
Leon dengan sosok seekor mahluk setengah monster, mulai berdiri tegap dan menatap monster besar yang ada di depannya. Meskipun raga berwarna hitam itu adalah milik Leon, tapi kesadaran yang ada di dalamnya bukanlah Leon. Sosok hitam yang ukurannya sedikit lebih besar dari manusia itu, berjalan perlahan ke arah monster besar di depannya.
Sosok itu sedikit mengerang dan memamerkan taring tajamnya. Dengan gerakan secepat kilat, sosok tersebut melompat ke atas monster besar yang ada di depannya.
Mulut sosok hitam itu terbuka lebar, memperlihatkan taring-taringnya yang tajam juga panjang. Dia mengaum, taringnya yang tajam melekat di pundak monster besar yang ia lawan. Tangan sosok hitam itu mengeluarkan beberapa cakar yang digunakan untuk menusuk tubuh monster yang menjadi lawannya.
Monster berbulu hitam mengamuk, dia mengaum sekencang mungkin, lalu menarik tangan kanannya untuk memukul sosok hitam yang menempel. Menyadari bahaya akan mendekat, sosok hitam langsung melompat ke atas dengan menarik tubuh menggunakan kedua tangan.
Melayang sementara di udara, sosok hitam kembali membuka lebar mulutnya dan hendak mengunyah kepala monster berbulu hitam. Sosok hitam menusukkan cakarnya ke leher monster berbulu hitam, dan menginjakkan kakinya pada pundak sang monster.
Monster berbulu hitam murka dan mulai memberontak. Sang monster menggoyang-goyangkan kepala dan tubuh bagian atas agar sosok hitam terjatuh. Walau begitu, sosok hitam hanya bergeming sambil mempertahankan diri agar tidak jatuh.
Tak tahan terus diguncang, sosok hitam pun melompat ke bawah. Menggunakan kecepatan penuh, sosok hitam lantas menerjang kaki sang monster. Namun, monster berbulu hitam langsung menendang sosok hitam sampai terlempar sangat jauh.
Terbaring, sosok hitam itu terbujur lemah dan tak kunjung bangun. Di atas luasnya padang rumput, pertarungan antara monster dan sekelompok manusia masih terus berlanjut.
***
Tubuhku terasa panas, tetapi diri ini tidak tahu berada di mana. Napas terasa berat, sekujur raga juga berkeringat. Ingin rasanya untuk berucap, namun mulut tak dapat terbuka.
Di mana aku ini?
Apa yang bisa kulihat hanyalah sebuah pemandangan gelap dan hampa. Sedikitpun mata ini tak dapat melihat seberkas cahaya.
__ADS_1
Tiba-tiba, bagai tertarik oleh sebuah magnet, kesadaranku terangkat ke atas. Dalam sebuah dentuman kecil, aku kembali melihat cahaya matahari yang menyinari bumi.
Kepala ini terasa pusing, dan badanku entah bagaimana, bergerak dengan sendirinya. Tanpa ada keinginan untuk berjalan, mendadak kaki ini melangkah dengan cepat menuju ke arah monster berbulu hitam.
Apa-apaan ini, kenapa aku bisa jadi seperti sekarang?
Ketika melirik tanganku yang terayun, aku lantas kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan keterkejutanku.
Apa yang terjadi padaku?
Ingin rasanya aku menangis melihat keadaan ini, tetapi diri ini tak dapat untuk melakukannya. Raga yang sekarang aku tempati sepertinya bukan raga asliku, karena sekujur tubuhnya berwarna hitam dan sedikit berbintik. Lagipula, aku tidak pernah merasa kalau diri ini begitu kekar dan tinggi.
Aku dengan cepat melompat dan mengaum pada sang monster berbulu hitam. Taringku yang tajam tampak jelas dengan dibasahi air liur. Namun, dengan satu gerakan dari tangan kanan monster itu, aku terpelanting sangat jauh.
Sudah cukup, aku tidak ingin sosokku menjadi seperti ini. Sosok hitam yang menampung kesadaranku bukanlah aku.
Aku memutar otak berulang kali agar dapat mengendalikan tubuh ini, tetapi sering kali usahaku itu gagal. Karena hal itu pula, aku terus menerus dibanting oleh monster berbulu hitam tanpa mampu melakukan perlawanan.
Dengan usaha yang sangat melelahkan, aku akhirnya mampu mengendalikan raga ini. Menghela napas sejenak, aku sungguh merasa lega. Namun, aku berada di situasi yang buruk.
Tangan monster berbulu hitam terangkat dan mulai diarahkan untuk meremukkan tubuh ini. Mendadak, telingaku mendengar sebuah bisikan. "Kita adalah satu, karenanya, kau harus menerimaku."
Kata-kata itu memang terdengar seperti omong kosong, tetapi, mau tidak mau aku harus bertaruh. Berteriak sekencang mungkin, aku mengangkat tangan ke atas dan menahan pukulan dari monster berbulu hitam.
__ADS_1
Sakit, ini sungguh sakit. Kedua tangan ini serasa ingin patah menahan serangan sang monster.
Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Harus tetap bertahan!
Memotivasi diri dengan berbagai kata, aku berusaha sekuat mungkin untuk melawan balik. Kaki ini gemetaran dan tak kuasa lagi untuk menahan. Beruntung, monster berbulu hitam tadi menarik kembali tangannya.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku berbalik dan mengambil 3 buah granat yang ada di tempatku terbaring beberapa waktu lalu. Bermodalkan sebuah keyakinan dan keberanian, sekali lagi aku melompat ke atas lalu melemparkan salah satu granat yang telah kuaktifkan.
Meledak, granat tadi langsung meletus di wajah sang monster. Dia terbutakan oleh asap, lalu aku pun memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang lagi.
Segera mendarat di tanah, dengan menambah kecepatan, aku langsung melompat menerjang dada sang monster. Tentu dia tidak jatuh, namun ada satu kesempatan.
Monster itu mengaum, seketika itu aku langsung melompat dan melemparkan satu granat lagi ke dalam mulutnya. Granat itu meledak, menghancurkan tenggorokan sang monster. Tidak puas hanya dengan begitu, aku pun melemparkan granat lagi ke dalam mulutnya yang masih terbuka lebar.
Monster berbulu hitam pun jatuh terbaring di tanah. Mulutnya yang menganga memperlihatkan darah yang mengalir. Napasku terengah-engah, sekujur tubuh begitu lelah akibat pertarungan tadi.
Sedikit demi sedikit, mata ini mulai tertutup. Namun, aku teringat akan sesuatu. "Mischie—"
***
Leon terbaring pingsan karena terlalu lelah, tetapi dia masih belum menyerah untuk tetap sadar.
Di lain tempat, Mischie berhasil menghindar dari jatuhnya sang monster berbulu abu-abu. Mischie pun bergegas menuju dua orang gadis yang membantunya dalam melawan monster itu.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Lize yang khawatir dengan Mischie.
"Ya, tapi kita harus cepat membereskan monster itu." Mischie mengisi ulang pistolnya dan bersiap untuk beraksi lagi.