The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 4 part 1


__ADS_3

Tepat beberapa langkah di depan, tampak Darwis yang tengah menengadah, memandangi dedaunan yang dihiasi warna merah. Segera aku mempercepat langkah, lalu dengan sengaja menabraknya. Ia langsung berpaling ke arahku kala itu, dan diri ini jatuh terjerembab di tanah.


Napas begitu tak karuan, dada ini sesak sehingga susah untuk bernapas. Tangan kiri masih menggenggam erat lengan kanan agar bisa akibat gigitan ular tadi tidak cepat masuk ke jantung.


“He-hei! Ada apa denganmu?” Segera Darwis mengangkat tubuhku supaya dapat berdiri tegak.


Ia sedikit tercengang melihat luka yang ada di tangan kananku. “Jangan pedulikan ini untuk sementara, ular itu mengejar di belakang.” Dengan panik aku memberitahu Darwis.


Darwis kemudian mengambil cambuknya, dan berbalik. Aku tak mau melihat ke belakang, lalu melemaskan tangan kanan serta menguatkan genggaman tangan kiriku. Kepala mulai pusing kembali, lengan kanan mulai membiru karena aliran darah yang tertahan.


Beberapa saat kemudian, Darwis datang sambil merobek pakaiannya. Ia pun segera mengikatkan sobekan pakaian itu ke lengan kananku.


“Tahan!”


Tangan kanan ini mati rasa, tetapi aku bersyukur karena bisa ular itu tak langsung membunuh.


“Apa kau bisa berubah wujud sekarang?” tanya Darwis.


“Tidak. Tampaknya tidak bisa ....”


Sial, apakah aku harus berubah wujud agar bisa ini dapat kutahan lebih lama. Akan tetapi, bagaimana cara untuk melakukannya? Lagipula, aku tidak terlalu frustasi atau putus asa sekarang, yang ada hanya rasa takut dan ketegangan.

__ADS_1


Tak lama berselang, bau busuk langsung memenuhi indra penciuman. Segera aku berbalik ke sumber bau tersebut, di sana tampak Darwis yang sedang mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Itu adalah daging, tapi entah daging apa.


Tangan kiri ini langsung menutup hidung, tak mau menghirup udara yang tidak sedap tersebut. “Apa yang kau pegang itu?”


Seolah tak ada yang aneh, Darwis menjawab dengan santainya, “Hanya sepotong daging manusia yang aku simpan di balik pakaian.”


Apa-apaan itu? Sejak kapan ia menyembunyikan daging itu dariku, dan lagi, bagaimana mungkin aku baru menyadarinya sekarang kalau ia menyimpan daging. Sialan, ini tidak logis, dia pasti berbohong.


Ia sedikit tersenyum. “Hehe, kau terkejut, bukan?”


Tidak peduli, aku hanya ingin tahu bagaimana cara ia menyembunyikannya. Kuharap dia mau menjelaskan.


Kemudian, Darwis mengambil sebuah kantung yang terbuat dari kain. Dan ketika ia membuka isinya, tanah langsung berjatuhan dari sana, lalu di tengah-tengahnya terdapat sesuatu yang dibungkus oleh daun yang hampir hancur.


Segera aku menjauh agar aroma tersebut tidak tercium lagi, tetapi sialnya, kepala kembali merasakan sakit, benar-benar nasib buruk. Tubuh tak lagi seimbang, aku pasti terjatuh beberapa saat lalu jika Darwis tidak langsung menyangga tubuhku dari depan.


“Buang beda busuk itu!” Aku langsung membentak karena tak tahan dengan aroma tak sedap yang berasal dari daging di tangan Darwis.


“Makan ini, kalau kau ingin segera sembuh!”


Brengsek, kau pikir aku ini apa? Mana mungkin aku mau memakan benda busuk itu. Aku menggeleng beberapa kali, mencoba untuk memberontak. Akan tetapi, Darwis mengabaikannya, dan semakin mendekatkan daging busuk tersebut ke mulutku.

__ADS_1


Kaki langsung kulangkahkan ke belakang, agar dapat menghindar sejauh mungkin. Namun, Darwis dengan sigap menangkap tangan kananku. Ah, rasanya sakit ketika ia menggenggam lenganku yang terluka itu, tetapi tak sedikit pun Darwis mau menggubris hal tersebut.


Sialan, aku seolah mati rasa karenanya, benar-benar merepotkan. Ini dia, aku tak mau! Jangan! Ah, terlambat, dengan gerakan yang begitu cepat, Darwis memasukkan daging busuk tersebut ke dalam mulutku.


Daging itu terasa sangat pahit, aromanya yang begitu busuk juga langsung memenuhi mulut. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, rasa pahit itu menghilang, dan rasa sakit di lengan kananku mulai menghilang. Kulit kini berganti lagi, dan kepala yang tadinya sakit sekarang sudah sembuh.


Inikah yang namanya obat mujarab. Namun, rasanya sangat pahit. Ya, namanya juga obat, jadi memang wajar bila pahit. Diri ini masih terbaring, melemaskan tubuh dan menenangkan pikiran yang tadinya kacau.


Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, dan bulan pun bersinar terang di angkasa untuk menggantikan sang mentari. Aku masih tetap terbaring, tak mau mengacuhkan sekitar.


“Kau seharusnya sudah sembuh sejak tadi.” Tiba-tiba suara itu mengejutkanku.


Aku berpaling, lalu melihat Darwis yang tengah duduk bersandar di bawah pohon. Segera diri ini berdiri, tubuh tak sesakit tadi lagi, dan tentu hal tersebut membuat lega. Perubahan wujudku juga telah menghilang, sehingga aku hanya tampak seperti manusia normal pada umumnya.


Potongan kain yang masih terikat di lengan kanan, langsung kuputuskan begitu saja. Sejenak aku menengadah, memandangi langit berbintang, lalu berjalan mendekati Darwis.


Sungguh, aku tak habis pikir ketika daging busuk tadi langsung membuat diri ini berubah wujud. Bagaimana sebenarnya proses Evolusi dapat terjadi?


“Kau pasti sedang memikirkan kenapa daging busuk yang kau tolak tadi, malah menyelamatkan hidupmu.”


Tanpa mau menjawab, aku langsung duduk di sebelah Darwis, sembari menerawang ke sekitar. Sejauh yang terlihat, tidak ada tanda-tanda keberadaan musuh ataupun mahkluk sialan seperti ular berbisa.

__ADS_1


“Meskipun aku penasaran, kau juga tak mau berterus terang padaku, kan?”


“Tidak juga.” Darwis menghela napas sejenak. “Kau perlu mengetahui bagaimana cara berubah wujud tanpa perlu memenuhi satu syarat khususmu itu.”


__ADS_2