
Akhirnya, waktu yang dinanti telah tiba. Sekarang Leon dan teman-temannya dipersilahkan untuk meninggalkan tempat rehabilitasi.
Sudah berapa lama kiranya mereka tidak menghirup udara segar pada pagi hari. Leon merasakan udara sejuk yang begitu nyaman memenuhi sekujur tubuhnya. Pikirannya kembali merasakan rasa sejuk yang telah lama tidak ia rasakan.
Di bawah sebatang pohon besar dan langit cerah dengan sedikit awan, Leon dan teman-temannya berdiri sejajar sambil menatap ke atas. Suasana begitu tenang, seakan dunia telah damai kembali.
"Hei, apakah kalian ingin kekacauan ini berakhir dengan cepat?" Secara mendadak Leon menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas itu.
"Tentu saja. Kaupikir kami senang bisa terus bertarung sementara banyak nyawa melayang karenanya?"
"Yeah, aku memang bodoh telah menanyakan hal itu. Maafkan aku, Sun."
"Haha, terkadang orang bodoh sepertimu akan merubah banyak hal."
"Aku tidak tahu apakah itu ejekan atau pujian ...."
"Entahlah...."
Pagi itu mereka habiskan dengan bersantai selagi ada waktu. Mungkin tidak lama lagi pertarungan sesungguhnya akan tiba. Jadi, mereka harus selalu siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
***
Kota Heels, setelah satu bulan Vord kembali usai mengantar Leon dan yang lainnya ke Menara Harapan. Pemuda itu duduk membaca buku di atas singgasana, membiarkan kesunyian menenangkan dirinya.
Tak lama, Vord berdiri, menuju jendela dan menatap ke depan. Semuanya masih aman seperti sebelumnya. Akan tetapi, entah kenapa Vord memiliki firasat buruk di benaknya.
"Ah, lupakan. Mungkin saja ini hanya pikiran burukku yang lain." Vord menggelengkan kepala, lalu kembali duduk di atas singgasana.
Cukup berbeda rasanya ketika Sun tidak ada di sini, tetapi Vord tak mau menghawatirkan pemuda itu sekarang. Ia tahu kalau mereka pasti akan baik-baik saja, dan mungkin akan kembali setelah beberapa waktu. Meskipun begitu, tentu saja Vord lebih berharap kalau situasi merepotkan tak akan pernah terjadi.
Vord lantas teringat pada sesuatu hal ketika memikirkan tentang Sun dan yang lainnya. Ini adalah salah satu percakapan dengan seorang pria tua di laboratorium Menara Harapan.
Kala itu, pria tua tersebut mengatakan pada Vord jika peperangan besar akan segera tiba. Setiap waktu Vord memikirkan hal itu, dan seiring berjalannya waktu, firasatnya juga mengatakan hal buruk segera tiba.
"Sepertinya mengurung diri di dalam ruangan hanya akan menambah lebih banyak pikiran buruk masuk ke dalam kepalaku. Aku memerlukan udara segar." Segera Vord menutup buku, kemudian berjalan keluar dari ruangannya.
Sesungguhnya ia tak tahu harus pergi ke mana, tetapi mungkin berjalan-jalan mengelilingi kota bukan hal membosankan. Sambil menghela napas panjang, Vord berjalan keluar dari gedung menuju ke jalan untuk sekedar melihat-lihat.
Ketika sedang berjalan, Vord tanpa sengaja berpapasan dengan seorang gadis yang merupakan salah satu Pelahap Energi tingkat 2 dan baru saja datang ke sini seminggu lalu.
"Hei, Starla!" Langsung saja Vord menyapa gadis itu.
__ADS_1
"Kebetulan sekali bertemu denganmu, Vord." Gadis dengan rambut pendek sebahu tersebut berpaling ke arah Vord.
"Sedang apa kau pagi ini?" Perlahan Vord mendekati gadis ramping dengan pakaian seksi tersebut, dan menyamai langkah kakinya.
"Aku berencana mengelilingi Kota Heels ini sekarang. Kurasa pagi hari bukanlah saat yang buruk untuk melakukannya."
"Seorang diri?"
"Sepertinya tidak."
"Jadi kau sedang menunggu seseorang?"
"Tidak juga."
"Lalu apa?" Sungguh, Vord tidak mengerti dengan gadis ini.
"Itu karena aku sedang bersamamu, makanya kubilang tidak sendiri."
"Apakah sejak awal kau memang ingin mengejekku?"
"Aku tidak mengejekmu. Aku hanya menyampaikan fakta."
