
Makhluk abu-abu ciptaan Vord hancur satu per satu diserang oleh Jahad dan Prison. Sementara Vord sendiri tengah kesusahan beradu pedang menggunakan kecepatan tinggi dengan Night. Sesekali Vord terhuyung ke belakang, tetapi masih dapat menyeimbangkan tubuh.
Suara benturan pedang masih terus menggema. Dengan kecepatan tinggi Vord melesat ke depan sambil menebaskan Pedang Zero secara vertikal. Lagi-lagi serangannya tertahan oleh Pedang Api Hitam milik Night. Ini membuat ia muak akan keadaan.
Mendadak, Vord merasakan sesuatu mendekat. Ia berbalik, tetapi seketika itu Night menebas punggungnya hingga mengakibatkan luka berat. Vord memuntahkan darah. Namun, belum cukup sampai di sana, sebuah hantaman keras melesat ke perutnya sampai membuat ia melayang jauh ke angkasa.
"Uhuk!" Vord terbatuk, darah lagi-lagi keluar dari mulutnya. Akan tetapi, sekarang bukan saat yang tepat untuk bersantai.
"Ini gila! Kecepatan serta kekuatan mereka berdua jauh lebih kuat dari sebelum tewas!" Dari depan, tampak bola berwarna biru melesat cepat pada Vord. "Ini gawat!" Walaupun tak tahu akan berhasil atau tidak, sekuat tenaga Vord menebaskan Pedang Zero untuk menghalau serangan.
***
"Semuanya, kita telah aman di sini. Tuan Vord pasti bisa mengalahkan mereka semua." Dengan penuh senyum, Starla menenangkan para warga yang berdesakan di dalam Shelter.
"Nona Starla, semuanya telah dievakuasi," ucap seorang pemuda di sebelah kanan Starla.
"Baguslah kalau begitu, Theo." Starla menghela napas berat, kemudian ia memandangi batu hijau pemberian Vord. "Kalian tetap berjaga di sini. Aku akan keluar melihat keadaan Vord."
"Baik!"
Belum sempat Starla melambai, batu hijau di tangannya seketika berubah warna menjadi merah. "Ada apa ini?" Starla segera bergegas keluar mengetahui kejanggalan pada Batu Hijau-nya.
***
Suara ledakan menggema keras di padang pasir dekat kota Heels. Debu berterbangan menutup indra penglihatan. Di dalam kumpulan debu tersebut, Vord melesat ke bawah menggunakan kecepatan penuh.
Vord menebaskan pedangnya berulang kali. Namun, Night menyadari serangkaian serangan tersebut dan memblokirnya.
Lagi dan lagi, dari dua arah, Vord merasakan Prison dan Jahad mendekat. "Hia!" Mendadak kekuatan di sekitar Vord meledak, menciptakan gelombang api yang menerbangkan tiga orang lawannya.
Sekali lagi Vord melesat ke depan. Mengayunkan pedang sekuat tenaga, tetapi Night masih bisa terus bertahan melawannya.
__ADS_1
Perlahan debu menghilang terbawa arus angin. Tampak sekujur tubuh Vord berubah warna menjadi merah. Pemuda tersebut berdiri tegap, kulitnya terlihat retak dan mengeluarkan asap panas. Bukan hanya itu, matanya juga berubah menjadi merah menyala.
Vord membuka mulut, seketika itu, terlihat taring tumbuh di giginya. Sementara jauh di depan sana, Night, Jahad, dan Prison telah berkumpul menjadi satu.
"Kalian semua tidak akan selamat dariku!" Vord melesat ke depan, ayunan pedang di tangan kanannya semakin cepat setiap waktu. "Vord, mode penghancur, Iblis Penguasa Lembah Keputusasaan!"
Jahad dan Prison melesat menyerangnya. Tapi Vord tak gentar hanya karena itu. Prison menebaskan cakar panjangnya, sedangkan Jahad menebaskan Pedang Blue Sky-nya.
Begitu tenang Vord memutarkan pedang, kedua serangan tadi pun tertangkis oleh Vord. Jahad dan Prison mundur, sementara Vord masih tetap maju.
Bersama-sama Jahad, juga Prison melesat dari depan. Vord pun berhenti, kemudian menebaskan pedang sekuat tenaga secara horizontal. Dalam sekejap mata, dua orang yang menyerangnya telah terbelah menjadi dua bagian.
"Night!" Kaki Vord terasa begitu berat, tetapi ia masih harus bertarung melawan Night. Akan tetapi, keadaan masih tak mendukung, begitu banyak Tan melesat padanya setelah para makhluk abu-abu ciptaannya lenyap.
