
“Jangan kira kau dapat mengalahkan kami semudah itu, Leon.”
Dinding es langsung membentang di sekitar mereka, tetapi, itu tidak akan cukup untuk menghalau seranganku. Dengan menggambungkan bayangan dan energi murni, Verx saja tak sanggup menahan tebasan pedangku, apalagi hanya es biasa. Tentu saja lebih mudah.
Dinding es mereka hancur, tetapi kedua orang itu langsung melompat ke samping, di mana bangunan lainnya berada. Mungkin lebih baik jika kami memecah mereka berdua, dan Darwis sepertinya tak masalah menghadapi Creeps si pengguna es.
Aku memandang Darwis sesaat, kemudian mengangguk sebagai isyarat. Dia mengerti, dan segera membuat sebuah sayap di punggungnya, lalu melesat ke arah Creeps. Aku masih hanya memakai energi murni serta memanfaatkan tekanan udara supaya bisa melesat cepat ke arah Lize.
Jalur aku dan Darwis berbeda, karena Lize dan Creeps berpencar saat seranganku hampir mengenai mereka. Aku membentuk sebilah pedang di tangan kanan, lalu melesat dengan cepat ke arah Lize. Gadis itu hanya bergeming, tetapi sesaat setelah dia menjentikkan jari, tiba-tiba dia menghilang dari pandanganku.
“Di mana dia?” Sontak kulirik sekitar untuk mencari keberadaannya. Namun nihil, dia tidak dapat kutemukan.
“Siapa yang kau cari?”
Aku langsung sadar kalau dia ada di atasku sekarang. “Sial!”
Atap rumah langsung roboh ketika tubuhku dihepaskan oleh Lize. Sakit menyebar ke sekujur raga, pandangan masih buram, dan sekitarku dipenuhi oleh debu yang berterbangan. Kucoba untuk bangkit berdiri, beruntung pelindung serta jirah bayang masih melindungiku, kalau tidak, mungkin aku sudah lumpuh sekarang.
Gadis tadi berdiri tepat di hadapanku sekarang, aku bangkit mengabaikan semua rasa sakit di sekujur tubuh. Posisiku sedikit membungkuk, tetapi pandanganku tidak lepas darinya. Mulai saat ini aku harus lebih waspada.
Dia sedikit tersenyum sinis kepadaku. “Leon, lebih baik kau menyerah dan biarkan aku membunuhmu tanpa perlawanan.”
__ADS_1
“Percepatan dan energi murni yang melapisi tubuh, ya? Haha, menarik, tetapi aku tidak akan mau mati tanpa melakukan perlawanan. Jika kau ingin aku mati, maka kalahkan aku. Atau ...,” segera kulemparkan pedang yang ada di tangan kananku, “kau yang akan mati!”
“Bodohnya dirimu.” Lize mengangkat tangan kanannya, lalu menebas pedang yang kulemparkan.
“Kau yang bodoh.” Aku yang telah berada di hadapannya langsung menjulurkan cakarku ke depan, bayangan di ujung cakar pun berubah menjadi jarum besar, lalu menusuk perut Lize.
Lize menghilang dari hadapanku. Aku menegakkan tubuh dengan benar, pedang bayang yang kulemparkan tadi sudah menghilang juga. Kupandangi darah yang menempel di ujung cakar bayangku. “Dengan ini, apakah dia akan tamat. Haha, tentu saja tidak, manusia Evolusi itu sangat menyebalkan karena dapat beregenerasi.” Aku memalingkan pandangan ke samping kiri. “Benarkan, Lize?”
Tubuh seorang gadis terbaring di lantai setelah aku menyebutkan namanya. Di sana juga berdiri bayangan diriku menusuk jantung gadis tersebut menggunakan pedang bayang. Entah sejak kapan aku merasa mahir menggunakan Teknik Manipulasi Bayangan ini, tetapi yang jelas, kemampuanku berada di atas rata-rata.
