The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 11 : Kekuatan Asli Darwis


__ADS_3

Sesaat setelah Darwis berpisah dengan Leon, dirinya langsung dikepung oleh beberapa orang dari Klan Naga. Di antara mereka ada Zanik yang tengah memegangi tangan kanannya sendiri dengan tangan kiri. Melihat situasi ini, Darwis tetap tenang, seolah tidak akan terjadi apa pun di sini.


“Hei, Mahkluk jadi-jadian!” kata Zanik, mencoba memancing emosi Darwis. “Menyerahlah sekarang, atau kau akan mati.”


Darwis sedikit tertawa, seolah ancaman tersebut hanya sebuah bualan. “Kau menyuruhku menyerah, padahal dirimu sudah babak belur seperti itu. Apakah kau waras?”


Kondisi Zanik saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bertarung. Energi di kristalnya telah habis karena pertarungan tadi. Selain itu, ia juga tak bisa bertahan tanpa adanya pemulihan dari evolusinya. Klan Naga tampak sangat menghawatirkan. Di mana Kaiser, Scof, serta Zanik sudah sangat lemah. Cuma tersisa Glory dan Ray yang mungkin masih memiliki cukup energi.


Akan tetapi, walaupun tidak sempat mengisi energi dengan terik matahari yang panas, Darwis telah menyerap energi panas yang di hasilkan oleh pertarungan sengit beberapa lalu. Ditambah, waktu isthirahat membuat tenaganya pulih kembali. Ini semacam keberuntungan tersendiri bagi Darwis.


Tanpa berlama-lama, Darwis langsung mengeluarkan sayap apinya. Zanik dan kelompoknya mundur beberapa langkah karena terkejut dengan tindakan Darwis ini. Namun, dengan penuh percaya diri, Zanik tetap menyemangati para rekannya. “Jangan takut, itu hanya gertakan. Kita berlima, sedangkan dia hanya sendiri.”


Darwis sedikit tersenyum, lalu menciptakan sebuah bola api di telapak tangan kirinya. “Begitukah. Aku akui kalian memang menang jumlah, tetapi dalam serangan, jangan harap kalian unggul dariku.”


“Ray!” seru Zanik.


Sebuah dinding besar langsung memerangkap Dawis, tetapi mahkluk setengah manusia itu tidak bergerak sedikit pun karena situasi ini. Bola api di tangannya menjadi lebih padat dari sebelumnya. “Seharusnya aku menunjukkan ini sedari awal.” Tanpa ada yang tahu, ternyata Darwis memiliki sebuah rahasia lain, yang menjadi alasan kenapa dia mampu menghancurkan serangan Andrew waktu itu.


“Di dunia ini, yang terkuat bukan hanya Andrew seorang, tetapi aku juga.” Pedang di tangan kanannya masih belum dia gunakan, karena merasa tindakan tersebut tidak diperlukan. “Jangankan dinding tanah yang rapuh. Bola cahaya raksasa saja dapat kubelah.”


Setelah dirasa cukup padat, Darwis langsung melemparkan bola api tersebut dengan sekuat tenaga ke arah dinding. Dalam sesaat, dinding tanah berlubang akibat serangan kuat dari Darwis.

__ADS_1


“Glory, sekarang!” Terdengar sebuah seruan nyaring dari Zanik kepada temannya.


Tiba-tiba sebuah petir meluncur cepat ke arah Dawis. Namun, Darwis dengan santai mengarahkan ujung pedangnya ke depan untuk menghadapi serangan tersebut.


Debu bertebaran kala sebuah ledakan menghancurkan dinding tanah yang tadinya memerangkap Darwis. Zanik juga kelompoknya sangat berharap Darwis mati karena serangan petir tadi. Sedikit demi sedikit debu mulai pergi dibawa oleh angin malam yang dingin. Dari dalam kumpulan debu tersebut, tampak sesosok mahkluk berkulit coklat tengah mengarahkan pedangnya ke depan.


“Mustahil. Dia bahkan sanggup menahan sambaran petir tadi dengan mudahnya.” Mata Kaiser terbelalak lebar, tidak percaya dengan situasi ini.


“Mungkin saja dia sudah gosong,” sahut Scof, mencoba mencairkan suasana.


Namun, perkataan Scof benar-benar salah, sebab Darwis masih berdiri tegak tanpa ada luka sedikit pun. “Siapa yang kau sebut sudah gosong, hah?”


Sebuah bola api melesat cepat, menembus perut Scof hingga berlubang layaknya sebuah terowongon. Bahkan, saking panasnya bola api tersebut, luka di perut Scof sampai kering dan tidak mengeluarkan darah. Scof pun jatuh terbaring di tanah dengan mata yang terbelalak lebar.


