
Leon berserta teman-temannya—termasuk Ni—berteduh di dalam bangunan tak terpakai ini hingga petang. Di depan jendela yang sudah pecah, Sun menatap ke luar mengawasi apakah ada musuh atau tidak.
Semuanya begitu tenang, matahari sebentar lagi akan tenggelam seutuhnya, dan mungkin malam ini mereka akan tinggal di sini sampai besok. Sun menghela napas panjang kemudian kembali ke tempat di mana teman-temannya berada.
“Sepertinya malam ini kita lebih baik bermalam di sini saja. Situasi di luar sana memang tenang, tetapi apa salahnya berhati-hati. Aku takut jika kita berjalan pada malam hari, seekor Tack akan menghadang kita,” ucap Sun sembari duduk di samping Leon.
“Tidak, Sun! Kita akan mengembara tepat pada tengah malam,” bantah Leon.
“Apa kau gila?” Sun seketika berdiri lalu meraih kerah baju Leon. “Kau mungkin tidak tahu, tapi Tack itu bukan mahkluk yang bisa kita hadapi!”
“Kurasa berjalan pada tengah malam akan lebih baik karena kita tidak merasakan suhu yang begitu panas.”
“Aku lebih memilih menghadapi hawa panas dibandingkan menghadapi Tack!”
Meskipun mengerti kalau mungkin Tack itu cukup kuat, Leon tetap saja penasaran seperti apa sebenarnya wujud mahkluk tersebut. Sebelumnya, ia sudah membaca tentang mahkluk luar angkasa yang menyerang bumi ini, tetapi masih belum melihat bagaimana gambar Tack. Setelah bertanya ke sana sini, sebuah jawaban akhirnya ia dapatkan. Alasan kenapa mahkluk bernama Tack tidak ditunjukkan di dalam buku karena memang tak ada yang tahu wujudnya.
Pada saat membaca artikel tentang Tack, hanya ada gambar berwarna hitam yang ditampilkan bersama artikel. Dari sini, Leon berpikir apakah Tack adalah mahkluk yang berbentuk seperti bayangan tanpa bentuk asli?
“Meskipun kau terus mengoceh tentang Tack, kau belum tahu wujud mahkluk itu, kan?” Sebuah pertanyaan dilontarkan oleh Leon kepada Sun.
“Itu ....” Sun merasa ragu untuk menjawab. “Kau benar, aku memang tak pernah melihat wujudnya. Tapi, di dalam artikel tertulis bahwa mahkluk-mahkluk tersebut selalu muncul pada malam hari bagai sedang berpatroli. Kekuatannya juga tidak kalah dari Tan.”
“Pikirkan baik-baik, Sun. Jika kita bergerak pada siang hari, terdapat dua masalah. Pertama, sinar matahari yang begitu menyengat, dan kemungkinan bertemu Tan juga tinggi.”
“Ya, itu benar. Tapi apa kau memikirkan masalah jika bergerak pada malam hari. Kita akan kesulitan melihat musuh tanpa bantuan senter!”
“Memang merugikan. Apakah kalian tidak bisa melihat pada malam hari?” Leon memiringkan kepala.
Sun akhirnya melepaskan tangannya dari kerah pakaian Leon. “Kami hanya prajurit biasa, tidak mungkin bisa melakukannya. Memang benar kami lebih kuat dari manusia biasa, tapi untuk bisa melihat dengan jelas pada malam hari hanya bisa dilakukan oleh Pelahap Energi tingkat 2 ke atas. Dan tentu saja Mahkluk Fantasi.”
__ADS_1
“Kalau begitu, kita tidak punya pilihan selain bergerak pada pagi hari.” Pada akhirnya Leon memutuskan untuk bergerak pada pagi hari. Ia tak ingin membahayakan nyawa orang lain demi mencapai tujuan.
Dengan santai sambil memasukkan tangan di dalam saku celana, Leon berjalan menuju jendela. Ia diam lalu mengamati sekitar. Situasi begitu tenang, saking tenangnya hingga membuatnya mendapat firasat buruk.
“Argh!”
Leon lantas berbalik ke belakang sumber suara teriakan tersebut. Beberapa ledakan terjadi, debu berterbangan di sekitar sampai membuat Leon susah melihat.
“Sial! Ada ap—” Belum sempat Leon menyelesaikan kalimatnya, dirinya sudah terpental jauh ke dinding hingga keluar dari bangunan.
