The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 2 part 5


__ADS_3

Setelah mencari selama beberapa waktu, Lize akhirnya melihat punggung pemuda yang ia cari. Pakaian berwarna hitam yang dikenakan oleh si pemuda, membuatnya sedikit tersamar dalam bayang-bayang hutan, ketika matahari mulai condong ke arah barat. Napas Lize sudah terengah, karena telah berlari ke sana kemari, mencari pemuda yang sekarang ada di depannya.


Tak menyadari keberadaan Lize di belakangnya, Creeps terus berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Sementara itu, tangan Lize sudah terangkat mencoba menggapai punggung pemuda tersebut, tetapi apa yang ingin ia raih malah semakin menjauh.


“Tu-Tunggu!” Suara Lize yang begitu pelan, membuat Creeps tidak dapat mendengarnya. “Creeps!” Nadanya sedikit naik, hingga membuat Creeps sedikit tersentak dan berbalik.


Pemuda itu dapat melihat seorang gadis sedang mengatur napas, dengan badan yang membungkuk ditopang oleh kedua lengan yang bersandar di lutut. Creeps menjadi bersimpati, lalu mendekati gadis tersebut.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Creeps sembari ikut menundukkan badan, melirik wajah Lize.


“Ya, aku baik-baik saja.” Perlahan tapi pasti, Lize mengatur napasnya yang terengah. Kian lama, tarikan napas gadis tersebut semakin stabil.


Waktu pun berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara nyamuk dan tarikan napas Lize yang masih belum juga normal. Setelah rasa lelah hilang, Lize menegakkan tubuhnya kembali seperti semula. Keringat yang membasahi sekujur tubuh juga mulai mengering.


Sinar berwarna jingga dari matahari sore, kini mengisi hutan, tetapi tidak semua, karena ada bagian hutan yang sudah gelap. Dalam kondisi yang tidak begitu terang itu, Creeps dan Lize saling menukar pandang selama beberapa saat. Kemudian, hembusan angin membuat mereka semakin lama bertatap, tetapi akhirnya memalingkan pandangan satu sama lainnya.


Masih dengan nada datar, Creeps kembali berkata, “Jadi, kenapa kau mencariku?”


Sekilas, tampak sebuah senyum tipis di wajah Lize. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menikmati hari-hari ini dengan tenang, tentu bersama seorang teman.”

__ADS_1


“Teman, hah?” Raut wajah Creeps sedikit berubah. “Sadarlah, Lize. Kau sudah menghianati mereka yang menganggapmu sebagai teman. Dan kau masih juga dapat mengatakan ‘Teman’ dengan tenang, walau sudah melakukan hal tercela.”


Jadi, inilah kenapa dia sangat kesal padaku, pikir Lize, yang akhirnya tersenyum masam. Orang busuk sepertiku ini, memang tidak pantas mempunyai seorang teman pun. Karena, hanya demi kenyamanan sendiri, aku tega menghianati mereka .... Aku memang sampah.


“Tapi, sudahlah, masa lalu biarlah menjadi masa lalu saja dan tidak terulang di masa depan.” Kalimat itu diucapkan Creeps ketika melihat wajah murung Lize. “Kau mengerti 'kan?”


Tanpa sadar, Lize menumpahkan air matanya. Creeps langsung merasa bersalah ketika melihatnya. “Ah, maaf. Sepertinya aku sudah bersikap buruk padamu.”


“Tidak apa-apa.” Kedua tangan Lize, mengusap air mata yang mengalir deras di wajah cantiknya itu. “Kau benar, aku adalah orang yang sangat buruk. Sangat buruk.”


“He-Hei, hentikan itu.” Creeps mencoba membujuk. “Kau tidak salah, semua orang pernah merasakan hal tersebut.”


“Percayalah, tidak ada seorang pun yang tidak pernah melakukan kesalahan. Yang ada hanyalah orang yang belajar dari kesalahannya, dan menjadi lebih baik lagi.”


Meskipun Creeps mengatakan kalimat itu kepada Lize, tetapi ia sendiri masih juga terpuruk karena pernah melakukan hal keji. Apa yang dia katakan itu bukan hanya untuk Lize, melainkan sebagai pengingat baginya. Ia masih sangat ingat hari di mana dia dan beberapa rekannya, menyiksa seorang pemuda tidak bersalah, karena perintah tak masuk akal dari Andrew. Namun, tidak ada yang mau melawan Andrew, mereka terlalu takut berhadapan dengan pemuda itu.


Creeps dengan lembut mengusap air mata di wajah Lize. “Tidak perlu menangis, kita adalah kaum tertekan yang hanya dapat taat pada perintah.”


“Kenapa kau begitu pesimis?” Lize tersenyum menatap mata temannya itu. “Seharusnya aku yang menghiburmu, tetapi kenapa malah kau yang menghiburku?”

__ADS_1


“Karena sejak awal, aku sudah berniat untuk menghiburmu.”


Lize langsung tersentak mendengar perkataan Creeps. “Ke-Kenapa?”


“Itu karena kau sedang dalam kesulitan, dan ternyata aktingku cukup bagus hingga membuatmu tersentuh.”


“Kau ...!”


“Hahaha, inilah dirimu, seorang gadis yang ceria.”


Tak terasa, malam pun tiba. Lize dan Creeps bergegas menuju ke sebuah gua yang menjadi markas mereka—Klan Naga.


***


Suara tetesan air menggema di dalam telinga. Mata perlahan terbuka hingga akhirnya aku sadar bahwa diri ini sudah berada di bawah sebuah pohon yang rindang. Meskipun telinga mendengar suara air yang menetes, tak sedikit pun mata dapat menemukan di mana asal suara tersebut.


“Di-Di mana ini?” Kepala terasa sedikit pusing, hingga membuatku memijatnya dengan kedua tangan.


Suhu udara begitu dingin, dan sinar rembulan yang terang menyinari sekujur tubuh. Aku berdiri, mencoba menyesuaikan diri agar tidak terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Diri ini sedikit oleng, tetapi akhirnya dapat berdiri dengan normal.

__ADS_1


“Oh, kau sudah sadar, ya.” Suara itu tiba-tiba mengejutkanku.


__ADS_2