
Ni bersama dengan Sun susah payah menyerang Tan dengan mahkota. Akan tetapi, makhluk tersebut tidak menunjukkan rasa takut maupun sakit setelah terkena serangan mereka berdua. Dengan berat hati, Ni dan Sun mundur sejauh mungkin, tepat di sebelah mayat gosong yang diyakini adalah mayat Leon.
Belum sempat Ni kembali menyerang, dadanya tiba-tiba sesak. “Argh!” Ia menjerit, dadanya terasa seperti sedang dibakar oleh bara api. Tiap saat, teriakan gadis itu semakin kencang.
Bukan hanya dia, Sun dan Sasa juga sepertinya mengalami hal sama. Aura masing-masing melingkupi tubuh mereka bertiga, lalu perlahan aura mereka menyatu dengan mayat Leon.
Ni terus menjerit, jiwanya seakan-akan dipaksa keluar dari raga. Kesadarannya perlahan pudar, matanya berkabut serta goyang. Suara dari mulutnya sudah tak lagi terdengar, lalu hanya dalam waktu singkat, Ni merasa dirinya berada dalam sebuah ruangan kosong.
Mata Ni terbuka, apa yang terlihat hanyalah warna putih, tanpa ada apa pun selain dari itu. Perlahan ia berdiri, mengamati sekitar. Perhatiannya seketika teralihkan kala melihat ada orang selain dirinya. Orang itu memiliki rambut panjang berwarna pirang dengan pakaian putih khas seorang peneliti.
Terdorong oleh rasa ingin tahu, akhirnya Ni memutuskan untuk mendekat. Langkahnya seketika terhenti, matanya terbuka lebar saat wanita yang ia dekati itu berbalik. Dia adalah orang yang selama ini dicari oleh Ni.
“Nona Cain? Apakah itu Anda?” tanya Ni, ragu.
“Ya, ini adalah aku, Ellise Cain, yang selama ini kau cari ....”
Ni mencoba tersenyum, tetapi senyum tersebut tidak terlihat bahagia. Memang benar selama ini ia mencari keberadaan wanita bernama Ellise Cain ini. Namun, kini ia sadar bahwa setelah Ellise ditemukan, maka tubuhnya sudah bukan lagi miliknya.
“Senang bertemu dengan Anda, Nona ....” Ni menjaga agar ekspresinya terlihat senang. “Dengan ini, tugas saya selesai. Tubuh saya yang memiliki setengah dari Kristal Warna milik Anda kini akan menjadi milik Anda. Ah, ini kan memang tubuh Anda.”
“Kau tidak senang ya?”
“Tidak, tidak, tidak! Saya senang kok. Apalagi kalau bisa berguna untuk Anda, Nona. Tugas saya hanyalah untuk membuat Anda bangkit lagi setelah Anda selesai menjalankan tugas membangkitkan Tuan Marvin. Sebab dengan adanya kalian berdua, maka bukan hal mustahil untuk memusnahkan para makhluk itu.”
“Haah ....” Ellise mengembuskan napas panjang. “Kau tak dapat berbohong padaku. Baik kau maupun Leon sama saja, kalian berpura-pura bahagia, padahal sebenarnya tidak.”
“Nona jangan berpikiran seperti itu. Saya sungguh— eh?” Air mata Ni lantas menetes membasuh kedua pipinya. “Ada apa denganku?”
“Air mata tak dapat berbohong. Aku tahu kau tidak ingin berakhir seperti ini, dan aku pun tidak ingin membuatmu bersedih. Tapi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Sudah terlambat untuk diubah.”
“Hahaha, ternyata Anda benar. Saya masih belum ingin menghilang.”
“Maafkan aku, Vini ....” Ellise tersenyum masam. “Sekarang kau sudah utuh menjadi dirimu sendiri, jadi kau tak perlu memotong namamu menjadi Ni lagi.”
__ADS_1
“Hiks ....”
“Selamat tinggal, Vini. Terima kasih atas kemurahan hatimu.”
Vini masih tetap menangis meski Ellise sudah menghilang dari pandangannya. Sekarang ia bertanya-tanya, apakah arti hidupnya selama ini? Dunia telah berubah, bila ada kesempatan sekali lagi, maka Vini ingin membalas dan membumi hanguskan dalangnya, yakni para Makhluk Fantasi.
***
Di luar sana, Starla terpana melihat mayat Leon yang tadinya gosong, kini melayang di udara. Tubuhnya bercahaya, dan di dekatnya ada Sun, Sasa, dan tubuh Ni yang telah diambil alih oleh Ellise. Mereka berempat bersinar menurut warna aura mereka. Sun berwarna merah, Sasa putih, sedangkan Ellise berwarna kuning.
Keempatnya terhubung, dengan Leon sebagai pusatnya. Perlahan, aura mereka yang terhubung memutus begitu saja. Tubuh Leon pun terbungkus oleh aura berwarna hitam. Kristal Warna di dada Leon kemudian menghisap Leon layaknya sebuah lubang hitam.