Darah keluar dari mulut Vord. Namun, pemuda tersebut terus mengabaikannya. Beberapa Tan mendekat, dan seketika itu pula mereka terpotong menjadi dua oleh tebasan pedang Vord.
"Jangan lari kau! Hiiiaaa! Arggghhh!" Vord melompat dan mendarat tepat di depan Night. Ia pun menebaskan pedangnya sekuat tenaga.
Saat sedang beradu pedang, Vord mendadak merasakan perasaan sedih, kosong, dan hampa milik Night. Ia lantas bertanya-tanya, kenapa orang ini terlihat sangat sedih? Bukankah dia ingin menghancurkan dunia?
Mau sebayak apa pun Vord menanyakan pertanyaan tersebut dalam pikirannya, tetap tidak merubah fakta bahwa ia tidak menemukan jawaban. Tapi, walaupun demikian, bukan berarti ia harus mengalah!
"Hiiiaaa!" Pedang Api Hitam Night patah. Lalu, Pedang Zero Vord berhasil menembus dada pria tersebut. "Aku menang, Night ...."
Bukannya kecewa ataupun marah, Night justru tersenyum kala tahu Vord mengalahkannya. "Terima kasih, Vord, telah membebaskan aku dari rantai yang mengikat leherku ...."
Vord hanya diam, tak tahu harus menjawab bagaimana.
"Vord, aku ingin meminta pertolongan padamu ...." Darah perlahan keluar dari mulut Night. "Selamat anakku dari tangan makhluk itu. Aku tahu kalau tidak pantas bagiku meminta pertolongan setelah semua ini, tapi hanya kau satu-satunya harapanku."
Akhirnya Vord mengerti tentang kenapa ia merasakan kesedihan dari dalam diri Night saat beradu pedang. Kendati demikian, pemuda tersebut tidak menampilkan ekspresi apa pun di wajahnya. "Sebenarnya, aku ingin melakukan hal itu untukmu. Tapi, kurasa telah terlambat."
__ADS_1
Di sekitar, gemuruh hentakan kaki Tan telah menggema, membuat debu bertebaran mengaburkan penglihatan. Tentu saja Night sadar akan hal ini, dan ia pun menyesali semua perbuatannya hingga sekarang.
"Maafkan aku, meminta hal yang tidak mungkin ...." Night sudah pasrah, tarikan napasnya juga melambat seiring waktu.
"Aku tidak bilang kalau tak ada yang bisa menyelamatkannya kan?" Vord tersenyum, lalu perlahan mencabut pedang di dada Night. "Setelah ini, kita hanya perlu menyerahkan semua masalah padanya. Dia memang harus membalas budi."
Meskipun tidak tahu siapa yang dimaksud, Night tersenyum hangat mendengar ucapan Vord. "Terima kasih, Vord."
***
Berada di ambang kematian memang sangat menakutkan, bahkan walau tahu akan tetap mati, Night masih memiliki tekad untuk hidup. Ia terus bertanya-tanya, apakah semua yang ia lakukan hingga sekarang sampai menghianati, membunuh semua teman serta kerabatnya memiliki arti? Memang benar ia melakukannya demi melindungi sang putri, tetapi setelah ia mati, akankah orang yang ia lindungi tetap hidup?
Mana mungkin Night mengetahuinya. Ini semua membuat ia kembali teringat pada masa lalu.
Waktu itu, petir bergemuruh, kilat menyambar-nyambar kala langit tertutup awan hitam. Di saat itu, Night melihat makhluk dengan mahkota di kepala tengah melayang di atas sana. Tahu kalau makhluk itu penyebabnya, ia lantas melesat ke atas penuh percaya diri.
Hanya dalam waktu beberapa menit, semuanya usai. Kilatan petir besar seketika menyambar perkampungan kecil di bawah sana.
Night menjerit, tetapi makhluk besar dengan mahkota yang menangkapnya menatap ia dengan dingin. Tak lama setelah itu, seorang gadis yang sudah tak sadarkan diri melayang tepat di depannya.
"Apakah dia putrimu?" tanya makhluk itu.
Night terdiam, tak dapat menjawab apa-apa. Matanya terbelalak lebar, ketakutan jelas menghantui benaknya.
"Aku takkan menyakitinya, kau tenang saja. Tapi, kau harus mengabdikan diri padaku seumur hidup ...."
Tanpa ada rasa ragu, Night mengangguk, menyatakan persetujuan.
Dada Night sesak saat mengingat itu semua. Tak sanggup lagi ia menahannya. Akan tetapi, kalimat terakhir dari Vord berhasil menariknya keluar dari ingatan tersebut dan melihat ingatan lain. Itu adalah senyum indah dari putri kecilnya.
××××
__ADS_1
Are you still need any drama here?