
Tadi malam, terdengar suara ledakan yang begitu dahsyat. Kami bertiga bahkan dibuat tidak tenang dan terus waspada karena hal tersebut. Di pagi harinya, Darwis menuntun kami untuk mencari sumber ledakan itu. Memang, akan lebih mudah mencarinya semalam, tetapi sangat berisiko melihat situasi yang kian kacau.
“Sebenarnya, kenapa kita harus bertarung antar Klan agar dapat keluar dari hutan ini?” tanyaku pada Darwis, ketika kami masih dalam perjalanan mencari sumber ledakan yang mengganggu tadi malam.
“Sebuah rumor selalu tersebar dengan cepat. Saat ada yang mengatakan kalau peta harta karun ditemukan, mungkin banyak yang berbondong-bondong untuk merebutnya demi kepentingan pribadi.”
Apa maksud dari penjelasannya itu? Jangan bilang kalau ada seseorang yang mengasut di balik semua ini? Atau mungkin, hukum rimba terbentuk dengan sendirinya karena perebutan wilayah?
“Dulu ....” Darwis memulai kembali penjelasannya. “Ada sebuah pesan yang tersebar melalui surat yang dikirim dengan burung. Di sana tertulis aturan untuk bertahan hidup. Awalnya, tak ada yang mau menggubris pesan tersebut, tetapi karena ada satu Klan yang tamak dan gila kekuasaan, maka terbentuklah hukum rimba seperti sekarang.”
Aku menghentikan langkah, mencoba untuk memikirkan semua yang telah terjadi. Di awal, Wolf mengatakan padaku kalau semua orang akan dengan otomatis menjadi rekan ketika bangun di wilayah yang sama. Kemudian, tanpa sebuah petunjuk, muncul tato yang melambangkan suatu Klan. Apakah itu berarti, semua ini memiliki jangka waktu tertentu.
Sepertinya memang begitu. Darwis pernah mengatakan kalau sejak awal telah menjadi Klan Ular. Dengan kata lain, itu berarti memang benar pernyataan Wolf dulu. Hanya saja, karena kejadian ketika para hewan berlarian membuat banyak orang panik, tato pun muncul bersamaan dengan asap yang membuatku tertidur pulas waktu itu. Tentu saja, tato yang muncul digunakan sebagai penanda.
Akhirnya, satu permasalahan dapat terpecahkan. Dan misteri ini pasti berhubungan dengan apa yang ada di wilayah utara. Itu pula yang menyebabkan hukum rimba terbentuk di hutan misterius ini. Namun, menimbang banyaknya orang yang tinggal di sini, tidak menutup kemungkinan kalau ada yang sudah tahu tentang apa yang ada di wilayah utara.
“Hei, jika kau terus melamun, aku akan meninggalkanmu.”
Peringatan tersebut langsung membuyarkan lamunanku. Dengan santai aku kembali melangkah mengekor di belakang Darwis dan Flicker. Dari sini aku dapat menyimpulkan sesuatu, karena begitu banyaknya misteri, kemungkinan terdapat sebuah fortal di wilayah utara. Dan untuk membukanya, diperlukan suatu syarat tertentu, sehingga membuat hukum rimba yang ada di hutan ini, semakin logis untuk digunakan.
Setelah melewati berbagai medan, kami akhirnya sampai di sebuah tempat yang sangat berantakan, di mana bau menyengat dan mayat-mayat bertaburan. Namun, aku sudah tidak asing dengan pemandangan ini, dan tampaknya Flicker juga tidak terganggu.
“Apa yang terjadi di sini?” Flicker menerawang ke sekitar, mengamati keadaan kacau ini.
__ADS_1
Sebuah bangunan di tengah lapangan telah hancur dan rata dengan tanah. Begitu banyak lubang yang terdapat di sekitar. “Sepertinya pertarungan besar telah terjadi tadi malam,” aku bergumam pelan.
“Ya. Dan tampaknya, semua ini karena siasat seseorang.” Darwis menyetujui, lalu segera mendekati kumpulan mayat yang berserakan.
Apakah dia ingin mengisi persediaan makanan? Kenapa aku jadi sangat jijik melihatnya? Ya, bagaimana mungkin tidak, karena aku masihlah manusia yang memiliki akal sehat. Berbeda dengan Darwis, yang aku merasa dia telah menjadi seorang monster sungguhan karena Evolusi Permanennya.
