The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 11 part 1


__ADS_3

Kehangatan menyelimuti sekujur tubuhku, penglihatan kembali normal dan dapat dengan jelas melihat Darwis sedang bertarung melawan Andrew. Tampaknya, tangan kananku yang telah putus tidak dapat pulih lagi. Selain itu, pedang cahaya yang menusuk perutku juga tak kunjung lenyap. Aku bahkan tak tahu bagaimana bisa Andrew menyempatkan diri menyerangku ketika sedang bertarung.


Sial! Sekujur tubuhku tak dapat digerakkan. Apa yang harus kulakukan sekarang?


Mau tak mau, kucoba untuk menebas pedang tersebut menggunakan cakar di tangan kiriku. Pedang tersebut langsung bergerak, menghantarkan rasa sakit yang luar biasa ke tubuhku. “Sakit ... sekarang aku harus bagaimana?” Kemudian, sebuah ide terbersit di pikiranku. “Kenapa aku begitu bodoh.” Bayangan di ujung cakar langsung menjalar, mencabut pedang cahaya tersebut.


Tanpa berlama-lama, aku langsung membuang pedang itu ke sembarang tempat. Sakit memang, ketika proses pencabutan tadi, tetapi sekarang sudah tidak terasa sakit lagi. Kemampuan regenerasi tubuhku pun mulai memulihkan luka.


Semua luka di tubuh telah tertutup, aku pun bangkit dan menyeimbangkan badan. Ya, masih terasa sedikit sakit walaupun sudah tidak seperti tadi. “Baiklah, sepertinya aku harus membantu Darwis sekarang.”


Aku sangat tahu kondisiku sedang tidak stabil, tetapi mau bagaimana lagi, firasatku mengatakan akan ada sebuah bencana yang datang jika kami tak segera menyelesaikan pertarungan terakhir ini. Ya, aku tak tahu bencana apa itu, tetapi menimbang situasi sekarang, sudah jelas bencana tersebut akan menghancurkan hutan ini seutuhnya.


Setelah mengalirkan energi ke sekujur tubuh, aku tidak merasa lemas seperti tadi lagi. Memang tekanan di otakku masih belum hilang sepenuhnya. Namun, tekad berhasil mengalahkan rasa sakit dan mengubahnya menjadi semangat. Mungkin, sekarang adalah saat yang tepat untuk melampiaskan segala amarahku.


Jirah bayang telah terlapisi oleh energi murni. Kekuatan pertahanannya pasti lebih hebat dibanding sebelumnya. Akan tetapi, aku masih penasaran bagaimana cara menghisap serangan orang lain menggunakan kekuatanku. Kalau tidak salah, aku harus fokus serta mengosongkan pikiran. Ah, sial, aku telah melupakannya.


Mendadak, ada sebuah kilatan petir menyerang Darwis dari bawah. Kalau tidak salah ingat, aku pernah melihat kilatan itu sebelumnya. Ini artinya, tugasku sekarang ialah membantai habis sisa-sisa anggota Klan Naga. Angin berembus kencang, tanah bergoyang menggoyahkan keseimbangan. Meskipun hal tersebut dapat kuatasi dengan melayang di udara.


Tak jauh di sana, mataku melihat beberapa orang tengah mengamati pertarungan sengit antara Darwis dan Andrew. Ketika melihat ke atas, aku tahu kalau Darwis tidak terlalu fokus pada pertarungan karena menghawatirkan serangan dari bawah. “Oke, sekarang aku harus membuat dia kembali fokus dengan membantai habis para pengacau.”


Tiba-tiba, suara petir dari langit, menggelegar di dalam telinga. Aku sempat terdiam, tetapi akhirnya kembali fokus pada pekerjaan. Suhu udara kian dingin, dengan sangat cepat aku melayang ke arah para remaja tadi. Kemudian, seorang pemuda langsung menyadari kehadiranku dan berteriak, “Serang dia!”


Dalam suasana riuh ini, teriakannya itu masih dapat kudengar karena indra pendengaranku lebih tajam setelah berevolusi. Di waktu yang sama saat petir menggelegar, sebuah kilatan petir dari seorang gadis tertuju padaku. Tentu, pelindung energi murni langsung kuaktifkan untuk mengahalaunya. Tak hanya itu, aku langsung menebasakan cakar di tangan kiriku hingga menghasilkan sebuah serangan kepada mereka.


Debu bertebaran, membutakan penglihatan yang tadinya cerah. Ketika angin membawa kumpalan debu pergi, tampak beberapa mayat yang telah terpotong-potong berceceran di tanah. Darah merah ikut membasuh potongan tubuh tersebut, lalu angin membuat bau tak sedap dari darah sampai ke hidung.