“Orang-orang bodoh,” gumam Darwis. Energi murni langsung mengelilingi Darwis dan menahan bola api tadi. “Jika aku tak memiliki kemampuan mengendalikan energi murni ini, sudah sangat pasti diriku hancur saat menahan serangan Andrew waktu itu.”


Tak lama berselang, sebuah petir mengarah tapat pada Darwis, disusul oleh beberapa tangan tanah raksasa. Namun, seberapa pun Zanik dan rekan-rekannya melawan, semua itu bagai tak berarti bagi Darwis.


“Kau!” Mendadak, Zanik memaksakan dirinya untuk menyerang Darwis menggunakan bola magma.


Darwis menghentakkan kakinya ke tanah, kobaran api mengelilinginya, kemudian merambat cepat ke sekitar. Zanik juga rekannya terkena serangan Darwis itu, tetapi bola magma yang dilemparkan Zanik masih dapat tertahan oleh pelindung energi murni milik Darwis.

__ADS_1


Tatapan mata Darwis berubah menjadi tatapan bosan seekor monster mengerikan. “Sebagai salah satu penjaga, mana mungkin aku akan kalah dari kalian semua. Tentang terbentuknya hutan beserta segala hal yang ada di sini, aku sangat tahu. Sebenarnya, selama ini aku sangat ingin bermain-main dan menikmati hari-hariku sembari menjalankan tugas, tetapi waktu berkata lain.”


Di luar dugaan, Zanik dan kelompoknya berhasil bertahan karena dinding tanah yang dibuat oleh Ray. Sementara itu, Darwis hanya menatap dengan bosan mereka semua. Satu-satunya orang yang dianggap kuat oleh Darwis hanyalah Andrew dan satu orang lain. Dan tugasnya di sini sekarang ialah membunuh Andrew bagaimanapun caranya.


Tiba-tiba, sebuah ledakan besar bergengung di telinga. Jauh di sana, terlihat dua orang tengah bertarung. Darwis menoleh sesaat, kemudian kembali menatap orang-orang di hadapannya. “Kalian semua tidak pantas menjadi lawanku sekarang. Pahamilah itu.”


Zanik yang mendengar kalimat itu langsung tersentak. Dia pikir, hanya Andrew orang terkuat di sini, tetapi tenyata dia terlalu picik hingga tak bisa melihat dunia dengan luas. Sekarang dia paham kalau dirinya hanya seekor semut ketika orang-orang hebat muncul. Mentalnya menciut sebab dulu dia menganggap orang terkuat adalah dirinya, tetapi fakta mengatakan hal lain.


Pasrah akan keadaan, Zanik hanya bisa jatuh berlutut di tanah sambil bergumam, “Aku kalah.”


Rekan-rekan juga demikian. Setelah tahu kekuatan Darwis sangat menakutkan, mereka tak sanggup berbuat apa-apa. Namun, Kaiser tetap keras kepala dan berlari ke arah Darwis. “Mahkluk jadi-jadian sialan!” Satu pukulan dilancarkan oleh Kaiser, tetapi Darwis dapat mengelak dengan mudah.


Pukalan demi pukulan dilancarkan Kaiser. Walau begitu, Darwis bisa dengan mudah menghindar, karena serangan Kaiser itu hanya pengalihan rasa frustasinya sendiri. “Menyedihkan,” kata Darwis yang langsung memotong tangan Kaiser, kemudian menusuk kepala pemuda itu sebelum sempat berteriak. “Dengan begini, satu masalah telah selesai. Saatnya mengakhiri waktu berpura-pura ini.”


Sebuah teriak kesakitan mendadak menggema, ketika Darwis melirik ke sumber suara itu, matanya langsung terbelalak lebar melihat apa yang terjadi di sana. Mengabaikan semuanya, Darwis melesat dengan cepat ke atas menggunakan sayapnya. Namun, terlambat sudah, Leon, orang yang berteriak kesatikan tersebut telah tak sadarkan diri dan dibuang oleh Andrew.


“Brengsek!” Begitu banyak serangan bola api dilancarkan oleh Darwis ke arah Andrew. Akan tetapi, Andrew dengan mudah menangkisnya.


Ketika Darwis hendak melesat menyelamatkan Leon, Andrew langsung menghalangi. Kemudian, pertarungan pun terjadi hingga Leon jatuh terbaring di lantai beton setelah menghancurkan atap sebuah rumah.


“Minggir!” Darwis mengalirkan energi di pedangnya, lalu menebaskannya pada Andrew.

__ADS_1


Sementara itu, Andrew membuat pedang cahaya di tangannya dan beradu pedang dengan Darwis. Serangan demi serangan dilancarkan Darwis, tetapi Andrew dengan gigih menahan semua serangan tersebut sembari mencari celah.


__ADS_2