The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 21 : Lautan Api


__ADS_3

15 tahun lalu, di kota kecil bernama Rios, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun tengah bermain di halaman rumah. Itu adalah aku, yang masih belum mengerti tentang betapa luas dan mengerikannya dunia ini. Tersenyum tulus, bermain kejar-kejaran bersama seorang kakak.


Aku masih ingat, saat usai bersenang-senang kala matahari hampir terbenam, kami berdua duduk di tanah memandang angkasa. Rambut kakak perempuanku terurai terkena embusan angin. Usianya hanya berjarak 3 tahun dariku.


Dia tersenyum, melihat indahnya angkasa sembari mengulurkan tangan seolah hendak meraihnya. “Vord, apakah suatu saat kita bisa menggapai langit di atas sana?”


Saat itu aku masih belum mengerti maksudnya, sehingga menjawab penuh percaya diri dengan omong kosong belaka. “Aku yakin kakak pasti bisa.” Aku tersenyum lebar menatap wajah kakak.


Membalas senyumanku, kakak pun megelus lembut rambutku. “Kau sangat percaya diri.”


“Hihi.”


Sekarang aku mengerti, kalau senyuman yang kulihat darinya waktu itu adalah senyum terakhirnya untukku. Seandainya saja, kejadian mengerikan tidak terjadi. Mungkin sekarang aku masih hidup bahagia bersama kakak, ayah, dan ibu.


Waktu itu, saat matahari sebentar lagi terbenam. Sebuah ledakan besar terjadi. Dalam sekejap mata, setengah dari kota Rios hancur berkeping-keping. Kakak segera menarikku melarikan diri ke pusat kota bersama ayah dan ibu. Kami berempat menerobos kerumunan orang yang juga panik.


Beberapa prajurit dikerahkan untuk menghalau monster penghabcur kota, tetapi hanya bisa bertahan sementara. Sampai di pusat kota, begitu banyak warga berbondong-bondong memasuki Shelter, satu-satunya tempat aman sekarang.


Orang-orang saling mendorong. Teriakan dari berbagai arah menggema dalam telinga. Keringat membasuh habis tubuhku, dan dadanya begitu sesak akibat kerumunan manusia.


Suara ledakan terus menggema di mana-mana. Ketika melihat ke atas, nampak seorang prajurit terlempar hingga terjatuh tepat di atas rumah warga. Tidak hanya satu prajurit, tetapi lebih banyak prajurit lagi terlempar sampai menghancurkan rumah para penduduk.


“Atur formasi! Itu adalah kawanan Tan! Ulur waktu sampai Pelahap Energi tingkat 1 tiba!” Teriakan seseorang menggema di dalam kota.


“Gawat! Mereka terlalu kuat! Argh!”


Berbagai teriakan membuat para warga semakin panik. Sudah ada banyak orang yang masuk ke dalam Shelter, tetapi giliran kami belum juga tiba karena kerumunan ini.


Tangan kakak yang kugenggam gemetaran, dipenuni oleh keringat dingin. Kulihat wajahnya memucat ketakutan. “Ka ... kak ...?” Aku menarik bajunya, kala detak jantung semakin kencang.

__ADS_1


“Argh!”


Tiba-tiba seorang prajurit terlempar di kerumanan. Beberapa orang seketika tewas, membuatku mematung kaku. Melirik ke belakang, nampak lautan api membakar separuh kota.


“Argh!”


Begitu banyak prajurit gugur. Dari dalam gumpalan asap terlihat beberapa sosok berbadan kekar muncul.


Hanya dalam waktu beberapa menit, para prajurit gagah perkasa dan tak takut mati gugur. Sementara mahkluk berbadan kekar dengan cakar panjang sudah mengelilingi kami semua.


Hari itu sudah bagai sebuah neraka untuku. Kakak mengorbankan diri agar aku selamat tidak terkena serangan akibat tak mempu bergerak. Hatiku hancur, air mata menetes di pipi, tetapi mulut tetap diam tanpa mengucapkan apa pun.


Entah karena beruntung atau sial, sekarang satu-satunya yang tersisa hanyalah aku. Semua warga sudah mati kecuali diriku.


Lututku melemas, jatuh berlutut di tanpa bisa bertindak. Mahkluk-mahkluk besar sudah mengerubungi serta menatapku. Wajah mereka menakutkan sampai membuat tubuh ini kehilangan kekuatan.


Mereka tertawa, di atas mayat para warga untuk memperlihatkan hal mengerikan padaku. Akan tetapi, saat salah satu dari mereka menjulurkan tangan, hendak menangkap diriku, sebuah keajaiban terjadi.


