The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 4 : Pelahap Energi


__ADS_3

Cukup lama Leon berdiri mengamati darah mahkluk bernama Chimera yang sudah dikalahkannya tadi. Para prajurit di belakangnya tidak mengganggu dia mengobservasi Chimera ini.


Perlahan Leon menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Jadi, apakah ada alasan lain kenapa ayahku membiarkan aku bermain-main di dalam hutan misterius itu?


Leon masih terjebak dalam ruang pikirannya, dia belum kunjung menemukan alasan logis di balik alasan ayahnya membiarkan dia melakukan sesuatu hal sesuka hati.


Kau tahu, aku ingat sekarang. Tiba-tiba Ellise teringat sesuatu dalam pikirannya.


Apa itu? Leon masih tak dapat mengerti.


Belum juga Ellise berhasil menjawab, suara geraman terdengar oleh telinga Leon dari berbagai arah. Seketika pemuda itu melirik ke sekitar, tampak oleh matanya beberapa Chimera sedang mendekat.


"Semuanya, jangan takut! Kita tidak sendirian, ada seorang Pelahap Energi di sini!" seru salah satu prajurit menenangkan para prajurit lainnya.


Leon memasang wajah datar, dari empat arah berbeda Chimera berdatangan mendekati Leon dan para prajurit. Sementara Leon sedang memandang dengan datar, seorang prajurit datang mendekatinya.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya kepada Leon.


Sesaat Leon diam, kemudian menatap pemuda di hadapannya itu. "Cukup berkumpul di sini saja, perhatikan saja aku menghabisi semua mahkluk ini," ucap Leon penuh percaya diri.


"Tapi, Tuan. Apakah Anda yakin?"


Wajah Leon tetap datar, tanpa ada ekspresi dia menjawab, "Jangan meremehkanku. Aku sudah mengalahkan banyak monster selama ini."


Memang benar, jika hanya beberapa Chimera dia pasti bisa menghabisinya dengan sangat mudah. Akan tetapi, entahlah kalau yang datang adalah segerombolan Chimera.


"Tidak, Tuan. Maafkan saya!" Prajurit tadi langsung memanggil rekan-rekannya. "Semuanya, kita berkumpul di sini saja. Serahkan ini pada Tuan Pelahap Energi."


"Eh?" Para prajurit lain langsung terpelongo.


"Bagaimana jika Chi atau Core datang? Bukankah akan berbahaya kalau saat itu si Pelahap Energi ini kehabisan kekuatan?" tanya seorang prajurit.


"Ya, dia benar." Yang lain berteriak setuju.


"Tapi apa yang bisa kita lakukan jika beberapa granat saja masih belum bisa menghabisi Chimera?" Prajurit yang menjadi penyampai pesan lantas berteriak pada para rekannya.

__ADS_1


"Berisik!" kata Leon sambil memandang dingin pada para prajurit itu. "Kalau kalian ingin mati, maka pergi saja. Seharusnya kalian sadar kalau kalian itu hanya pengganggu."


Dalam sekejap para prajurit terdiam lalu mulai berkumpul di belakang Leon. Mereka begitu tunduk, karena ketakutan saat melihat raut wajah Leon beberapa saat lalu. Namun, tetap saja mereka siap bertempur menggunakan senapan di tangan kalau terjadi hal buruk.


Leon segera menarik napas panjang, mengarahkan kedua tangan ke depan sembari merasakan aliran energi dalam tubuh. Aura berwarna hitam pekat muncul dari dalam tubuhnya, kemudian dia segera membuka mata.


Sekitar 4 ekor Chimera, kurasa mudah untuk menyingkirkannya, pikir Leon.


Tidak semudah itu, Leon. Ellise lantas menyela. Memang benar kalau para Chimera ini lemah, tapi aku entah mengapa merasakan keberadaan seekor mahkluk yang berbeda tak jauh dari sini.


Terserah saja, karena aku mungkin bisa mengalahkannya dengan sangat mudah juga. Ya, sekarang Leon jauh lebih percaya diri pada kemampuannya.


Dirinya yang sekarang sudah sangat muak melihat apa yang namanya putus asa serta kesedihan mendalam. Kini, tujuan Leon sudah ditetapkan sejak saat dia membunuh Chimera tadi.


Jalur penebusan dosa, mungkin itu kata paling sesuai untuk menggambarkannya. Leon sudah membulatkan tekad untuk mengembalikan peradaban manusia dengan mengalahkan semua mahkluk luar angkasa yang ada di bumi.