__ADS_1


Sesaat aku melirik tangan kananku yang putus. Sedikit aneh rasanya ketika tidak lagi memegang pedang. Namun, apa yang bisa kulakukan, semuanya telah terja—


Tidak, tunggu! Mungkin banyanganku bisa menjadi tangan kananku. Karena pada prinsipnya sama saja, bayangan dan semua anggota tubuhku digerakkan oleh otak. “Itu dia.” Aku menjadi girang, lalu segera membuat tangan kananku dengan bayangan. “Seperti dugaanku, bayangan ini dapat kugerakkan dengan sesuka hati.”


Sembari tersenyum senang, kubuat sebuah pedang bayang tanpa dilapisi oleh energi murni. Baiklah, saatnya untuk bereksperimen, semoga semua baik-baik saja. Memanfaatkan tekanan udara, aku pun melesat ke arah Andrew, kemudian menyerangnya dengan satu tebasan pedang setelah Darwis sedikit mundur.


Darwis melirikku sejenak. “Kau sudah baik-baik saja, kan?”


“Mau jawabannya iya ataupun tidak, kita tetap harus mengalahkannya. Jadi, tak ada gunannya mengeluh sekarang.”


“Tapi, tangan kananmu itu kenapa?”


“Si brengsek di hadapan kita yang melakukannya.”


“Berisik!” Secepat kilat aku melayang dan menebasnya dengan pedangku dari atas ke bawah.


Dengan mudahnya, dia menahan seranganku itu. Namun, itu takkan cukup. Mendadak, pedangku menyerap energi dari pedang cahayanya. Dia langsung mundur sejauh mungkin, sedangkan aku tetap bergeming sambil mengamati sekitar.


Aku menghela napas, seketika itu Andrew terlihat sangat kesal kepadaku. Apakah dia akhirnya menyesali keputusannya tidak membunuhku sedari dulu? Haha, penyesalan memang selalu datang di akhir. Baiklah, bagaimana kalau aku pancing emosinya dulu.


“Eh? Sepertinya tidak perlu.”


Bola-bola cahaya langsung mengambang di sekitar Andrew. Kedua tangannya ia rentangkan, ekspresi wajahnya juga terlihat sangat tidak bersahabat. Ada apa ini? Kenapa dia bisa seperti ini? Tiba-tiba suara petir menggelegar di langit. Ketika aku melirik ke bawah, tanah berguncang hebat.


Darwis pun mendekatiku, dia juga sangat waspada dengan keadaan sekarang. Menimbang dari suhu dan lamannya kami bertarung, ini artinya hari sudah subuh. Jangan bilang kalau besok hutan ini telah lenyap dari peta.

__ADS_1


“Kita harus cepat mengalahkan dia, Leon,” bisik Darwis.


“Karena waktu telah habis, dan aku tidak mempunyai keuntungan saat bertarung.” Bola-bola cahaya di sekitar Andrew yang tadinya kecil, kini membesar. “Maka kalian harus mati di sini menemaniku.”


“Jangan bercanda! Mana mungkin kami mau melakukannya!” Aku langsung membentak.


“Tapi aku memaksa dan tidak menerima protes dari siapa pun.”


“Gawat, situasi ini semakin kacau.” Kepanikan langsung melanda hatiku. Suara guntur serta tanah di sana juga membuat pikiranku semakin tidak beraturan.


“Biar aku yang menyelesaikan masalah ini sendiri, Leon. Kau bersiaplah untuk pergi ke tugu dan keluar menggunakan fortal yang ada di sana,” kata Darwis.


“Mana mungkin aku mau meninggalkanmu. Lagipula, kenapa juga kau mau berkorban nyawa demi aku?”


“Jika begitu, alasannya sama dengan Andrew.”


Aku langsung mematung kaku. Memang Andrew dan Darwis tak pernah menceritakan apa pun tentang mereka kepadaku. Namun, dengan semua kejanggalan yang terjadi. Sudah dapat dipastikan kalau mereka berdua adalah orang yang tidak hilang ingatan.


“Hei! Apa yang kau maksud?”


Belum sempat Darwis menjawab, begitu banyak bola cahaya raksasa langsung menyerang kami dari segala arah. Darwis merentangkan kedua tangan, aura yang terpancar darinya sungguh berbeda dari sebelumnya. Ia pun menyatukan kedua telapak tangan dengan satu tepukan keras, lalu kembali merentangkan tangan.


“Biarkan aku berkorban untukmu.” Sebuah bola pelindung dari energi murni langsung menyelimuti kami.


Dari sini aku hanya dapat berdiri mematung tanpa bisa melakukan apa pun. Bunyi ledakan berpadu dengan gemuruh petir membuat suasana semakin bising. Apa yang harus kulakukan sekarang?

__ADS_1


__ADS_2