The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 9 : Rubah Licik


__ADS_3

Suasana begitu segar dipenuhi oleh harmoni kicauan burung yang merdu membuat hati menjadi tenang. Aku mendongak ke atas sambil memandangi dedaunan yang tertiup oleh angin. Tidurku sangat nyenyak semalam membuat badan menjadi lebih nyaman. Melirik ke sebelah kanan, mata ini dapat melihat Lize sedang memakan roti dengan perlahan.


“Mm ... Lize,” kataku memulai percakapan.


Lize memalingkan pandangan ke arahku. Matanya yang berwarna biru lantas menatap mata ini. “Ada apa?” Dia bertanya.


“I-tu ... bagaimana aku mengatakannya ya? Mm ... kenapa kau mau ikut bersama dengan kami dan bukan mengikuti Andrew dan kelompoknya?”


Sebenarnya aku sungguh tidak nyaman menanyakan hal itu. Namun, ini sangat penting untuk dapat mengetahui alasannya. Aku tidak mau jika harus ditikam dari belakang seperti sebelumnya.


Memalingkan wajah ke arah lain, Lize yang tadinya bersikap tenang kini gemetaran mendengar pertanyaanku. Tindakannya ini sangat sulit untuk diartikan, walaupun bisa saja aku menganggap dia adalah mata-mata, tetapi diriku tidak yakin akan hal tersebut.


Melihat Lize kesulitan untuk menjawab, aku pun mengabaikan pertanyaanku beberapa saat lalu, kemudian berdiri. “Sudahlah, lupakan saja perkataanku barusan.” Akhirnya kuputuskan pergi saja.


Beberapa saat berjalan, aku menghentikan langkah kaki karena merasa ada yang mengekor. Dan benar saja, orang itu menabrakku dari belakang sebab aku berhenti secara mendadak. “Aduh,” ucapnya.


Segera aku memalingkan pandangan ke belakang dan melihat seorang gadis yang tidak lain adalah Rias yang tengah mengusap kening. Kutatap gadis itu, lalu berkata, “Membuntuti orang itu tidak baik, Rias.”


“Ehehe, maafkan aku.”


“Tidak masalah,” jawabku tak acuh. “Jadi kenapa kau membuntutiku?”


“Sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak bersama dengan Lize, jadi aku mengekor di belakangmu saja, ehehe.” Rias memutar-mutar poni panjangnya. “Tidak boleh?”


Ampun ... bagaimana mungkin aku bisa menolaknya jika dia bersikap manis seperti itu. Kuhela napas dan menyetujui permintaannya. “Baiklah, kamu boleh ikut.”


“Hore!” Rias berteriak kegirangan.

__ADS_1


Mengabaikan Rias yang sedang girang, aku kembali melangkahkan kaki menuju ke sebuah pohon dengan lubang besar di tengahnya. Perlahan aku memasukkan tangan kananku ke dalamnya dan menemukan ro-- tidak, ini berbeda. Apa yang kuambil sekarang bukanlah roti melainkan sebuah kotak berwarna putih pucat.


“Apa ini?” gumamku sembari membuka kotak tersebut. Seketika aku mendengus kesal ketika mengetahui kalau isi dari kotak itu adalah roti yang sama seperti yang selalu kutemukan sebelumnya. “Ah, sudahlah, daripada aku mati kelaparan.”


Tanpa memperhatikan sekitar, aku lantas melahap roti di dalam kotak tersebut. Tidak ada rasa yang istimewa, roti itu hambar tetapi dapat mengenyangkan perut. Dan karena aku sedang lapar, makanya roti itu juga terasa enak untuk dimakan.


Sejenak aku berhenti mengunyah karena merasa terganggu ditatap terus menerus oleh Rias. Memotong rotiku menjadi dua bagian, kuberikan setengahnya kepada Rias. “Nah, ambillah ....” Kujulurkan roti itu kepada Rias, lalu membuang kotak putih tempat roti tadi.


Berkeliling mencari makanan di dalam hutan. Tenggorokanku menjadi kering karena belum minum sejak pagi. Berjalan lurus ke depan, aku dan Rias akhirnya menemukan sebuah danau kecil dengan air jernih. Menerawang ke sekitar danau tersebut, mata ini melihat Mischie dan Lize yang tengah mengambil air dengan menggunakan botol. Segera aku mempercepat langkah untuk bertemu dengan mereka.


“Hei!” sapaku pada mereka.


