The Dark Slayer

The Dark Slayer
Side story : Mimpi atau Kenyataan 2


__ADS_3

"Haah... haah...." Napasku begitu terengah, ketika membuka mata, aku sudah berada pada sebuah tempat yang entah di mana.


Apakah tadi itu mimpi? Aku berdiri, mengamati sekitar. Tempat ini tampak seperti sebuah bangunan tua dengan dinding berwarna biru pucat. Pada dinding terdapat obor sebagai penerang, mungkinkah tempat ini sama seperti gua waktu itu?


Ah, terserah saja, aku sudah tidak mengerti mana kenyataan dan mana mimpi. Kepalaku sungguh pusing, tidak mampu menyeram banyak informasi lagi.


Tidak peduli pada apa pun lagi, kaki membawaku bergerak maju menyusuri lorong. Lantai begitu gersang, kasar layaknya pasir pantai. Suara derapan kaki menggema di dalam lorong, memecahkan keheningan yang menyelimutiku.


"Tampaknya aku tidak akan dapat keluar dari dalam sini sesegera mungkin."


Meski kaki merasa letih, kata hati tak berhenti menyerukan kata menyerah, aku masih terus berjalan. Mungkin sudah banyak waktu berlalu dari saat aku masuk ke dalam sini dan belum juga mendapatkan pintu keluar.


Pandanganku melirik ke sana sini, napas sudah tak karuan lagi. Kepala sungguh pusing seperti hendak meledak. Jangan bilang kalau oksigen di dalam tempat ini sudah terkontaminasi oleh sesuatu, tapi apa?


Mendadak pengelihatanku kabur, sekitar terlihat berputar-putar kemudian menghitam.


***


Sudah berapa lama kiranya aku kehilangan kesadaran. Sekujur tubuh terasa sakit, perlahan kubuka mata, melirik sekilas ke sekitar. Tidak ada apa-apa, sama seperti sebelumnya.


Aku bangun, kepala masih terasa berat, dan ini benar-benar mengganggu konsentrasi. Kuembuskan napas panjang, sementara tangan kanan menyangga untuk mengurangi rasa sakit.


"Sebenarnya, apa yang membuatku seperti ini?" Aku bertanya-tanya, tetapi tidak ada yang menjawab.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, rasa sakit pada kepalaku perlahan menghilang. Aku berdiri, kemudian melangkah lagi menyusuri lorong dengan pencahayaan dari obor. Tangan kanan meraih, senapan, bersiap sedia jikalau monster besar tadi muncul lagi.


Meskipun percuma melawan dia hanya dengan bersenjatakan senapan, tetapi masih lebih baik daripada harus menyerah. Lagipula, sebelumnya aku sudah berhasil mengalahkan seekor monster menggunakan mode hitamku.


Memang benar sekarang aku tak tahu bagaimana cara mengaktifkan teknik tersebut, tapi kuyakin tak lama lagi aku bisa menggunakannya sesuatu hati. Terus berjalan, tatapanku kian tajam, sudah muak rasanya bertempur, tetapi masih harus melakukannya. Sebenarnya, kenapa takdir menyeretku ke dalam masalah tak berujung ini?


"Baiklah, sekarang mungkin aku sudah siap bertarung dengan monster itu." Senapan panjang kukembalikan ke punggung, pikiran aku tenangkan sembari melangkah.


"Hei!" Suara seseorang menggema di dalam lorong. "Bisakah kita bicara?"


Langkahku terhenti, perlahan aku berbalik untuk melihat siapa orang yang memanggil di sana. "Apakah kau ada perlu denganku?" tanyaku, datar.


Orang yang kulihat sekarang tertutup oleh jubah dan tudung hitam, hingga wajahnya sekalipun tidak dapat terlihat.


Keheningan terjadi selama beberapa saat, karena terlalu membosankan, aku putuskan untuk segera mempercepat ini. "Apakah kau salah memanggil orang?"


Kesal karena terus diabaikan, aku memutuskan untuk segera berbalik dan pergi. Akan tetapi, tiba-tiba aku terdorong ke depan hingga jatuh menghantam lantai.


Kepalaku sakit, darah mulai bercucuran dari luka di kening. Kesabaranku sudah habis, orang ini seperti mau menghinaku. Jika memang begitu, aku harus segera memberikannya pelajaran berharga.


Aku melompat, berputar sembari mengarahkan senapan panjang ke sekitar. "Dia ... menghilang?"


Sungguh situasi tak terduga, bagaimana mungkin dia dapat menghilang dalam waktu singkat. Terlebih, siapa dia sebenarnya?

__ADS_1


Kutahan keinginan untuk berteriak memanggilnya, karena tempat ini masih misteri bagiku. Di mana sesungguhnya aku sekarang? Apakah ke sebuah jalur menuju api abadi?


Itu tidak mengherankan kalau aku sedang menuju tempat api abadi, sebab diriku sangat lemah sampai tak sanggup menyelamatkan teman-temanku. Penyiksaan tanpa akhir, mungkin itu merupakan tempat tercocok bagiku setelah melawan monster besar kala itu.


Pasrah pada keadaan, aku kembali berjalan menyusuri lorong. Suhu udara di sini cukup panas, mungkin dikarenakan tipisnya udara yang masuk. Ah, tidak peduli, sekarang yang terpenting adalah apa yang ada di depan sana? Harapan atau keputusasaan? Apa pun tak masalah, aku tidak peduli lagi.


Mendadak, sebuah pukulan menghantam perutku, membuat aku terpental jauh ke belakang, berguling-guling di lantai beberapa kali.


"Ak—"


Suara orang yang menyerangku tadi masih dapat terdengar walaupun tak begitu jelas. "Argh!" Perutku sungguh sakit, sampai membuat aku tak sanggup berdiri lagi.


Seiring kucoba berdiri, rasa sakitnya kian menyebar ke sekujur tubuh. Namun ... mana mungkin ini bisa menahan langkah kakiku.


Sekuat tenaga aku berdiri, mengabaikan darah yang kini keluar dari mulut. Tampak samar-samar oleh mataku, orang tadi tengah mengarahkan telapak tangan kanannya kepadaku.


Darah keluar dari mulutku, tubuh terasa remuk seolah terinjak oleh seekor monster. Akan tetapi, tekadku masih kuat, sehingga hal ini bukanlah sebuah halangan berat.


"Argh! Sakit!" Sungguh, rasa sakitnya tidak main-main. Ini seolah tubuhku dibongkar menjadi beberapa serpihan, walau kenyataannya tidak demikian.


Dalam waktu singkat, kehangatan yang sangat nyaman menyelimutiku. Rasa sakit tadi hilang sepenuhnya oleh perasaan ini. Dari arah depan, aku merasakan adanya seseorang yang menyentuh bahuku.


Sebuah bisikan dilantunkan pelan ke telingaku, "Leon ... segeralah kembali, kami memerlukan pertolonganmu."

__ADS_1


Suaranya seperti tidak asing untuk kudengar, tetapi siapa orang yang berbisik itu? Kenapa dia mengetahui namaku? Apakah dia penyihir? Atau mungkin orang berkekuatan super?


Apa pun itu, aku tidak mengerti. Lalu, kenapa dia meminta pertolongan kalau kekuatannya sendiri sudah sangat besar? Dan satu hal lagi, dia meminta pertolongan pada orang yang salah, sebab aku ini lemah.


__ADS_2