
Embusan angin malam menerpa tubuh, aku masih bergeming menatap dengan waspada kepada orang yang ada di hadapanku. Dia tampak memasang kuda-kuda untuk menyerang, tetapi aku juga melakukan hal yang sama. Salah sedikit saja, nyawa bisa melayang sekarang. Beruntung, sayap bayangan di punggungku dapat digunakan untuk melayang. Jadi, kesempatan untuk mengelak juga meningkat.
Tangan kiri kurentangkan, sedangkan tangan kanan menggenggam erat pedang bayangku. Ada sedikit rasa dingin yang merembes dalam tubuh, tetapi hal itu membuat kekuatanku seperti meningkat. Mungkin ini adalah proses penyerapan energi, walaupun sebelumnya, saat pertama kali memakai kristal, rasanya begitu hangat.
“Hia!” Orang berjubah melancarkan serangan bola cahaya birunya kepadaku. Namun, aku segera menebaskan cakarku secara vertikal, dari kiri ke kanan.
Lima buah garis setengah lingkarang tercipta dari tebasanku, lalu meluncur dengan cepat ke arah orang berjubah. Sayap kubentangkan, dalam satu kipakan aku telah melayang di udara. Ledakan akibat hantaman kedua serangan pun terjadi, debu mulai berterbangan menutupi pandangan. Dari dalam kumpalan debu tersebut, bola cahaya berwarna biru muncul kembali.
“Sudah kuduga.” Aku menyunggingkan senyum tipis, kemudian menebaskan pedang bayangku ke udara berkali-kali.
Hal yang sama terjadi berulang kali, aku pun menjadi semakin waspada karena situasi ini. Tak lama, orang berjubah melompat dari dalam kabut, pedang cahaya birunya ia angkat ke atas, bersiap untuk menebasku secara horizontal. Namun, dia masih terlalu naif untuk dapat mengalahkan aku.
Cakar dan pedang kutebaskan ke udara secara bergantian, garis melengkung setengah lingkaran meluncur ke arah orang berjubah tersebut. Sekali lagi sayap bayangan kukepakkan, mendorong aku mundur menjauh dari orang itu.
Sama seperti sebelumnya, lagi-lagi orang itu berhasil mengelak dengan mundur ke belakang menggunakan suatu dorongan tertentu. Apakah dia mempunyai sayap sepertiku, atau mungkin sangat mahir dalam memanipulasi energi sehingga dapat menggunakannya sesuka hati?
Tak kusangka, dia juga bisa melayang seperti aku walaupun tidak menggunakan sayap. Ini lebih terlihat kalau dia memanipulasi garvitasi yang ada di sekitarnya. Mungkinkah energi murni yang dia maksud bisa digunakan seperti ini? Akan tetapi, entah kenapa aku merasa ada yang aneh di sini.
“Kau benar-benar lawan yang menyusahkan, Leon.”
Pedang cahaya berwarna biru milik orang itu tiba-tiba lenyap. Kemudian dia mulai melepaskan jubah yang menutupinya. Tampak dengan jelas kalau dia memliki senjata api di tubuhnya setelah melemparkan jubahnya ke tanah. Rambut biru pendeknya terlihat sangat mencolok di malam hari yang diterangi sinar bulan.
__ADS_1
“Sudah sejak tadi aku ingin menanyakan hal ini,” kataku masih menatap mata orang itu, “dari mana kau bisa tahu namaku?”
“Hahaha,” orang itu terkekeh ketika mendengar pertanyaanku. “Kau sudah menjadi incaran kami sejak Andrew tertarik padamu, Leon. Sebenarnya kami tak ingin ikut campur dalam pertarungan Klan yang merepotkan ini, tetapi keadaan sudah terlalu mendesak.”
Mendadak, dia mengambil dua buah pistol di pinggangnya, lalu menyerangku. Aku pun langsung membuat sebuah perisai dari bayangan. Serangannya berhasil kutangkis dengan mudah, seperti tidak ada yang terjadi. Akan tetapi, tekanan di perisaiku semakin bertambah. “Sial, dia menggunakan kekuatannya.”
Dari berbagai arah, bola cahaya berwarna biru langsung melesat ke arahku. Mau tidak mau aku kembali membuat pelindung sempurna seperti sebuah telur untuk menghalaunya. Hantaman pada pelindungku semakin kuat, tetapi tetap kucoba untuk mempertahankannya.
