
Berhenti memikirkan hal rumit, sekarang Leon hanya terus memantau sekitar, memastikan semuanya aman. Jika tetap bergerak seperti ini, menempuh jarak satu kilometer bukanlah perjalanan panjang. Setidaknya itu yang dipikirkan Leon sebelum ini.
Mereka terhenti kala kabut mendadak muncul entah dari mana. Segera Leon membuat pelindung, melingkupi mereka semua seperti ditutup oleh tempurung besar. Kabut tebal tadi entah bagaimana terasa familiar bagi Leon, tetapi ia tidak tahu apa itu.
Mengabaikan hal tersebut, Leon menarik napas panjang dan melirik teman-temannya. Wajah mereka datar, tetapi sangat jelas terlihat kalau saat ini mereka dalam posisi waspada. Tegang, begitu tenang serta sunyi. Tanpa ada suara selain bunyi helaan napas.
“Kita harus segera keluar dari sini. Tampaknya sekarang akan bahaya terus berada di sini.” Leon mencoba memikirkan sesuatu. “Apakah kejadian seperti ini memang lazin di Lembah Evolusi?”
“Tidak ... aku sedikit ragu, tapi seharusnya Lembah Evolusi adalah tempat yang aman dilalui. Mungkin sedang terjadi keabnormalan saat ini,” jawab Sun.
“Yeah, Sun benar. Dulu kami sering melewatinya, dan tidak mendapatkan masalah apa pun.” Sasa menyetujui.
“Jadi ... apa yang menyebabkan kita berada dalam situasi ini ...?” Mengumpulkan semua informasi, Leon masih belum juga bisa menebak penyebab dari kejadian aneh di Lembah Evolusi ini.
“Kurasa ... penyebabnya adalah kau, Leon.”
Seketika Leon tersentak kala Ni mengatakan kalimat tersebut.
Dengan ragu, Leon berpaling dan menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” Ucapannya terhenti sejenak. “Kenapa kau bisa berpikir begitu?”
“Aku kurang yakin, kurasa itu hanyalah firasat saja. Lupakan.”
“Kita pikirkan itu nanti.” Sun lantas menyela. “Sekarang kita harus secepatnya keluar.”
“Oke, aku akan sedikit meng— argh!” Rasa sakit luar biasa dalam sekejap membuat Leon tak berdaya menggunakan kekuatannya. Pelindung bayang miliknya pun perlahan hilang. “Sial! Tubuhku masih belum sembuh sepenuhnya.”
“Jangan memaksakan diri, Leon.” Sasa dengan sigap memberikan pertolongan pertama memakai kekuatan penyembuhnya pada Leon.
Napas Leon begitu terengah, keringat bercucuran membasuh sekujur tubuhnya. Seketika itu pula kabut menyelimuti mereka. Namun, mereka berkumpul mendekati Leon agar tidak terpisah-pisah.
Dingin, harum serta wangi, membuat Leon hampir kehilangan kesadaran ketika menghisap kupalan kabut putih tadi. Kesadarannya sedikit demi sedikit menghilang. Kepalanya pusing, dan pendangannya berputar-putar.
“Sial ....”
Walaupun Leon masih bisa memertahankan kesadarannya, tetapi teman-temannya tidak. Hanya Leon seorang diri yang masih mampu membuka mata meski kepalanya sangat pusing.
“Tuan ....”
__ADS_1
Sebuah suara dari depan membuat Leon menegakkan kepala. Kabut perlahan menghilang di hadapannya, menampakkan sosok tengkorak tinggi berwarna putih. Leon tak mampu berkata-kata, tetapi entah karena apa ia tidak lagi merasa hendak pingsan.
“Kau ..., siapa?” tanya Leon, pelan.
“Tuan, apakah Anda akhirnya kembali untuk membalaskan dendam kami kepada Makhluk Fantasi?”
“Aku tidak mengerti apa maksudmu?”
“Apakah pada akhirnya kau melupakan kami?” Di belakang tengkorak hidup tadi, terlihat beberapa tengkorak lagi yang datang mendekat.
“Hah? Aku sungguh tak mengerti. Tapi, aku pasti akan menumpas habis para Makhluk Fantasi brengsek yang hendak mengambil alih dunia manusia.”
Mendadak saja, sekumpulan tengkorak di hadapan Leon membungkuk. “Selama Anda masih memiliki tekad itu, maka kami tidak masalah dilupakan oleh Anda. Jadikan kami tameng Anda, Tuan ....”