Sekitar setengah jam kemudian, seseorang mengulurkan tangan penuh darahnya padaku. Aku tersentak, melirik sejenak ke arahnya tanpa meraih tangannya.


Dia tak berekspresi, hanya melihatku sejenak lalu mengalihkan pandangan ke sekitar. “Ingin pergi dari sini?”


Aku menggelengkan kepala. Hati ini telah hancur sama seperti kota Rios. Mereka terlambat datang, dan sekarang hanya menyelamatkan aku seorang? Jangan bercanda! Semunya telah mati ... lalu aku ....


“Kau bisa bergerak, kan? Kenapa kau harus takut pada mereka?” Pria berambut merah dengan ikat kepala hitam itu kembali melirikku tanpa ekspresi. “Menara Harapan akan memberimu kekuatan agar bisa menyelamatkan orang lain.”


Seolah waktuku kembali berjalan, tangan ini meraih tangannya. Itu adalah sebuah pertemuan yang akhirnya membuat hidupku berubah. Anak lemah tersebut sekarang telah hilang.


***

__ADS_1


Waktu saat ini, Vord menghadap ke atas lalu menghantam pedang biru Jahad hingga terlepar jauh. Jahad langsung menghidar, sedangkan Vord bergeming sambil mengepalkan kedua tangan.


Raut wajah Vord masih datar, lagi-lagi muncul sesosok monster berwarna hitam di belakangnya seperti bayangan. Ia melangkah pelan, memperpendek jarak dari Jahad. Akan tetapi, Jahad seketika menghilang lagi.


“Hia!” Dari arah kanan, Jahad melesat menebaskan pedangnya.


Vord bereaksi, menahan tebasan pedang menggunakan tangan kosong. Kilatan cahaya saling beradu, saking cepat gerakan mereka membuat orang lain hanya bisa melihat kilatan cahaya.


Mengambil jarak lagi, Jahad melompat ke atas menebaskan pedang secara vertikal. Vord menyilangkan tangan, menahan serangan sampai menimbulkan gelombang udara.


Keduanya bergerak begitu cepat ke arah lain. Vord mengejar Jahad sambil melancarkan beberapa pukulan, membuat udara berubah jadi peluru api yang melesat cepat. Akan tetapi, Jahad selalu berhasil menangkisnya menggunakan pedang.


Vord melompat, memukul ke bawah dengan kekuatan besar. Tanah berguncang, debu berterbangan menutup penglihatan. Kilatan cahaya nampak saling beradu dalam gumpalan debu tersebut. Tanah pun kembali berguncang bahkan retak.


Dua orang melompat keluar dari gumpalan debu. Masing-masing bersinar pada malam gelap ini. Mereka berdua tiba-tiba berhenti bergerak, melayang tenang di udara.


“Boleh juga kau.” Vord tersenyum tipis, tanpa mengalihkan tatapan dari Jahad.


“Haah ... kau membuatku terkejut.” Sebisa mungkin Jahad tidak memperlihatkan kalau napasnya terengah. Mulutnya mendadak mengeluarkan darah segar. Namun dia langsung mengusapnya tanpa pikir panjang.


“Sepertinya pil yang kaumakan tadi mulai memunculkan efek sampingnya ....” Dengan sengaja, Vord memprovokasi Jahad. “Lebih baik kau pulang lalu tidur selamanya di tempat gelap.”


“Seharusnya aku yang mengatakan itu untukmu.” Untuk terakhir kalinya pada malam ini, Jahad memasang kuda-kuda dan mengarahkan pedang ke depan menggunakan kedua tangan. “Mari kita akhiri.”


Tidak meremehkan lawan, Vord menjentikkan jari. Sebuah buku dengan warna abu-abu muncul dan mengambang tepat di depannya. Ia menyentuh buku tersebut, saat halamannya terbuka, sebilah pedang panjang berwarna abu-abu di tangan kanannya. Sesaat setelahnya, buku tadi menghilang begitu saja.


“Pedang Zero. Mari kita lihat apakah kau bisa menahan tebasannya.” Vord mengarahkan pedangnya ke depan.


“Heeh ... apa kau yakin itu bisa mengalahkan Pedang Blue Sky-ku?” Penuh percaya diri, Jahad kembali tersenyum lebar.

__ADS_1


“Ternyata kekuatanmu berasal dari sana. Pedang Blue Sky mampu bersatu dengan pemiliknya, pantas saja kau bisa mengeluarkan pedang itu sesukamu dan menambah kekuatan. Tapi, Pedang Zero-ku masih jauh lebih baik.”


Melesat secepat suara, keduanya pedang mereka beradu sampai membuat sebuah kilatan cahaya serta suara nyaring.


__ADS_2