tan.


Sun terbatuk-batuk, pemuda itu perlahan bangun dan mundur mendekati Leon. "Kenapa kau bisa di sini?"


"Untuk menyelamatkanmu!"


"Aku tak butuh bantuanmu!" Masih terbatuk-batuk, Sun segera berdiri tepat di samping kanan Leon.


"Wah, wah, wah. Ternyata kau cukup tangguh," ucap Tan kepada Leon.


"Aku lebih tidak menyangka kalau mahkluk jelek sepertimu ternyata lumayan kuat." Leon mencoba memberikan sedikit provokasi.


Mendadak, dua buah balok tak terlihat kembali menyerang Leon dari dua arah berbeda. Namun, kali ini pemuda itu tidak terjebak lagi.


Leon, urusan tekanan energinya biar aku yang urus! Dengan penuh percaya diri Ellise membantu Leon.


Terima kasih, Ellise. Aku sangat terbantu untuk itu. Leon tersenyum tipis, senang karena ia sekarang bertarung tidak seorang diri.


Hmph! Kau boleh percaya aku!


Memang benar pada kenyataannya Ellise tidak memiliki tubuh, tetapi kekuatannya tidaklah hilang. Dia yang sekarang berbentuk energi, karena terjerat di dalam kristal pada tubuh Leon, dia terlihat sama seperti manusia.


Namun, sekarang atas kesepakatan antara dia dan Leon, Ellise menggunakan kekuatannya tetapi dengan memanfaatkan energi di kristal Leon.


"Heh ...." Tan sedikit terkejut. "Ternyata kau masih memiliki sebuah trik di dalam tubuhmu."


[Bersambung....]


Tinggalkan kenang-kenangan berupa Komen.

__ADS_1



__ADS_2