
Aku kembali menghela napas, memandangi tempat di mana gedung yang tadinya berdiri tegak, kini telah rata dengan tanah. Namun, sejak tadi Flicker tak terlihat oleh mataku, sebenarnya ke mana ia pergi? Sangat wajar sih, pergi jauh demi mempertahankan nyawa, tetapi ....
Jika dipikir lagi, sudah tak ada alasan baginya untuk kembali ke sini. Memang sangat wajar, karena awalnya kami berpisah, jadi dia pikir itu adalah sebuah perpisahan jangka lama. Dan akan bertemu lagi saat takdir berkehendak. Selain itu, ada kemungkinan kalau dia tewas saat kekacauan tadi. Kuharap aku salah mengenai hal tersebut.
“Jadi, bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Itu ....” Aku merasa aneh menanyakan hal tadi. “Maksudku, apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Sejenak, Darwis memalingkan pandangannya ke sekitar, yang terlihat hanya tempat kosong tanpa ada apa pun selain puing-puing bangunan. Beberapa debu masih berterbangan, tetapi tidak terlalu mengganggu. Mungkin lebih baik kami segera pergi dari sini, risikonya sangat besar bersantai di lapangan ini. Tidak ada tempat untuk bersembunyi jikalau ada yang menyerang.
Aku berdiri, memandang Darwis sesaat untuk memberi aba-aba. Ia mengerti apa yang kumaksud, lalu dia pun berdiri sambil menghadap ke arah hutan, sama sepertiku. Satu-satunya tempat yang mungkin aman saat ini adalah hutan, walaupun ada kemungkinan kalau musuh bersembunyi di sana, tetapi masih lebih baik daripada harus menunggu ajal menjemput di tanah lapang, di mana kami berada.
Dengan tenang, kami melangkahkan kaki secara bersamaan, tidak ada siapa pun di sekitar, tetapi harus tetap waspada dengan kemungkinan terburuk. Tak lama, kami akhirnya sampai di dalam hutan, suasana sunyi tanpa ada tanda kehadiran seseorang ataupun sesuatu. Di atas kami, langit terlihat mendung, dan akhirnya hujan turun. Akhir-akhir ini, hujan begitu sering turun, ditambah kakacauan tadi yang membuat petir menyambar bumi, sudah pasti terjadi hujan.
Di bawah pohon rindang, aku dan Darwis berteduh, menghindar dari hujan walau hanya sedikit. Suhu begitu dingin, karena pakaianku telah terbakar habis, dan tersisa celana saja. Sama halnya dengan Darwis yang cuma memakai celana usang tak layak pakai. Meskipun itu bukanlah masalah, karena tujuan kami di sini bukan untuk menggoda gadis, tetapi bertahan hidup mencari jalan keluar.
Tiba-tiba, sebuah petir menyambar tempat kami berada. Beruntung, aku masih bisa membuat suatu pelindung menggunakan Teknik Memanipulasi Bayangan yang kupunya. Sudah jelas kalau ini bukanlah kebetulan, pasti sambaran petir tadi merupakan serangan seseorang, entah sengaja ataupun tidak sengaja.
“Tampaknya kita harus lebih waspada dan tidak terus beristhirahat.” Darwis yang tadinya duduk, langsung berdiri.
__ADS_1
“Tapi kondisimu tidak memungkinkan.” Aku mencoba untuk menghentikannya.
“Masih lebih baik memaksakan diri daripada harus mati tanpa melawan.”
“Kau yakin dengan itu?”
“Ya, aku sangat yakin.”
Tampaknya aku tak bisa menghentikan tekad Darwis. Kuhela napas panjang, kemudian memandangi sekitar yang kosong, tanpa ada orang lain selain kami. Hujan semakin lebat, tetapi bukan masalah besar. Hal terpenting sekarang, kami harus secepatnya mengakhiri semua penderitaan ini.
“Oke ... mari kita ucapkan selamat tinggal dengan semua hal yang tenang, lalu selamat datang pada hari yang melelahkan.”
“Jangan hanya membual, cepat kita tuntaskan masalah yang ada di hadapan kita.” Tak kalah semangat, Darwis pun mulai mempersiapkan diri. Kini, tersisa dua pilihan terakhir, mati atau menjadi pemenang.
“Hei! Kau tidak melupakan sesuatu, kan?”
“Hm ....” Darwis langsung menoleh padaku, ketika mendengar pertanyaan tadi. “Apa maksudmu?”
“Senjata.”
“Astaga, aku lupa.” Dia pun bergegas kembali di lapangan tempat kami berdiam tadi.
__ADS_1
Baiklah, aku akan mencoba beberapa hal. Sebelum itu, aku perlu memastikan sesuatu. Pertama, cara kerja kristal menyerap energi sangatlah mudah, hanya dengan menenangkan diri dan berkonsentrasi merasakan sekitar, energi akan terserap secara otomatis. Kemudian, energi yang telah terkumpul dapat digunakan sesuai kemauan, tetapi tetap dalam batas tertentu.
Aku mengangkat tangan kiri, lalu berkonsentrasi untuk menutupinya menggunakan Teknik Manipulasi Bayangan. Tak lama, apa yang kupikirkan langsung terjadi. Ya, ini sama seperti dugaanku sebelumnya. Namun, kata Darwis, jumlah energi yang dapat ditampung oleh kristal terbatas. Dan jika menggunakan kristal melebihi batasnya, maka kematian berada tepat di depan mata.
Beberapa waktu kemudian, Darwis datang membawa pedang. Dia tidak membawa cambuk lagi seperti dulu. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Ingin aku bertanya, tetapi tak jadi ketika rasa penasaran itu langsung menghilang bersama dengan satu sambaran petir lain entah di mana.
“Ke mana kita akan pergi?” tanyaku.
“Bagian tengah kota.”
Itu artinya tujuan kami adalah tugu yang kulihat beberapa saat lalu. Sepertinya dugaanku benar lagi, di sana pasti terdapat sesuatu yang menjadi kunci bagi akhir perjalanan kami. Aku tak sabar menantikannya.
“Tapi, apakah kita harus meninggalkan Flicker?”
“Apa yang kau katakan?” Darwis terlihat begitu tak peduli ketika aku menyinggung soal Flicker. “Dia pasti berpikiran sama seperti kita, yaitu pergi ke tengah kota.”
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”
“Tentu saja karena aku yakin kalau dia mengerti semua tragedi dan kejadian selama ini memiliki tujuan akhir, yaitu di tengah kota mati tempat kita berada.” Dia berhent bicara selama beberapa detik. “Itu pun kalau dia tidak mati.”
Jadi, kesimpulannya, abaikan saja Flicker dan terus berjalan ke tengah kota. Lagipula aku juga tidak terlalu peduli apakah ia hidup atau mati. Yang penting, semua tujuanku tercapai, itu sudah cukup.
__ADS_1
Kami pun memulai perjalanan menuju tempat terakhir—tengah kota—melewati hutan. Memang sangat panjang perjalanan karena harus memutar, tetapi lebih aman dibandingkan langsung berjalan memotong di tengah kota. Aku akui kalau menggunakan jalan memotong sangat menghemat waktu, dan itu sebanding dengan risiko yang nantinya akan diterima. Setidaknya, lebih baik perlahan daripada langsung mati disergap musuh.