“Tidak bisa seperti ini terus.” Segera aku meledakkan pelindungku, membuat serangan orang tadi berpencar ke mana-mana.
Sayapku masih berfungsi normal, sehingga aku dapat mempertahankan diri melayang di udara. Kemudian energi yang terkumpul di dalam kristalku, langsung terlepas dan mengelilingi tubuhku. Jadi, ini yang dia maksud energi murni.
“Mengejutkan,” orang tadi menciptakan pedang cahaya berwarna biru, tetapi ukurannya juah lebih besar dari sebelumnya, “kau bahkan bisa menggunakan energi murni.”
Bukan hanya kau yang terkejut, aku juga sama dengamu. Entah kenapa aku merasa bisa melakukan apa pun selama pikiranku tenang kembali ataupun saat terdesak. Ini seperti aku sudah terbiasa menggunakannya.
“Mati!” seru orang itu sembari berlari dan menebaskan pedangnya padaku secara vertikal.
Tentu, aku tidak mungkin mau hanya diam menunggu maut menjemput. Aku pun menebaskan pedangku ke depan dari bawah ke atas untuk menahan serangannya. Sesaat, pedang kami bersentuhan, tetapi pedang cahaya milik orang tersebut tiba-tiba lenyap terserap oleh pedang bayangku.
Memanfaatkan sedikit celah, cakar di tangan kiri langsung kugunakan untuk menebas tubuhnya. Walaupun dia berusaha menghindar secepatnya, seranganku masih dapat melukai tubuhnya cukup dalam. Ketika jarak kami cukup jauh, dia menahan pendarahan dari luka yang ada di bagian dadanya.
__ADS_1
“Sial! Sial! Sialan kau, Leon!” Orang itu tampak kesal. Dengan cepat dia membuka topengnya. Di saat yang sama, mataku terbelalak lebar melihat siapa dia sebenarnya.
“Ro-Roman ....”
“Hahahaha, kau masih ingat aku ternyata, Leon.” Napas Roman begitu terengah menahan rasa sakit dari lukanya. “Leon ... kau sudah cukup kuat, aku tadi hanya ingin mengujimu, jadi jangan dipikirkan.”
Aku bergeming, pedang bayangan di tangan kananku terarah ke bawah. Roman ... Roman ... nama itu teringiang dalam kepalaku. “Roman!”
Segera aku melesat ke depan, mengayunkan pedangku tepat kepada Roman. Dia masih hendak mundur, tetapi cakarku langsung kuayunkan sehingga tangan kanannya putus. Masih belum sempat Roman menghela napas, pedangku langsung menusuk kepalanya, menembusnya lalu memotongnya menjadi dua bagian.
Tubuh Roman jatuh terbaring ke tanah, pedang bayangku pun menghilang dalam waktu yang bersamaan. Kulit tubuhku terkena darah pemuda tersebut. Aku menunduk, memandangi tubuh Roman yang tidak lagi utuh akibat seranganku yang brutal.
“Ellise ... sekarang aku telah membalaskan dendammu. Isthirahatlah di sana dengan tenang.”
Gemuruh hujan langsung turun dari langit, beberapa kali petir menyambar, mengakibatkan suara dentuman yang begitu keras. Aku pun turun untuk memeriksa dengan saksama tubuh Roman setelah menerima seranganku. Meskipun telah berhasil membalas dendam, apa yang kurasa hanyalah kehampaan.
Aku menggeleng beberapa kali. Ini yang terbaik, Leon. Tidak perlu pikirkan apa pun lagi. Salah satu tujuanmu telah tercapai, jadi kau seharusnya bahagia. Ya, itu benar, ini demi Ellise. Sebuah senyuman hampa pun, terbentuk di bibirku.
“Oh iya.” Tiba-tiba aku teringat pada sesuatu. “Di mana mahkluk jadi-jadian itu?”
Hujan mulai reda sedikit demi sedikit, ketika melirik ke sekitar, mataku tidak menemukan orang yang kucari. Jika melihat dari awal kejadian, seharusnya ada lebih dari satu orang yang menyerang kami. Namun, paling banyak tiga orang, tidak lebih. Karena semisal ada lima orang saja, maka sangat logis kalau mereka akan mengepung kami dibandingkan membuat kami berpencar.
__ADS_1