
Setelah Darwis menjelaskan secara panjang kali lebar tentang bagaimana dan apa saja pemicu Evolusi, aku dapat menyimpulkan beberapa poin penting dari itu semua. Yang pertama, ini memang hanya sebuah teori dengan dasar yang rapuh, tetapi aku tetap yakin dengan akan teori tersebut. Evolusi terjadi karena adanya suatu Virus yang merasuk dalam tubuh dan membentuk sel baru. Bukan hanya sebatas itu, sel ini dapat bereaksi ketika seseorang dalam keadaan psikologis tertentu, seperti putus asa.
Poin kedua, ini yang menjadi alasan kenapa poin pertama itu ada. Di sini, setelah melakukan percobaan pada dirinya sendiri, Darwis mengetahui satu hal. Daging busuk dapat membuat virus itu bereaksi dengan cepat, walaupun daging biasa juga sama, tetapi perlu waktu yang lebih lama. Mungkin virus itu berekasi karena adanya bakteri atau virus jenis lain.
Dan poin yang terakhir, virus ini akan bertambah terus menerus seiring penggunaan perubahan wujud. Ketika kapasitas virus melebihi batas, maka terjadilah Evolusi Permanen seperti yang dialami Darwis. Dan kesimpulan dari ketiga poin itu, aku akan berubah seperti Darwis juga saat berlebihan menggunakan perubahan wujud. Astaga, kuharap itu tidak akan terjadi.
Suhu udara semakin dingin kala malam kian larut. Aku menghela napas sejenak sebelum akhirnya menerawang sekitar. Di sebelah kananku, terdapat Darwis yang tengah tidur dengan pulasnya. Nampaknya, ia cukup kelelahan hari ini.
Bosan hanya terus menerawang, aku pun berdiri dan berjalan ke sekitar. Walaupun demikian, bukan berarti aku akan meninggalkan Darwis begitu saja, karena diri ini hanya ingin membuang kantuk karena dilanda kebosanan.
Secara tak sengaja, mata ini melihat sosok seseorang tengah duduk di bawah pohon sambil memeluk kedua kaki dan menundukkan kepala. Aku langsung menghentikan langkah, mengamati sosok tersebut. Dia mengenakan pakaian berwarna hitam untuk menutupi tubuhnya.
Perlahan tapi pasti, kaki melangkah ke depan dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Mendadak, sepotong ranting patah karena terinjak. Aku langsung bergeming, sedangkan sosok tadi tidak bereaksi sedikit pun. Mungkinkah dia sebenarnya sudah menyadari keberadaanku dan berpura-pura tidak tahu. Atau mungkin....
Sepertinya aku harus bertaruh di sini. Dengan bermodalkan keberuntungan semata, diri ini mendekati sosok tersebut. Walaupun sudah berjarak cukup dekat, sosok itu hanya bergeming, seolah tak peduli akan lingkungan sekitar—termasuk aku.
Hm, apa aku kejutkan saja dia? Ah, tidak, tampaknya itu akan membawa masalah pada diriku sendiri. Jadi, sebaiknya bagaimana?
Selama aku masih memutar otak, tiba-tiba saja, sosok tersebut memalingkan wajahnya padaku. Sontak mata ini terbelalak lebar ketika melihat siapa sebenarnya sosok tersebut.
__ADS_1
“Ka-kau....”
Langsung aku berlari mendekati sosok tersebut. Dia tidak lain adalah Flicker, yang keadaannya begitu memprihatinkan. Mungkin saja dia mengalami sesuatu yang buruk sehingga membuatnya trauma—sama seperti aku.
Dengan perlahan, aku merendahkan tubuh di depannya sambil memandangi wajah pemuda itu. Tatapan matanya kosong, seolah berada dalam ruangan gelap tanpa mampu melihat. “Hei, apa yang terjadi padamu?” Meskipun sudah tahu, aku tetap melontarkan pertanyaan itu padanya.
Tak mau menjawab pertanyaan dariku, Flicker kembali memendam wajah di antara kaki yang ia peluk dengan erat. Ia benar-benar terlihat frustasi, tanpa ada semangat untuk melanjutkan kehidupannya. Di sini aku mulai terpikir pada sesuatu. Daripada mencoba untuk membantu dia untuk berdiri, lebih baik semakin merubuhkannya saja.