Dalam sekejap, para Tan segera berlarian mendekat, karena tahu akan sangat berbahaya nantinya jika ini terus dibiarkan. Namun, sebuah lingkaran sihir berwarna putih tiba-tiba saja muncul di permukaan. Begitu banyak tengkorak berjalan bermunculan dari Lembah Evolusi.
Kawanan tengkorak itu bergerak menyerang secara teraktur dengan komando dari tengkorak yang ada di bagian belakang. “Semuanya! Serang! Jangan biarkan mereka mengganggu kebangkitan Tuan Marvin!”
“Hia!” Mereka semua berteriak sambil menyerang kawanan Tan di dalam lingkaran sihir berwarna putih.
Pertempuran besar ini membuat Starla terdiam. Gadis itu sudah tak lagi mengerti dengan semua kegilaan yang terjadi. Namun, tak lama berselang, salah seorang tengkorak mendekatinya.
“Eh?” Hampir saja Starla melompat karena terkejut. “Ada apa, Tuan Tengkorak?”
“Nama saya Tusk. Saya merasakan Anda membawa batu kehidupan milik Tuan Vord. Apakah Anda berkenan memberikan benda itu kepada saya untuk mempercepat kebangkitan Tuan Marvin?” Tengkorak yang menyebut dirinya Tusk itu membungkuk, meminta dengan sopan.
“Siapa itu Tuan Marvin? Dan mengapa harus batu kehidupan milik Vord?”
“Batu kehidupan berisikan kekuatan sejati para Pelahap Energi tingkat 1. Dan, dengan kekuatan itu, Tuan Marvin, salah seorang Pelahap Energi terkuat di dunia dapat segera bangkit, kendati belum sempurna.”
Starla jadi semakin penasaran dengan Tuan Marvin ini. Selain itu, jika yang dikatakan Tusk benar, maka dendam Vord dapat segera terbalas.
“Baiklah. Aku akan memberikannya padaku. Tapi dengan satu syarat.” Starla lantas melirik Tan dengan mahkota yang jauh di sana. “Bunuh Tan menyebalkan itu.”
Sejenak Tusk melirik ke arah yang sama, lalu menunduk kepada Starla. “Sesuai permintaan Anda. Saya akan meminta Tuan Marvin untuk membunuhnya.”
__ADS_1
“Jangan lupakan janjimu!” Segera Starla melemparkan batu kehidupan Vord pada Tusk.
“Terima kasih. Dengan ini, hamba undur diri ....”
“Sudahlah. Cepat pergi, sifat formalmu sedikit menjengkelkan!”
Tusk pun pergi, kemudian dengan cermat dia melemparkan batu kehidupan di tangannya tepat di Kristal di dada Leon. Dalam sekejap, atmosfer berubah drastis. Di atas sana, Sasa perlahan membuka mata, auranya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kemudian Sun juga mulai membuka mata.
Beberapa saat kemudian, Ellise yang kini mengendalikan tubuh Ni ikut membuka mata. Mereka semua terlihat jauh berbeda, terutama aura serta atmosfer yang tercipta di sekitar. Namun, ada sebuah kejanggalan di sini, entah kenapa mereka semua tampak baru dapat kembali menghirup udara segar.
“Sudah berapa lama aku terperangkap dalam ketidakpastian?” ucap Sasa, tetapi nada suaranya berbeda dari sebelumnya. “Eh? Kenapa ada dua buah gunung di dadaku?” Dia malah menjadi panik dengan tubuhnya sendiri.
“Tenanglah, Andrew ... jangan panik. Lama-lama kau pasti akan terbiasa dengan tubuh itu.”
“Apanya yang terbiasa? Kenapa aku malah menjadi seorang perempuan?”
“Sialan kau! Keluar dari tubuh Sasa!” Mendadak Sun menerjang Andrew—yang saat ini mengendalikan tubuh Sasa—tetapi dapat dihindari dengan mudah.
“Hei, Wolf? Kenapa kau bertingkah aneh?” tanya Ellise, heran.
“Iya. Dan siapa itu Sasa?” Andrew ikut terheran.
“Wolf apanya? Kalian hantu gentayang sebaiknya jangan merasuki tubuh kami! Contohlah pak tua berambut abu-abu itu! Dia bilang tak mau merasuki tubuhku dan tak ingin ikut campur lagi!”
“Hah? Kaupikir bisa seperti itu?” Ellise membentak. “Tidak mungkin dia dapat membatalkan teknik rumit yang sudah dipersiapkan untuk kebangkitannya sendiri!”
“Kalian yang bodoh!” Masih saya Sun mengamuk dan menyerang Andrew sekuat tenaga.
“Hentikan ....” Mendadak Leon membuka mulut. Namun, dia terlihat berbeda. Rambutnya hitam, ada jubah putih panjang di bahunya, dan tangannya terlilit oleh suatu tali yang berwarna hitam.
“Marvin?” Nama itu keluar begitu saja dari mulut Ellise.
“Ya, ini aku, Marvin.” Marvin yang kini merasuki tubuh Leon, tersenyum tipis melihat Ellise.
__ADS_1
“Kau akhirnya kembali!” Saking girangnya, Ellise langsung saja memeluk Marvin.