The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 6 part 4


__ADS_3

Suara tetesan air, menggema di gendang telinga. Suasana yang tadinya riuh karena ledakan, kini mereda setelah ledakan besar beberapa saat lalu. Di dalam tumpukan gedung dan tanah, aku masih dapat bernapas karena sedikit celah. Sekujur tubuh terasa remuk karena jatuh dari ketinggian. Tapi, beruntung aku berubah menjadi sosok hitam, jika tidak, mungkin kepalaku telah hancur.


Selain itu, sebuah dinding besar tapi retak, membuat aku tidak tertimpa oleh bebatuan juga tanah. Kakiku sedikit terjepit bebatuan, tetapi dapat terlepas karena kutarik dengan paksa. Ya, dengan sosok ini, seharusnya baik-baik saja. Sejauh pengamatanku, sel-sel baru yang terbentuk karena virus ini, dapat membuat tubuh menjadi kuat dan bahkan beregenerasi lagi. Meskipun dalam batas tertentu.


“Astaga, tempat ini sangat sempit, aku tidak bisa bergerak bebas di sini.”


Udara juga tak banyak masuk ke tempat di mana aku berada kini, temperaturnya pun lumayan panas. Di antara reruntuhan, aku merangkak, mencoba melewati celah dengan menggeserkan batu dan dinding. Sesaat aku terdiam, mata menatap lurus ke sebuah benda yang berkilauan karena sinar mentari.


Reruntuhan ini sedikit basah, sebab itu ada beberapa genangan air di bagian bawah. Mungkin, karena hujan deras malam itu yang mengakibatkan air terkumpul di suatu tempat pada gedung tua, lalu ketika hancur, air tersebut ikut jatuh.


“Hm ... aneh.” Semakin dekat, tampak benda yang berkilau tadi ternyata sebuah kristal berbentuk rugby dengan warna bening seperti air. “Apa ini?” Segera aku mengambil benda tersebut dengan tangan kanan.


Dalam sekejap, ada sebuah energi yang merasuk dalam diriku. Energi tersebut membuat sosok hitamku aktif dengan sendirinya. “Inikah yang mereka sebut sebagai energi jiwa?” Aku bertanya-tanya. Ketika energi itu masuk, rasanya seperti terkena sengatan listrik daya rendah, dengan sedikit sentakan hingga memicu perubahan wujud.


Tak lama, kristal tersebut berubah warna menjadi hitam, perubahan wujudku juga berakhir. Kupandaangi kridtal yang ada di tanganku dengan saksama, tak ada hal istimewa yang terjadi. “Bagaimana cara mereka menggunakan benda ini? Kalau tidak salah, Darwis meletakkannya di dada.”


Langsung kutempelkan kristal tersebut ke dadaku, tidak ada yang berubah. Namun, tak lama berselang, kristal itu menempel di dada hingga merekat dengan erat. Di antara kristal yang menempel, terdapat warna hitam dengan garis-garis hitam. “Sepertinya benda ini langsung bersatu dengan sel-sel tubuhku.”


Sekarang aku tak mempunyai pistol atau senjata apa pun lagi. Hanya celana dan alas kaki yang masih utuh setelah terkena serangan beruntun beberapa waktu lalu. Satu-satunya cara agar bisa keluar dari dalam sini hanyalah dengan mengandalkan kekuatan mistis dari energi jiwa yang diserap dan diolah oleh kristal yang melekat di dadaku.


Akan tetapi, bagaimana cara melakukannya? Apakah harus bertapa selama beberapa bulan agar bisa menggunakannya? Itu terlalu memakan waktu serta merepotkan bagiku.


“Hm, mari kita pikirkan.” Aku dengan hati-hati menggeser bebatuan dan puing-puing, karena jika sembarangan, maka semuanya akan runtuh.

__ADS_1


Akhirnya terdapat ruangan bagiku untuk duduk bersila di antara reruntuhan ini. Mungkin pertama-tama aku harus mencoba cara pernapasan saja, seperti yang pernah kupelajari entah kapan tepatnya. Pikiran kutenangkan, tarikan napas aku sesuaikan sembari menutup mata.


Mendadak, aku merasakan sesuatu yang terasa hangat menyebar ke sekujur tubuh. Badanku menjadi lebih nyaman dibanding sebelumnya. Tampaknya, ini merupakan efek karena menyerap energi jiwa menggunakan kristal yang ada di dada. Segera aku membuka mata ketika terjadi sebuah dorongan dari dalam raga. Napas pun entah bagaimana menjadi terengah.