Aku langsung berdiri, lalu menatapnya seperti sedang merendahkan. “Orang menyedihkan sepertimu, lebih baik mati saja daripada harus menyusahkan orang lain.” Kuambil pistol yang ada di balik pakaian, kemudian mengarahkannya pada Flicker.
“Ya, mungkin lebih baik seperti itu .... A ... aku hanya sampah yang tidak berguna.”
“Ternyata kau mengakuinya.” Aku membuat senyum lebar sambil terus menatap pemuda yang sangat menyedihkan tersebut. “Sepertinya, tak akan jadi masalah jika aku membunuhmu sekarang juga.”
“Bodoh. Mana mungkin aku mau melakukannya.”
Tangan kananku langsung melancarkan serangan ke wajah pemuda itu. Tanpa ada jeda sedikit pun, kaki kanan kugunakan untuk menendang perutnya. Ia tersandar lemas di batang pohon, lalu aku pun menempelkan tangan kiriku pada lehernya.
“Kau tidak berguna sampai membuat teman-temanmu mati.” Nada suaraku berubah menjadi ganas. “Apakah pantas bagimu mati dengan damai?”
__ADS_1
Flicker hanya terdiam, mulutnya menganga lebar ketika aku sekali lagi menendang perutnya. Tak mau memberi ampun, ia langsung kulemparkan ke samping, lalu mengarahkan ujung pistol padanya.
“Sungguh lemah, pantas saja kau tak sanggup menjaga teman-temanmu.”
“Aku ....” Dia menutup telinga dan menggulung tubuhnya seperti seekor ulat. “Aku hanya sampah yang tidak dapat menyelamatkan teman-temanku.”
Baiklah, saatnya untuk memberikan sentuhan terakhir padanya. Aku langsung menembakkan pistolku ke atas, itu membuat Flicker semakin menggulung dirinya dan meringkuk sambil menutup kedua telinga dengan kedua tangan.
“Ya, kau memang sampah tak berguna,” ucapku dengan nada dingin, “maka kau pantas untuk disiksa terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi ke alam sana.”
Flicker kian memendamkan kepalanya di antara kaki. Tanpa ada ampun, aku mendekatkan mulut ke telinganya, lalu membisikkan sebuah kalimat, “Jadi, bagaimana cara mereka mati? Dimakan? Atau mungkin....”
Dengan santai, aku kembali ke posisi awal sambil memandangi Flicker yang sudah tampak tak berdaya. Kukembalikan pistol ke balik pakaian, lalu tersenyum hangat pada pemuda yang ada di hadapanku.
“Ada saatnya di mana kita tak perlu menyalahkan diri sendiri ketika masalah datang menghampiri.” Tangan kanan aku ulurkan padanya untuk membantu dia berdiri. Dalam keheningan di malam hari, ia menatap lurus ke arahku dengan ekspresi heran.
Sekali lagi aku tersenyum. “Kau tahu? Aku juga mengalami hal yang sama denganmu.” Jika tidak kutahan, mungkin air mata telah menetes membasahi kedua pipiku. Hari di mana semuanya seolah berakhir begitu saja, masih terngiang dalam ingatan. “Karenanya, kau tidak perlu merasa kalau semua beban itu harus kau pikul seorang diri.”
Mungkin ini akan menjadi sebuah cahaya harapan baginya. Sebenarnya, aku tidak melakukan ini dengan sembarang. Meskipun ingatanku telah dihapus, tetapi pengetahuan yang aku peroleh entah di mana, saat dulu, masih dapat kuingat dengan jelas.
__ADS_1
Apa yang aku tahu adalah, ketika seseorang mengalami suatu trauma, itu akan menghancurkan mental dan mengacaukan pikirannya. Untuk membangun kembali apa yang telah hancur dengan cara lembut, pasti membutuhkan waktu lama. Namun, jika semakin dihancurkan kemudian membangun yang baru, mungkin akan menciptakan keadaan psikologis yang lebih baik.
Walaupun begitu, masih perlu diingat, aku mau mencoba apa yang tadi kulakukan, bukan karena yakin dengan pengetahuanku. Akan tetapi, itu karena aku tidak terlalu memikirkan resikonya.