
Terik matahari begitu menyengat, keringat membasuh habis tubuh 3 orang remaja yang kini berjalan menuju sebuah gedung tua. Di barisan terdepan, Leon melangkahkan kaki terus bergerak melawan lelah. Ini adalah hari ketiga semenjak Leon, Sun, dan Sasa meninggalkan kota.
Dengan napas terengah-engah, mereka bertiga terus maju hingga akhirnya sampai di depan gedung tua tak terpakai. Tanpa menunggu lebih lama, dipimpin oleh Leon ketiganya masuk ke dalam gedung. Akhirnya Leon dapat bernapas lega usai menghadapi teriknya sinar matahari pada siang hari ini.
Seketika mereka bertiga terduduk di lantai gersang penuh debu ini tanpa menghiraukan sekitar. Tempat berteduh ini bagai penyelamat bagi mereka karena pada akhirnya dapat beristhirahat. Namun, kewaspadaan tetap harus melekat di dalam pikiran jikalau tidak ingin mati sia-sia.
“Haah ... haah ... haah ....” Sun masih sangat kesusahan mengontrol tarikan napasnya. “Kenapa kau memaksa ikut dengan kami, Sasa?”
“Haah ....” Sasa mencoba perlahan-lahan bernapas secara normal. “Karena aku adalah penjagamu, Sun ....”
“Penjaga, hah? Sejak kapan kau jadi penjagaku?” Masih dalam keadaan belum bisa bernapas dengan benar, Sun meneriakkan kata-kata itu.
“Sejak aku memutuskannya. Aku selamanya adalah penjagamu.”
“Kalau memang begitu, kenapa kau tidak menuruti perintahku untuk tetap tinggal?”
“Aku penjagamu, bukan pelayan yang menerima perintahmu.”
“Siapa yang menyuruhmu melakukannya? Katakan!”
Akhirnya Sasa dapat bernapas dengan normal lagi. Dia memalingkan pandangan, menatap wajah Sun. “Hatiku ....”
“Cih!” Tidak tahu harus menjawab apa, Sun lantas memalingkan wajah ke arah lain.
Sementara itu, Leon hanya diam memerhatikan mereka. Ia menundukkan kepala sembari memejamkan mata. Ellise ... apakah tepat membawa mereka bersamaku untuk menebus dosaku? Apakah itu tindakan yang pantas?
Kau tidak membawa mereka, Leon .... Ellise menghela napas untuk menjeda kalimatnya, tapi mereka yang seenaknya mengikutimu.
Angin di luar sana tengah berembus kencang menerbangkan debu. Perlahan Leon bangkit kemudian menatap ke celah bangunan untuk melihat situasi. Sejauh matanya memandang, hanya terlihat hamparan kota mati tanpa adanya penduduk.
Selama beberapa saat, tidak terlihat hal istimewa hingga Leon hampir kembali duduk. Akan tetapi, samar-samar terlihat oleh matanya seseorang berjubah hitam jatuh ke tanah.
Segera Leon berlari, sampai-sampai dua orang temannya berteriak secara bersamaan, “Leon!”
Tak mendengarkan teriakan kedua temannya, Leon dengan cepat berlari menghampiri sosok berjubah hitam tadi. Ia sampai di sana, kemudian mengangkat sosok berjubah itu di atas bahunya lalu berlari kembali.
“Hei! Dari mana saja kau?” Yang pertama kali berteriak pada Leon adalah Sun.
__ADS_1
“Aku melihatnya terjatuh di sana.” Leon pun menurunkan orang berjubah tadi ke lantai.
Di balik tudung hitam yang menutup wajah sosok tersebut, terlihat wajah polos seorang gadis. Leon lantas memanggil Sasa untuk meminta bantuan, “Sasa! Bawakan air dan rawat dia!”
“Baiklah!” Bergerak secepat mungkin, Sasa memberikan sebotol air untuk diminum oleh gadis berjubah hitam tadi.
“Kau yakin dia bukan seorang mata-mata, Leon?” Dengan nada datar, pertanyaan bodoh itu dilontarkan oleh Sun.
Leon bangun lalu menatap tajam mata Sun. “Dia hanya seorang gadis kecil, Sun. Jika kau tak suka aku menyelamatkannya, kalau suatu hari dia berbuat hal buruk, aku akan mengabulkan apa pun keinginanmu.”
“Kau tidak hanya menjaminnya dengan nyawamu saja?”
“Nyawaku tidak berharga untuk direnggut. Tapi, mungkin kehormataanku jauh lebih menggiurkan untukmu.”