Hei, Ellise. Mungkin ini adalah jalan penebusan dosa bagiku. Ternyata orang keji seperti aku masih diberi kesempatan untuk bertobat.


Kamu adalah orang baik, aku percaya itu.


Tapi aku tetap yakin kalau kau sebenarnya orang baik.... Ellise juga ikut tersenyum kala itu.


Ellise sengaja tidak mengungkapkan alasan kenapa Leon dibiarkan bermain-main di hutan misterius. Karena sebenarnya, tujuan dari itu tidak lain adalah untuk membangkitkan seorang pahlawan.


Pahlawan adalah orang yang awalnya merasakan sakit luar biasa, gumam Ellise. Tidak aku sangka itu benar terjadi.


Apa yang kau bicarakan sendiri? Terlihat jelas kalau Leon tak mendengarkan dengan saksama ucapan Ellise.


Bukan apa-apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.


Bagitu ya.... Leon tidak menanyakan apa yang sedang dipikirkan oleh Ellise, karena dia tak terlalu tertarik untuk mendengarnya.


Kawanan Chimera mulai berlari, seketika itu tubuh para prajurit gemetar hebat. Keringat membasuh habis mereka hingga terlihat seperti usai mandi. Akan tetapi, Leon begitu tenang mengendalikan semua kekuatannya.


Belum sempat para Chimera itu menerjang, dinding hitam langsung mencuat dari tanah menghalangi mereka. Leon menjentikkan jari, kemudian dinding hitam tadi langsung melingkupi mereka semua seperti sebuah tempurung.

__ADS_1


Keadaan begitu gelap, tidak tampak apa-apa di sini. Gerakan kaki serta tarikan napas para prajurit dapat terdengar oleh Leon. Semakin lama suara itu kian mengganggu konsentrasi pemuda itu.


"Diamlah! Jangan bergerak atau bernapas, aku sedang berkonsentrasi untuk mengalahkan para Chimera," bentak Leon.


Para prajurit langsung terdiam, tidak melakukan gerakan apa pun dan bernapas sepelan mungkin. Kali ini Leon kembali fokus pada pengendalian kekuatannya.


Alasan kenapa Leon sangat berhati-hati adalah agar mahkluk lain yang lebih kuat dari Chimera tidak langsung datang ke sini. Sebab, akan merepotkan jika dia harus bertarung sembari melindungi para manusia lemah di belakangnya ini.


"Kalian di sini saja, aku akan keluar." Leon langsung berjalan ke depan, menembus dinding hitam buatannya dengan sangat mudah.


Ketika keluar, dia disambut oleh bau busuk darah berwarna hitam milik para Chimera. Tentu kawanan Chimera tersebut mati akibat tusukan dari tombak bayang milik Leon.


Di atas lingkupan bayang Leon, terdapat beberapa tombak besar yang menusuk para Chimera hingga mati. Leon mengabaikan semua itu, lalu melirik ke sekitar untuk memeriksa ada atau tidaknya Chimera lain.


"Tampaknya mahkluk yang kau khawatirkan akan datang itu tidak ada, Ellise," kata Leon, pelan.


Bukan tidak ada, melainkan belum muncul. Bisa saja dia datang dari munculnya para Chimera ini, jawab Ellise.


Memang benar ada kemungkinan seperti itu, tapi... entah mengapa aku tidak yakin.


"Hia!" Sebuah teriakan langsung menggema di gendang telinga Leon.


Seketika Leon mencari sumber suara tersebut. Di arah depan, tampak beberapa kilatan saling beradu satu sama lain.


"Itu seperti adalah pertarungan pengguna api dan...." Leon terhenti sejenak, menempelkan tangan kanan pada dagu dan mengamati pertarungan di sana.


Ada kemungkinan kalau si pengguna api itu sedang bertarung dengan mahkluk yang kurasakan beberapa saat lalu, kata Ellise.


"Kalau begitu, kita tidak boleh ketinggalan."


Dalam sekejap, Leon berlari menuju pertarungan di depan sana.


[Bersambung....]


[Sebagai catatan, saya sengaja bikin percakapan Ellise dan Leon dalam bentuk tulisan miring, bukan menggunakan tanda petik. Kenapa? Karena percakapan mereka terjadi dalam kepala Leon.]

__ADS_1


__ADS_2