Vord lantas memalingkan pandangan ke arah lain. "Terserah kau saja."
Yeah, meskipun sedikit menyebalkan, Vord tidak bisa membenci gadis ini walau bagaimanapun juga. Dan sangat tidak logis kalau ia sampai benci padanya hanya karena hal sepele. Namun, Vord merasa pernah melihat gadis ini sebelumnya, tapi di mana?
Berhenti mengingat masa lalu yang bahkan tidak ingin ia ingat, Vord kembali menghela napas sambil terus berjalan ke depan.
Beberapa warga tampak menyapa serta melambaikan tangan pada mereka berdua. Ada juga yang terkagum serta terpana melihat Vord berjalan di sekitar mereka. Ya, seperti perkiraan, itu adalah para gadis yang jatuh cinta padanya, tetapi tidak terbalaskan.
Akhirnya, Vord dan gadis bernama Starla sampai di perbatasan. Di mana terdapat gerbang besar dengan beberapa penjaga.
Angin berembus kencang, menerpa tubuh keduanya serta menghantarkan udara segar. Debu juga ikut melayang terbawa angin, akan tetapi tidaklah terlalu mengganggu.
"Akan sangat indah rasanya jika dunia menjadi lebih baik dari sekarang." Kalimat tersebut keluar dengan lancar dari mulut Vord.
"Ya, aku juga merasa seperti itu." Starla mengusap keningnya sesaat. Setelah itu, dia mencoba mengganti topik pembicaraan. "Vord, apa kau sudah memikirkan apa yang akan kaulakukan untuk selanjutnya?"
Vord terdiam sejenak, masih menatap langit biru tanpa ekspresi. "Kupikir aku akan tetap melindungi kota ini sampai menemukan penerus yang tepat."
"Kau tidak memiliki niat untuk merubah dunia?"
__ADS_1
"Tanggung jawab tersebut terlalu besar untuk kuemban. Aku merasa, meski hanya seperti ini, semuanya tetap baik-baik saja."
"Begitu ya...."
Entah apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh Starla benar-benar tidak dapat diketahui oleh Vord. Namun, Vord juga tak terlalu memikirkannya.
Mendadak saja, Vord berpaling ke belakang. Rasanya ada sesuatu yang tengah terjadi jauh di sisi lain kota.
"Ada yang tak beres! Aku harus segera memeriksanya!" Vord langsung saja melesat ke depan menggunakan kecepatan penuh.
Debu berterbangan mengikuti arahnya berlari. Ada sebagian warga yang juga terkena gelombang angin yang begitu kecil.
Vord melompat, melayang di udara sambil tetap melesat ke depan. Jauh di sana, matanya melihat para prajurit biasa dan Pelahap Energi tingkat 3 tengah menyerang seekor makhluk yang sedikit lebih besar dari Manusia.
"Sial! Itu adalah Tan! Bagaimana mereka bisa sampai ke sini!"
Vord langsung mendarat tepat di depan para prajurit. Kedua tangannya ia rentangkan, memberi isyarat untuk berhenti menyerang.
"Mundur! Masuk ke dalam pelindung! Jika hanya dia sendiri saja, pelindung akan mengurusnya!"
"Tapi, Tuan...." Salah seorang prajurit biasa hendak mengatakan sesuatu.
Sebelum prajurit tersebut berkata, Vord sudah tahu apa yang hendak dikatakannya.
"Ini bahkan jauh lebih buruk...."
Bagaimana tidak, begitu banyak Tan bergerak bersamaan menuju ke arah kota. Jika dilihat pertama kali, mungkin jumlah mereka sekitar 100 ekor.
"Taun Vord! Gawat! Di sisi selatan juga muncul banyak Tan!" Dengan napas terengah, seorang pemuda berpakaian coklat berseru.
Keadaan mendesak ini membuat Vord sangat kerepotan. Bagaimana caranya untuk melawan begitu banyak Tan seorang diri?
"Cih! Baiklah! Kalian semua! Cepat bawa para penduduk di Shelter bawah tanah! Kawanan makhluk brengsek ini biar aku tangani!"
Aura abu-abu muncul di belakang Vord. Membentuk wujud seekor monster yang setiap saat membesar bagai sebuah balon.
"Kau akan segera hancur karena melawan kami, Vord Hasle...."
Suara tersebut berhasil membuat Vord menengadah. Tepat di atas sana tampak seorang pria yang sangat familiar.
***
__ADS_1
Cek out my youtube channel: Careless Boy
Thankyou.... 👋