“Itu, sebenarnya tak perlu ....” Leon melambaikan tangan. “Kalian, berdirilah dengan tegak.”
“Baik, Tuan.” Serempak para tengkorak menuruti perintah Leon begitu saja.
Leon tersenyum canggung, bingung kenapa para tengkorak memanggilnya tuan.
Ellise, apakah kau tahu sesuatu?
Jangan menyimpan rahasia lagi. Katakan semuanya padaku sekarang.
Meskipun kau memaksa, aku juga tidak tahu harus menjawab apa.
Kau pembohong! Jangan mempersulit situasi!
Bukan aku, tapi kau yang mempersulit sesuatu.
Cih!
Tampaknya Leon menjadi kesal pada Ellise, tetapi gadis itu hanya menampilkan ekspresi datar. Ia melakukan kebohongan ini bukan tanpa alasan, karena memang belum waktunya Leon mengetahui semuanya.
Ellise menghela napas sejenak. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa harus segera memberitahu Leon. Namun, kalau ia melakukannya, maka tugasnya akan gagal. Pada akhirnya, Ellise harus tidak terbawa suasana karena alat tetaplah alat yang tak berperasaan.
***
__ADS_1
Mendengar Ellise hanya memutar pembicaraan tanpa langsung ke intinya membuat Leon sangat kesal. Sekarang ia tidak tahu harus tetap percaya pada Ellise atau terus maju tanpa memercayai siapa pun. Lagi-lagi, pemuda ini teringat pada Wolf yang terlihat tak acuh, tetapi dapat dipercaya.
“Tuan, adakah hal yang bisa kami lakukan untuk Anda sekarang selain menyambut?”
Ucapan salah satu tengkorak membuyarkan lamunan Leon. “Oh iya, untuk sekarang aku dan teman-temanku harus pergi ke Menara Harapan.”
Mendengar nama menara harapan, para tengkorak terlihat tidak terlalu senang. Namun, mereka tidak bertanya lebih lanjut tentang alasan kenapa Leon ingin ke sana.
“Jika itu keinginan Tuan, maka kami tidak akan menghalangi. Maafkan kami karena menyerang Anda menggunakan bebatuan dan kabut putih ini.”
“Ah, tidak perlu dipikirkan. Lagipula, melindungi Lembah Evolusi ini tugas kalian, kan?”
“Sepertinya Anda sudah jauh berbeda dari yang kami kenal. Tapi, bukan masalah selama Anda adalah Tuan yang baik untuk kami.”
“Ahaha.” Leon menggaruk kepala karena tidak tahu harus bagaimana. “Kalian terlalu memujiku.”
“Hm, sepertinya ucapan Anda ada benarnya ....”
Serentak para tengkorak menganggukkan kepala.
“Apa maksud kalian?” Leon langsung menjadi malu di hadapan para tengkorak.
“Baiklah, tampaknya kita harus berpisah lagi sampai waktu itu tiba. Jika Anda memerlukan bantuan, silakan hubungi Tusk yang setia mengabdi pada Anda ini.”
Mengikuti tengkorak bernama Tusk, tengkorak lainnya pun memberikan hormat. Bagaikan sebuah mimpi, kabut menghilang bersama dengan para tengkorak tadi. Leon masih bertanya-tanya di pikirannya, kenapa ia sangat dihormati oleh para tengkorak tadi.
Lembah Evolusi yang tadinya gelap kini diterangi oleh cahaya matahari. Sepertinya kegelapan barusan diakibatkan oleh suatu teknik, tetapi Leon dan yang lainnya tidak menyadarinya.
Tak lama berselang, Sun, Sasa, dan Ni akhirnya sadar. Leon melirik mereka sejenak lalu melihat ke atas. Ia tidak habis pikir, kenapa begitu banyak rahasia yang belum terungkap tentang masa lalunya. Jika saja Ellise mau membuka mulut, mungkin sekarang ia akan menjadi lebih tenang.
Leon menggelengkan kepala. Sementara kemudian Sun perlahan melangkah maju. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Sun menerawang sekitar.
“Tidak ada. Hanya saja, sepertinya kalian terkecoh oleh suatu teknik.” Begitu tenang Leon menjawab.
“Ternyata begitu ... sepertinya teknik itu membuatku berpikir kalau kita sebenarnya sedang berada dalam Lembah Evolusi ketika malam hari, tetapi faktanya berbeda.”
“Seperti itulah. Sekarang lebih baik kita segera keluar. Setelah ini tak akan ada lagi halangan. Kita bebas untuk pergi.”
__ADS_1
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa halangan.