The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 10 part 1


__ADS_3

Segera aku berlari menghampiri orang itu, yang tidak lain adalah seorang pemuda berambut hitam pendek. Dia mengenakan pakaian hitam lusuh dan tampaknya dia sedang sangat kelelahan. Kubalik tubuh pemuda itu, dan terlihat olehku sosok Mischie yang babak belur entah karena apa.


“Hei! Mischie! Sadarlah!” Aku menepuk-nepuk wajahnya yang kotor karena terkena debu. Namun, ia masih saja tidak sadarkan diri. “Rias! Lize! Apakah ada diantara kalian yang membawa air?” Sontak aku bertanya pada dua orang gadis yang mendekat ke arahku.


Kedua gadis itu menggeleng di waktu yang sama, menandakan tidak ada satu pun dari mereka yang membawa apa yang aku minta.


“Oh, iya. Bukannya Mischie membawa air di tas hitam yang ia bawa?” kata Lize sembari melirik ke arah Mischie.


Tidak ada apa pun di tubuh Mischie selain celana dan pakaian yang dipakainya. Aku mulai panik akan keadaan ini sebab tidak tahu harus berbuat apa agar bisa menolong Mischie. Tiba-tiba, telinga ini mendengar hentakan tongkat diiringi dengan langkah kaki seseorang. Ketika aku melirik ke sumber suara tersebut, mataku dapat melihat seorang pria tua dengan kulit keriput, mengenakan pakaian lusuh yang compang-camping dengan tongkat kayu panjang di tangan kanannya.


Pria tua dengan rambut putih dan janggut panjang itu kian mendekat ke arah kami. Sontak aku berdiri dan membiarkan Mischie terbaring begitu saja. Aku merentangkan tangan kananku ke samping lalu mundur beberapa langkah agar Rias dan Lize dapat menghindar ketika hal yang tak terduga, terjadi di sini.


Kutatap pria tua itu dengan dingin, kusiapkan diri ini untuk bertarung jika seandainya dia menyerangku. Tak mempedulikan kehadiran kami, pria tua tadi berhenti dan berjongkok di samping Mischie sambil mengamati keadaan Mischie.


“Hei, pria tua!” kataku padanya, “apa yang ingin kau lakukan?”


Tak menggubris pertanyaanku, pria tua keriput tadi lantas berdiri dan menatap lurus ke arahku. Dia hanya diam, melirik diri ini dengan tatapan bosan dan wajah datar. Setelah keheningan selama beberapa saat, pria itu pun membuka mulutnya. “Hei kau! Pemuda beruntung!” katanya. “Bagaimana caramu mendapatkan kedua gadis itu?”


Air liur mulai mengalir keluar dari mulut pria itu. Tatapannya yang tadi bosan kini berubah sepenuhnya. Ketika aku menebak apa yang dipikirkan olehnya, aku benar-benar merasa jijik.


Dua orang gadis di belakangku menutup mulutnya yang hampir saja muntah. Mereka tampaknya sangat dengan pria tua keriput itu. “Hei pemuda!” Tua bangka itu berdiri dengan tegak sambil memegang tongkatnya dengan gagah. “Namaku Zanik! Seorang penyihir handal yang bisa melakukan apa saja yang aku inginkan.” Dia kemudian mengarahkan ujung tongkatnya ke arahku. “Akan kuajari kau satu jurus rahasia jika kau mau memberikan salah satu gadismu kepadaku.” Ia lantas menarik tongkatnya dan menghentakkannya ke tanah.


“Eeehh?” Aku melongo melihat tingkah aneh dari tua bangka tadi.

__ADS_1


“Haah ... haah ... haah ...” Aku semakin melongo melihat pria tua itu terengah-engah sambil menahan tubuh dengan tongkatnya. Dia tampak seperti orang yang habis dikejar, padahal faktanya ia hanya berlagak sok keren.


Melirik dua gadis yang ada di dekatku saat ini, mereka tampaknya sudah tak tahan untuk tidak tertawa sehingga membuat mereka berpaling ke arah lain sambil menutup mulut. Namun tetap saja, tubuh mereka yang gemetar membuatku tahu kalau sebenarnya mereka sedang terkekeh.


“Hei kakek tua!” kataku sembari memalingkan pandangan ke arah pria tua yang menyebut dirinya Zanik.