“Ternyata tidak semudah yang aku duga.” Sejenak aku memutar otak untuk mencari suatu penyelesaian masalah ini. “Ah, mungkin penyebabnya karena kristalku ini tak dapat lagi menampung energi.”


Baiklah, mari kita coba kekuatan baru ini. Kedua tangan kuangkat ke atas, energi yang ada di dalam kristal di dadaku mengalir dengan hangat ke telapak tangan. Beberapa saat kemudian, terjadi sebuah ledakan yang mengakibatkan dinding yang ada di atas kepalaku, hancur seketika. Dan ternyata, tanpa sadar aku telah berubah menjadi sosok hitam.


Di dalam kumpalan debu yang berterbangan, aku bersiap untuk melompat. Energi kukumpulkan di telapak kaki, dengan satu sentakan, aku langsung melompat ke atas, mengahancurkan apa yang menjadi pijakan.


Seperti sebuah mimpi, aku melayang tinggi di udara, melihat pemandangan hutan dan kota mati. Pada bagian tengah kota mati, terdapat sebuah tugu tinggi dengan warna coklat. “Mungkinkah itu adalah pusat kota?”


Ketika melirik sekujur tubuh, aku langsung dikejutkan oleh sesuatu seperti kain, tetapi bukan kain, warnanya hitam layaknya tinta. “Apakah ini sebuah bayangan? Jangan-jangan aku bisa memanipulasi bayangan.”


“Darwis?” Segera kulangkahkan kaki, berlari sekuat tenaga mendekati sosok itu.


Ya, dia memang Darwis, tubuhnya kaku, kedua tangannya masih memegang erat sebuah pedang. Namun, aku langsung tak mampu berkata apa-apa. Mata pemuda itu terpejam, sekujur tubuhnya kering. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


“Wow.” Sontak aku melangkah mundur.


Darwis bergerak kembali, tetapi tarikan napasnya begitu terengah seperti usai berlari. “He-hei! Apa yang terjadi padamu?” Kulontarkan pertanyaan itu untuk mengkonfirmasi tentang hal yang membuat dia seperti ini.


Ia memalingkan wajahnya kepadaku, pedang yang sedari tadi dipegangnya, langsung ia lepaskan begitu saja. “Ternyata kau masih hidup, ya?”

__ADS_1


Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu, menjengkelkan sekali. Ya, tapi untunglah dia baik-baik saja. Aku kira tadi dia sudah mati.


“Itu tidak penting, jawab saja pertanyaanku.”


Belum sempat menjawab pertanyaan, Darwis langsung terduduk di tanah. Memang sedikit melegakan karena kekacauan beberapa waktu lalu telah mereda, dan mungkin saja mereka berpindah tempat. Ah, tidak peduli, yang penting aku selamat dan beruntung mendapatkan kekuatan baru.


Hm, tunggu sebentar, ini aneh, kenapa tidak ada taring di mulutku ketika berubah menjadi sosok hitam? Ketika mengamati sekujur tubuh, kulitku seutuhnya telah berubah warna menjadi hitam, sama seperti perubahan wujudku biasanya. Kemudian, eh?


Di tangan kiriku terdapat cakar, tetapi tangan kanan tidak. Sungguh tak seimbang, kenapa bisa jadi seperti ini? Oh, ayolah, padahal baru saja aku senang, dan sekarang langsung kecewa karena perubahan wujud ini. Tidak bisakah dewa memberiku kesenangan selamanya?


“Kau pasti sedang bertanya-tanya kenapa wujudmu menjadi sejelek itu.” Darwis menatap ke atas.


“Masih lebih baik daripada dirimu itu,” aku balas mengejek.


Makhluk setengah manusia tersebut, menghembuskan napas panjang. “Sejauh ini, aku tak pernah melihat orang seperti dirimu itu, setengah mahkluk hitam.”


Setengah mahkluk hitam? Apa itu berarti aku akan selamanya dalam wujud ini. Astaga, kenapa bisa jadi seperti ini? Jangan bilang kalau aku dikutuk.


“Sebenarnya itu cukup normal.”


“Eh?” Sekali lagi aku melongo ketika Darwis mengatakan kalau ini sangat normal.


“Sudah kubilang, itu sangatlah normal. Beberapa mungkin telah tahu kalau sebenarnya energi yang kau serap dengan kristal dapat memicu perubahan sel secara permanen. Dan biasanya itu terjadi karena penggunanya secara sembarangan menyerap energi.”

__ADS_1


Dengan kata lain, aku ini sangat bodoh. Hiks, menyedihkan.


__ADS_2