Walaupun sebenarnya Leon sudah sedikit akrab dengan Sun, mereka tetap saja sering berbeda pendapat hingga membuat perdebatan. Leon pergi lebih jauh ke dalam bangunan sembari mengamati sekitar.
Entah kenapa, ia merasa bosan ketika melakukan perjalanan ini. Apakah semua kejadian menarik sudah berlalu?
Leon menghela napas panjang. Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan keras dari belakangnya. Pemuda itu langsung berbalik dan berlari menuju sumber suara.
“Leon sialan! Lihat apa yang kau selamatkan!” Sun membuat pelindung api untuk dirinya dan juga Sasa.
“Siapa kalian?” teriak gadis itu dengan lantang. Terdapat sekumpulan energi murni tidak berwarna yang berkumpul di dekatnya dan membentuk sebuah pelindung.
“Ellise kecil ...?” Kata-kata itu terlontar secara refleks di mulut Leon.
Hei! Di alam bawah sadar Leon, Ellise terlihat sudah berapi-api hendak membakar Leon hidup-hidup. Apa kau lupa aku ada di sini?
Dalam sekejap keringat dingin bercucuran di kening Leon. Ehehe ....
Di depannya, gadis kecil berambut pirang menampilkan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa percaya diri. Tekanan kekuatan di sekitarnya meningkat pesat hingga Sun dan Sasa sedikit kesulitan menghadapinya. Namun, Leon berbeda, pemuda itu mampu bergerak leluasan meski dalam tekanan hebat itu.
“Hei, gadis kecil ....” Dengan senyuman hangat Leon mengulurkan tangan kepada si gadis. “Jangan takut, kami bukan orang jahat.”
Entah kenapa, Leon merasa dirinya dengan gadis itu memiliki suatu ikatan. Akan tetapi, ia masih belum bisa mengingat atau memastikan kebenarannya. Satu-satunya orang yang mengetahui tentang masa lalunya, Ellise masih diam seperti mengunci mulutnya rapat-rapat.
Merasakan hal sama dengan Leon, gadis kecil itu menurunkan penjagaannya dan meraih uluran tangan Leon. “Kau sebenarnya siapa?” tanya si gadis kecil.
__ADS_1
“Leonal ...,” jawab Leon pelan.
Gadis kecil tersebut sedikit tersentak, lalu segera menunjukkan ekspresi sedikit terkejut di wajahnya. “Leonal ....”
“Itu aku.” Leon tersenyum, dan si gadis benar-benar menurunkan kewaspadaan hingga nol.
“Aku Ni.” Gadis kecil tersebut menunjukkan senyum yang tidak kalah lebar dari Leon.
“Salam kenal, Ni.”
Kini keduanya saling berjabat tangan selama beberapa saat.
“Ekhm!” Sun berdeham dan membuat Leon tersentak.
Leon melepaskan jabat tangan dan memandang Sasa serta Sun lalu kembali memandang Ni. “Ni, mereka adalah temanku, Sun dan Sasa.”
“Halo! Aku Ni!” Ni menyapa sambil melambaikan tangan.
Leon masih belum mengerti apa sebenarnya ikatan antara dirinya dengan Ni, tetapi satu hal yang pasti, ia merasa dekat dengan gadis kecil ini.
Sama dengan Leon, jauh di dalam lubuk hatinya, Ni merasa kalau Leon adalah orang yang selama ini dicarinya. Sudah banyak tempat dia jelajahi, dan sekarang dia merasa sudah menemukan tujuannya.
Anak yang polos ya .... Dengan wajah tidak bersahabat, kalimat itu terlontar dari mulut Ellise.
Leon yang sekarang ada di dalam Alam Bawah Sadar tidak sangguh berbalik untuk menatap wajah Ellise secara langsung. Bulu kuduknya seketika meremang.
Tapi ... entah kenapa aku merasakan ada sesuatu di diri anak itu. Tiba-tiba saja Ellise merubah topik pembicaraan.
Akhirnya sekarang Leon dapat menarik napas lega karena hal ini. Apakah kau sungguh tidak tahu apa-apa tentang dirinya? Tentu Leon tidak bisa begitu saja membuang rasa curiga kalau Ellise menyembunyikan sesuatu.
Aku sungguh tidak tahu ....
“Gadis kecil, kenapa kau berkelana seorang diri?” Sun lantas mengambil langkah untuk menginterogasi.
“Aku sedang mencari seseorang. Tapi tidak pernah menemukannya.”
“Siapa?”
__ADS_1
“Cain ....”