
Andrew hanya dapat bertahan dalam pelindungnya tanpa dapat berbuat apa-apa karena serangan Orion. Akan tetapi, pemuda itu masih tetap tenang walaupun sudah didesak. Dia kemudian memikirkan sesuatu. Jika kejadian pada saat itu bukan ulah Klan Singa, maka jelas kalau hal tersebut merupakan sebuah pertanda. Pantas saja Orion tidak ingin berlama-lama.
“Baiklah, aku akan serius mulai sekarang, Orion,” gumam Andrew yang masih dalam pelindungnya.
Pelindung Andrew langsung membesar, merusak lingkaran energi yang dibuat oleh Orion. Tampak dari reaksi dan raut wajah Orion kalau dirinya sangat terkejut melihat kekuatan ini. Sambil mengupat kesal dan panik, Orion langsung membuat satu lingkaran energi besar di depannya.
“Rasakan ini, Andrew brengsek!” Sebuah rudal besar melesat dengan cepat ke arah Andrew, tetapi pemuda itu tidak tampak panik melihatnya.
“Bodoh!” Andrew menyatukan kedua tangannya dalam satu tepukan keras. Kemudian ia mengarahkan telapak tangannya itu ke depan, menyentuh rudal yang melesat padanya.
Semua mata baik Orion, Klan Singa, Klan Naga maupun Klan Ular, langsung terbelalak lebar melihat Andrew dapat mengurai nuklir tersebut menjadi partikel cahaya. Dengan hanya melihat kejadian tersebut, Orion tidak lagi memiliki semangat untuk bertarung. Dia merasa kalau semua usahanya akan sia-sia.
Pemuda tersebut—Orion—memandangi kedua tangannya. “Mustahil, dia bahkan dapat menghancurkan serangan terkuatku.”
“Apa kau tahu jarak antara kita sekarang, Orion?” Mata Andrew yang kosong menatap Orion. “Perbedaannya sudah sangat jelas, kau takkan pernah bisa mengalahkanku.”
“Jangan menyerah, Orion!” seru seorang gadis dari bawah sana. “Jangan menyerah!” Air mata langsung mengalir ke pipi gadis tersebut. “Bukankah kau bilang akan menyelamatkan kita?”
Saat itu, Orion langsung tersentak. Dia ingat kalau dirinya pernah membuat janji untuk tetap hidup dan keluar dari hutan ini dengan teman-temannya. Tanpa dia sadari, air matanya telah menetes ke telapak tangan.
Sebuah tekad baru, muncul dalam hati pemuda itu. Kedua tangannya dia gengam dengan erat agar takad tersebut semakin kuat. “Kau memang memiliki kekuatan yang mengerikan, Andrew. Tapi, bukan berarti kau tidak mempunyai batas dan kelemahan.”
Beberapa lingkaran kecil langsung terbentuk di sekitar Orion, kemudian meluncurkan beberapa rudal ke arah Andrew. Semakin lama, lingkaran juga bertambah, bahkan sampai membuat Orion muntah darah karena tak sanggup menahan beban energi yang digunakannya.
Gadis yang berteriak tadi ingin membantu Orion dengan membuat beberapa pilar dari tanah. Namun, Zanik tidak membiarkan hal itu.
__ADS_1
“Jangan kira kau dapat mengganggu mereka!” Beberap bola magma dilemparkan Zanik pada gadis tersebut.
Walaupun demikian, gadis itu berhasil menahan serangan menggunakan dinding tanah. “Dasar brengsek! Jangan menghalangiku!” seru si gadis yang kemudian membuat beberapa tangan besar dari tanah untuk menahan Zanik.
“Dasar naif.” Menggunakan satu pukulan, Zanik menghancurkan tangan-tangan tersebut. Badan pemuda itu telah menghitam sepenuhnya dengan beberapa garis berwarna jingga kemerahan. Beberapa bola magma kembali terbentuk di sekitar Zanik dan meluncur ke arah gadis yang tadi tidak terlalu fokus pada pertarungannya.
“Awas!” Sebelum bola magma itu menyentuh si gadis, seorang pemuda besar langsung mengahalaunya menggunakan dinding beton. “Fokus pada sekitar, bukan pada Orion!” bentak pemuda itu pada sang gadis.
“Tapi ....” Si gadis hendak membantah.
“Kalau kau mati, Orion pasti akan sinting. Maka dari itu, tetaplah hidup demi kita.”
“Cih.” Gadis itu pun mengurungkan tekadnya untuk membantu Orion. “Baiklah, Resk, kau menang.”