Masih tak dapat memahami keadaan, Leon sekali lagi menerima pukulan di perut sampai terhempas di tanah. “Argh ....” Matanya tertutup, dan darah keluar dari mulutnya.
Dengan kecepatan tinggi, sosok seperti bayangan lantas mendekat hendak menyerang Leon lagi. Namun, pemuda itu segera bangkit lalu melancarkan pukulan ke atas, berbenturan langsung dengan pukulan sosok yang menyerang.
“Argh!” Leon terhuyung ke belakang. Tangan kanannya gemetar hebat usai menerima serangan tadi. “Sial! Kuat sekali dia!”
Ellise, apa kau bisa melacak keberadaan musuh kita? Leon segera meminta pertolongan pada Ellise.
Sedang kucari .... Ellise berkonsentrasi pada kekuatan, lalu, Leon! Di depan!
Apa? Belum sempat Leon bereaksi, sebuah pukulan berhasil menghempaskannya lagi ke dinding bangunan. “Brengsek ....” Leon hendak bangkit, kemudian sosok seperti bayangan kembali melesat secepat kilat.
Namun, kali ini berbeda. “Kau tidak akan pernah kuampuni!” Sosok yang menyerang seperti bayangan tadi langsung terkurung di dalam bola hitam milik Leon. “Haah ... haah ... haah ....” Sekarang Leon begitu kelelahan karena serangan beruntun tadi.
Leon mengusap darah di mulutnya sembari mengatur tarikan napas. Sedikit lega karena bisa mengurung lawannya saat ini. “Sekarang aku harus menyelamatkan para dungu itu.”
Dengan langkah pelan, Leon berjalan menuju bangunan tempat teman-temannya diserang. Kondisinya sekarang memang terluka, tetapi ia masih bersikeras untuk menyelamatkan orang-orang di sekitarnya.
Hei, sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kalau tidak, kau bisa mati! Ellise sangat menghawatirkan keadaan Leon.
__ADS_1
Tidak, Ellise ... aku harus menyelamatkan mereka.
Tapi dengan kondisimu ini ....
Aku tahu, tapi aku harus.
Baik Leon maupun Ellise sadar bahwa kondisi Leon masih belum juga stabil usai mengalahkan Tan kala itu. Mereka berdua juga tidak menyangka kalau serangan jiwa Ellise waktu itu ternyata mengguncang jiwa Leon juga.
Untuk sekarang, Leon belum bisa mengeluarkan kekuatannya sepenuhnya. Ditambah lagi, berhadapan dengan Vord-lah yang membuat keduanya sadar kalau kekuatan Leon jadi tidak stabil karena jiwanya ikut terguncang.
Ellise, jika semisal keadaan menjadi semakin buruk, gunakan lagi serangan jiwamu memakai kekuatanku.
Kau gila? Atau kau memang sudah berniat untuk mati?
Aku tidak akan mati. Kumohon mengertilah. Jika aku kehilangan teman lagi, apa artinya semua ini?
Leon .... Kalimat Leon membuat Ellise tak kuasa menolak. Baiklah, tapi kalau kuanggap itu terlalu berbahaya, kau jangan terlalu berharap aku mengabulkannya. Mendadak Ellise menyadari sesuatu. Leon, di belakang!
“Hia!” Leon segera berbalik. Kedua kalinya ia beradu pukulan dengan sosok yang menjadi lawannya. Sialan ... sepertinya kulit mahkluk ini jauh lebih keras dari Vord.
Dalam sekejap mata, Leon kehilangan musuhnya lagi. Matanya hanya dapat melihat bahwa mahkluk tersebut berwarna hitam, dan ia masih belum bisa menatap mata sang musuh secara langsung.
Namun, kekacauan juga terjadi di sisi lain bangunan. Suara runtuhnya dinding dapat terdengar oleh Leon, tetapi di sini ia berurusan dengan musuh lain sehingga tak dapat membantu temannya.
“Ini menyebalkan! Aku harus segera menyelamatkan teman-temanku.” Leon melirik ke sana sini, mencoba mencari keberadaan musuh.
Maaf sebelumnya karena update gak nentu. Kemarin kondisi saya sedikit memburuk sehingga tidak update, dan hari ini saya memaksa untuk update. Semoga kalian suka dengan chapter ini.
__ADS_1