“Halo, Leon!” balas Lize.


Hanya Lize yang membalas sapaanku, sedangkan Mischie masih terus memasukkan air danau ke dalam beberapa botol yang dijejernya di tepian danau. Tak jauh dari deretan botol itu, terdapat sebuah tas berwarna hitam. Aku sangat yakin kalau tas itu digunakan untuk membawa botol-botol berisikan air.


Mengabaikan tegurannya, masih tetap kuteguk air di dalam botol sampai akhirnya Mischie kesal dan merampas botol itu dariku. “Kau seenaknya saja meminum botol yang sudah kuisi. Di sana kan masih banyak, kenapa kau masih saja menghabiskan air yang ada di dalam botol?”


Dia sangat sensitif, ini artinya dia masih kesal karena perbuatanku kemarin. Padahal aku kan hanya bercanda, tapi kenapa dia malah kesal hingga sekarang. Tingkahnya benar-benar mirip seperti seorang gadis saja. Bahkan mungkin seorang gadis tidak seperti ini.


“Haih ... ternyata kau memang masih kesal padaku, ya.”


“Hm, siapa yang kesal?” Mischie menjawab dengan tak acuh sembari kembali mengambil air. Dia tampaknya tidak terlalu peduli akan kehadiranku. Hanya saja, entah kenapa aku merasa ada yang berbeda darinya. Namun, aku tidak tahu apa itu.


Melamun sejenak, aku pun teringat pada teman-temanku yang lain. “Mereka ... bagaimana, ya, keadaan mereka sekarang?” gumamku sambil menatap langit biru cerah.


“Ternyata kau juga teringat pada mereka, ya?” Mischie menyahut kala mendengar gumamanku.

__ADS_1


Kulirik Mischie yang berkata sambil mengambil air itu. Dari sini, aku akhirnya mengerti kenapa dia sangat sensitif. Aku benar-benar merasa bersalah telah salah sangka padanya. Hal ini membuatku menjadi malu sendiri.


“Hei, Mischie!”


“Hm, apa?”


“Jika seandainya semua ini berakhir, apa yang akan kaulakukan ke depannya?”


Mischie berdiri sambil menutup botol yang baru saja dia isi dengan air. “Bukankah sudah jelas! Aku akan menjalani hari-hari menyenangkan dan melupakan semua yang telah kulalui di sini.”


“Haha, kau benar. Aku memang bodoh karena telah menanyakan hal itu. Haha, maafkan aku.”


“Kau tidak perlu minta maaf.”


Seusai mengatakan itu, Mischie bergegas memasukkan beberapa botol air tadi ke dalam tas hitam yang ada di dekatnya. Aku tersenyum tipis sebab hari ini aku merasa sangat santai tanpa ada beban sedikit pun di pundak. Dan aku berharap, hari-hari berikutnya pun akan berjalan seperti ini juga.


Sebelum aku sempat berharap lagi, tiba-tiba sebuah ledakan keras menggelegar di telinga hingga membuatku menutup telinga dengan kedua tangan. Aku tertunduk, mata ini terpejam tak kuasa mendengar dentuman itu. Kesadaranku seolah ingin keluar dari raga, kepala ini menjadi semakin pusing dan tubuh bergerak tak karuan.


Suara itu mereda, kubuka mata perlahan, tapi pandangan berkabut, dan akhirnya kembali dapat melihat dengan jelas. Mendongak ke atas, mataku terpana melihat asap besar menyembur ke atas membentuk sebuah awan besar. Beberapa saat kemudian, debu-debu mulai bertebaran dari arah yang kulihat.


Apa yang tengah terlihat olehku saat ini adalah sebuah penomena gunung meletus. Namun, untungnya gunung itu terletak jauh di depan sana. Kalau saja saat ini kami sedang berada di kaki gunung tersebut, aku tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.


Seolah membawaku keluar dari ruang pikiran, Lize menarik tangan ini dan berjalan mengekor di belakang Mischie. “Ayo cepat!” Lize berkata dengan perlahan kepadaku sambil terus berjalan.


Daripada dibilang suasana tegang, apa yang terjadi kini mungkin bisa dikatakan situasi canggung. Tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Kami hanya terus melintasi pepohonan rimbun. Aku sungguh tidak mengerti dengan kondisi saat ini.


Apakah letusan itu sebuah pertanda? Atau mungkin ini akan menjadi babak baru kami? Namun yang jelas, ini bukan hal baik.

__ADS_1


__ADS_2