“Siap, Komandan!”
“Komandan kepalamu!”
Scof dan Kaiser menyatukan tangan mereka dalam satu tepukan keras. Secara bersamaan mereka mengarahkan telapak tangan ke depan. Kaiser melancarkan kobaran api besar, sedangkan Scof semakin mengobarkannya menggunakan tiupan angin. Akan tetapi, Klan Naga telah bersiap dengan serangan air dan tembok tanah untuk bertahan.
Kabut tebal langsung melingkupi sekitar. Salah satu teman Zanik pun membuat tembok tanah untuk berlindung dari serangan mendadak. Sementara itu, Kaiser dan Scof begitu kelelahan setelah menggunakan serangan gabungan tadi.
“Sial, hanya tersisa kita berlima sekarang.” Zanik sangat kesal melihat situasi ini.
“Bagaimana selanjutnya, Zanik?” tanya seorang gadis dengan rambut panjang berwarna abu-abu. “Kita tidak lagi mempunyai kekuatan tempur yang memadai.”
__ADS_1
“Iya, aku khawatir kita akan tamat saat ini juga.” Pemuda dengan rambut kribo langsung menyela. “Dinding tanahku juga tidak dapat bertahan lebih lama lagi.”
“Tenang, Glory, Ray! Kita masih memiliki Andrew.” Memang Zanik tidak ingin mengakui ini, tetapi Andrew satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka sekarang. “Kaiser, lakukan itu!”
“Baiklah.” Kaiser langsung meninju udara di atasnya, api pun muncul sebagai sinyal pertolongan kepada Andrew.
Andrew melihat sinyal itu sembari tersenyum. “Kau akhirnya sadar tidak bisa melakukan semuanya tanpa aku, Zanik.” Dengan satu jentikan jari, bola cahaya raksasa langsung menghancurkan pertahanan Klan Singa dan menghancurkan apa saja yang ada di dalamnya.
Orion yang sedari tadi hanya fokus dengan pertarungan melawan Andrew, langsung terpukul melihat kehancuran Klan-nya. Tatapan matanya menjadi kosong, karena tidak terima, ia melesat dengan cepat ke tempat Klan-nya yang telah dihancurkan oleh Andrew.
Zanik dan teman-temannya keluar dari pelindung. Mereka melihat Orion yang sangat kecewa karena Klan Singa telah lenyap dari dunia. Tanpa ampun, Zanik langsung memberikan satu perintah pada Glory—gadis berambut panjang. “Sambar dia dengan petirmu, Glory!” katanya.
“Baik.” Glory meninju udara di depannya, sebuah kilatan petir pun muncul menyerang Orion. Namun, Orion membentuk sebuah dinding baja yang jaraknya sangat jauh untuk menahan sambaran petir itu.
Serangan Glory gagal mengenai target, tetapi Zanik tidak peduli sedikit pun akan hal tersebut. Dia memasang wajah datar seperti biasa, sebab tahu kalau Andrew pasti membereskan Orion. Benar seperti dugaan Zanik, Andrew menyerang Orion dengan bola cahaya raksasa.
Akan tetapi, setelah melihat dengan jelas mayat teman-temannya yang telah hancur dan berceceran, amarah Orion langsung memuncak. “Jangan remehkan aku, para sampah yang brengsek.” Orion berbalik, menatap bola cahaya raksasa yang siap menghancurkan raganya. Dia menyatukan kedua tangan dengan satu tepukan keras lalu menghadapkan telapak tangannya ke depan.
Sebuah lingkaran besar terbentuk di hadapan Orion. Sebuah rudal raksasa pun muncul dan meluncur dari sana. Namun, di sisi lain, Andrew sedikit tersenyum melihat tindakan Orion itu.
Kedua tangan dan kaki Andrew dipenuhi oleh sisik keras, kuku panjang bagaikan jarum keluar dari jari di tangannya. Ketika dia menjulurkan tangan ke depan, beberapa bola cahaya muncul lalu melesat cepat ke arah Orion dari dua arah, yaitu kiri dan kanan.
Ledakan besar pun terjadi, beruntung Zanik dan teman-temannya terlindung berkat pelindung cahaya Andrew. Bangunan di sekitar juga langsung runtuh seluruhnya karena ledakan tersebut.
Sementara itu, jauh di sana, Leon dan Darwis masih hanya menonton tanpa bergerak sedikit pun. Setidaknya, sekarang Andrew telah menghabiskan banyak energi serta tenaga dalam pertarungan tadi. Ini cukup menguntungkan bagi mereka berdua.
__ADS_1