Tiba-tiba pandanganku bergoyang, bayangan diriku juga telah menghilang. “Eh? Apa ini?” Sekujur tubuh begitu lelah, napas terengah, semua tenaga rasanya telah terkuras. Kemudian, aku terjatuh tak sadarkan diri. Ternyata menggunakan banyak energi dari kristal memliki efek samping seperti ini.
***
Di tepi tebing tersebut, seorang gadis berambut panjang dengan gaun putih sedang duduk menatap matahari terbenam. Tanpa sadar aku memandanginya terlalu lama, kemudian berjalan lalu duduk di sebelah gadis itu. Embusan angin begitu menyejukkan tubuh.
“Di sini cukup sejuk, ya, Ellise.” Aku tidak peduli lagi apakah mimpi ini akan sama buruknya dengan yang pernah kualami. Atau bisa saja aku telah mati sekarang, makanya dapat duduk bersama lagi dengan gadis ini.
“Ya, sangat sejuk, hingga aku ingin sebuah kehangatan.” Ellise menyandarkan kepalanya di atas bahuku. Kehangatan langsung memenuhi hatiku yang telah kosong.
Saat itu, aku takut untuk menemui Ellise lagi, sehingga menyuruhnya pergi dengan kasar. Namun, sekarang aku telah membalaskan dendamnya, mau hidup ataupun mati, itu bukan masalah lagi bagiku. Pikiranku sudah sedikit lebih tenang setelah beban balas dendam tersebut tuntas, walaupun yang kurasakan setelahnya hanyalah kekosongan.
__ADS_1
“Hei, tidakkah kau ingin mendapatkan ingatanmu kembali, Leon?”
“Sekarang sudah terlambat untuk mengatakannya. Sepertinya aku telah mati dan datang ke sini. Aku sangat tidak menyangka mimpi setelah kematian adalah hal yang sangat nyaman.”
Dulu, aku pernah berpikir untuk berpaling dari Ellise dan bersama dengan Lize. Namun, perasaanku tidak mau menerimanya. Bagaimanapun cara Lize untuk membuat hatiku luluh, semua itu sia-sia. Aku merasa menjadi seorang brengsek yang hanya bisa mempermainkan perasaan seorang wanita. Menyedihkan.
“Tapi, kau masih belum boleh di sini, Leon.” Ellise berdiri kemudian menatap wajahku dari depan.
“Apa maksudnya itu ... aku telah lelah untuk hidup.”
“Tidak!” Gadis itu menegakkan kepalaku, lalu tersenyum, dan ... sekujur tubuhku langsung lemas sesaat setelah menerima ciumannya. Dia pun menjauhkan wajanya dariku. “Kau masih memiliki tugas penting.” Senyuman yang kulihat itu sangat manis.
***
“Hah ... hah, hah, hah ....” Tarikan napasku begitu berat, keringat langsung membasuh sekujur tubuh. Pandangan mataku tidak buram lagi, tetapi rasa lelah masih menghantui.
“Ternyata, tadi itu adalah mimpiku yang paling indah.” Kupaksakan tubuh yang lelah untuk berdiri, kemudian energi jiwa kualirkan ke sekujur tubuh supaya dapat menghilangkan rasa lelah itu. “Ellise, kau benar, aku masih memiliki hal yang perlu diselesaikan. Maafkan aku belum bisa bersamamu selamanya di sana."
Tak lama, sebuah ledakan besar terjadi dari luar rumah tempat aku berada sekarang. Jirah bayang kembali terbentuk di sekujur tubuh, dan mentalku jauh lebih siap dibandingkan sebelumnya. “Sebaiknya kuselesikan urasan di sini dengan cepat.” Sebilah pedang besar terbentuk di tangan kananku. “Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Creeps.”
Dengan satu kali tebasan, rumah tempat kuberada langsung hancur, terbelah menjadi dua bagian. Energi murni langsung membungkus diriku, kemudian aku melayang ke udara dengan ringannya. Tidak jauh di depan sana, dua orang tengah bertarung. Itu adalah Darwis dan Creeps. “Sudah kuduga kalau apimu itu tidak akan kalah dari air, Darwis.”
__ADS_1