Dengan tenang aku mengamati sekitar, kumpulan mayat terlihat berserakan di sepanjang lapangan. Kaki kulangkahkan menuju sebuah tempat di mana terlihat kumpulan mayat yang berbeda. Ketika hampir sampai, bau menyengat langsung mengisi lubang hidung. “Mahkluk apa ini?”
Tampak dengan jelas bagian tubuh mayat-mayat yang ada di sana, berserakan seperti sampah tak berguna. Selain itu, pada bagian tubuh yang masih utuh, terdapat luka tembak. Senjata api juga berserakan di sana-sini.
“Pertarungan apa yang membuatnya seperti ini?”
Sungguh menakutkan. Nampaknya situasi ini lebih menyeramkan dibandingkan pertarunganku dulu.
Aku langsung bergegas menuju ke arahnya. Di sana terdapat sepotong ekor yang sudah hampir terbakar seluruhnya.
“Ekor apa itu?” Rasa penasaranku langsung meluap kala melihat ekor tersebut. Tak pernah terbayang sebelumnya kalau akan ada benda seperti itu di sini.
“Sepertinya, ada pertarungan sengit antar manusia yang berevolusi di sini.” Darwis menghela napas lega. “Beruntung kita tidak langsung mencari ini tadi malam. Kalau tidak ... mungkin sekarang kita mendapatkan masalah baru.”
“Begitukah?” Flicker tiba-tiba menyela sambil mengamati potongan ekor tadi.
“Tidak ada gunanya terus di sini.” Langsung saja Darwis pergi. “Sebaiknya kita segera ke wilayah utara.”
__ADS_1
“Itu adalah jalan terbaik yang dapat kita lakukan sekarang.” Aku menyetujui, dan mulai mengekor di belakang Darwis.
Menimbang dari semua yang terjadi, sepertinya akhir dari perjalanan semakin dekat. Satu-satunya yang bertahan adalah pemenang. Walau sebaik apa pun sebuah Klan yang ada di sini berjuang, pada akhirnya, tetap hanya satu yang bukan pecundang. Tidak heran jikalau ada sebuah kelompok yang bermain curang.
Setelah jauh berjalan, Darwis membentangkan tangan kanannya, mengisyaratkan kalau kami harus berhenti. Tidak ada pilihan lain, aku dan Flicker tunduk atas perintah tersebut. Lirikan mataku masih memantau sekitar, begitu pula dengan Darwis.
“Sepertinya aman,” kata Darwis sembari melambaikan tangannya ke depan, memberikan suatu isyarat lain pada kami.
Aku dan Fliker hanya dapat mengikutinya, tidak lebih dari itu. Dan entah bagaimana, ia akhirnya menjadi pemimpin kami selama ini. Kuharap, menjadikannya pemimpin adalah hal baik.
“Mulai dari sini kita harus berhati-hati. Jangan pernah lengah walau hanya sedikit. Mengerti?”
Aku mengangguk menanggapi perintah dari Darwis. Kemungkinan besar, wilayah utara yang selama ini kami cari, sudah dekat.
“Bagus.” Tanpa memperhatikan kami berdua yang ada di belakangnya, Darwis kembali berjalan dengan pelan. Satu hal yang pasti dari semua ini, yaitu kehancuran sudah berada di depan mata. Bukan seperti kekacauan seperti sebelumnya, tetapi kehancuran sesungguhnya dari akhir hutan misterius tempat kami berada.
Darwis bilang, apa yang namanya pertarungan antar Klan, semuanya sudah dimulai sekarang, jadi kewaspadaan harus ditingkatkan. Namun, rasa penasaranku akan wilayah utara masih belum pupus. Kebodohanku itu sepertinya sangat patut untuk ditertawakan.
Hari sudah senja kembali, perjalanan kami menuju wilayah utara yang menjadi misteri, masih belum juga tercapai. Ya, itu karena jaraknya memang sangat jauh. Walau sudah melewati banyak sekali medan berbahaya seperti tebing dan lahan jagung yang begitu luas, kami masih belum juga mencapainya.
“Malam ini, kita beristhirahat di sini.” Tak terganggu sedikit pun dengan situasi yang berbahaya, Darwis melemaskan tubuhnya sambil bersandar di bawah pohon. “Berjaga secara bergantian. Jangan pernah lengah bagaimanapun caranya. Tampaknya, tujuan kita sudah dekat.”
Masih perkiraan, tetapi sangat meyakinkan. Aku pun dengan tenang ikut duduk di sebelah Darwis, diikuti oleh Flicker.
__ADS_1