“Apa anak muda?” jawabnya dengan penuh semangat setelah tarikan napasnya kembali normal.


Dasar tua bangka, padahal pinggang sudah rapuh, tapi kenapa masih saja ingin bertingkah layaknya seorang pemuda. Apakah dia lupa akan umurnya?


“Adudududuh ...” Pria tua itu mengelus-elus pinggangnya dengan tangan kiri sembari meluruskan tulang punggungnya.


Selesai melemaskan tubuhnya, pria itu kemudian mendekat dan meletakkan tangan kirinya ke bahu kananku lalu menatap lekat-lekat mata ini. “Hei anak muda! Dengarkan aku! Serahkan salah satu gadismu kepadaku, maka aku akan mengajarimu teknik rahasia dari keluarga kami.”


“Ssstt! Kita masih seumuran, jadi panggil saja aku Zanik, oke!” Pria tua yang tidak ingin disebut tua itu mengacungkan jempolnya kepadaku ketika mengatakan kalimat itu.


“Ah, baiklah, terserah kau saja.”


“Hoho, begitulah seharusnya,” kata pria itu sambil menunjukkan giginya yang berwarna kuning.


“Oke, jadi begini, aku tidak peduli dengan teknik atau apalah yang kau sebutkan tadi. Jadi, aku tidak bisa memberikan salah satu dari dua gadis itu kepadamu.”


Aku menepis tangan pria tua tersebut dan mulai melangkah untuk melihat keadaan Mischie. Tak kusangka, orang bernama Zanik itu malah menarik kakiku. Ketika aku meliriknya, mata ini dapat melihat sosok seorang kakek tua yang bercucuran air mata. “Cukup satu saja! Tolong! Hanya semalam!”

__ADS_1


Bukannya kasihan, aku malah menarik dengan paksa kakiku hingga membuat kakek itu terseret. Namun, dengan keras kepalanya, kakek tua tersebut masih terus melekat di kakiku.


Kuhela napas ini lalu berkata, “apa kau sudah lupa berapa umurmu, dasar kakek tua.”


Kakek tua itu pun melepaskan tangannya dari kakiku lalu berdiri tanpa tongkat dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangan serta melirik ke kiri dan ke kanan berulang kali. Seolah telah memastikan tidak akan ada yang tahu apa nan hendak dibicarakannya kepadaku, ia akhirnya mendekat dan berbisik ke telingaku. “Sebenarnya, umurku masih tujuh belas tahun,” katanya dengan sedikit malu.


Wajahnya seketika memerah saat ia akhirnya menjauh dariku. Sambil memutar-mutar janggutnya yang panjang, ia menundukkan wajahnya seperti seorang gadis yang malu untuk menyatakan perasaannya secara langsung kepada pemuda yang disukainya.


Sebenarnya kakek tua ini kenapa sih? Bagaimana mungkin seorang tua bangka dapat bersikap seperti ini. Apa mungkin dia memiliki kelainan sehingga membuat dirinya mempunyai sifat seperti ini. Haih, memikirkannya saja sudah membuatku tidak nyaman.


Tak mempedulikan kakek aneh itu, aku pun melangkah mendekatkan tubuhku ke arah Mischie lalu mengangkat tubuhnya yang terbaring. Dia masih belum sadarkan diri setelah sekian lama pingsan, karena hal itu, aku berniat untuk membawanya keluar dari sini dan mengobatinya.


Kuangkat tubuh Mischie ke atas punggungku. “Rias! Lize! Ayo kita pergi!”


“Baiklah.” Serempak kedua gadis itu menjawab perkataanku. Namun, aku sedikit tersentak ketika mendengar kakek tua tadi mengatakan sesuatu.


“Apa katamu?” tanyaku kepada kakek itu.


“Sudah kukatakan. Tidak ada jalan keluar dari sini,” tegas sang kakek.


“Omong kosong.” Lize langsung memotong pembicaraan. “Kau mau menjebak kami, ya?”


“Terserah kalian ingin percaya padaku atau tidak, tapi yang jelas, jangan salahkan aku jika kalian tersesat.”

__ADS_1


“Tidak peduli,” jawab Lize yang kemudian berjalan dengan santai ke arah kami masuk beberapa waktu yang lalu.


__ADS_2