
Suara jangkrik mengisi telinga, hari sudah hampir subuh ketika Darwis membangunkanku. Suhu dingin begitu menusuk, ditambah hembusan angin yang terus menerpa tubuh. Badan sedikit menggigil, meskipun jaket sudah menutupinya. Akan tetapi, itu tidak cukup untuk menahan dinginnya udara.
“Sanggup sekali dia begadang dan baru tidur sekarang.” Aku bergumam pelan sembari memandangi Darwis yang terbaring—tidur—di atas daun kering di bawah pohon.
Sejenak, pandangan beralih ke depan, di mana hanya terdapat pepohonan dan daun kering yang bertaburan. Sebuah lahan kering dan tandus, tanpa adanya rumput yang tumbuh.
“Benar-benar tempat yang buruk untuk berlindung.” Kedua tangan, masuk ke dalam jaket, agar tidak menggigil. “Sungguh waktu yang tidak tepat untuk bangun.”
Punggung tersandar di batang pohon, mata ini sungguh mengantuk, sampai akhirnya aku menguap. Kuhela napas pelan, lalu berdiri sambil melirik ke sekitar. Tidak ada yang manarik, hanya hutan yang dipenuhi oleh suara jangkrik.
“Sungguh membosankan.” Setelah berdiri, aku pun kembali duduk bersandar pada batang pohon, dan melemaskan badan.
***
Jauh di tempat lain, jubah hitam seorang remaja, berkibar diterpa oleh angin. Dia menutup wajahnya menggunakan topeng berwarna putih, yang hanya memperlihatkan matanya. Di tangan kanan remaja itu, terdapat sebuah pistol yang sudah terisi oleh peluru. Dan di belakangnya terdapat seorang remaja lain yang juga menggunakan jubah hitam dan topeng putih.
Tempat remaja tersebut berada adalah sebuah tebing, dengan pemandangan lapangan yang terbentang luas. Di ujung lapangan itu, terdapat hutan rimbun. Ia kemudian mengarahkan pistol yang ada di tangannya, ke depan.
“Menurutmu ....” Remaja tadi mulai berkata. “Apakah kita perlu membunuh anak itu supaya Andrew marah?”
“Lalu, apa untungnya membuat Andrew marah?” tanya remaja yang ada di belakangnya.
“Mungkin kita bisa membuat dia mengamuk dan menghabisi seluruh Klan-nya untuk melampiaskan amarah.”
“Sepertinya, otakmu bergeser, sehingga tak dapat berpikir dengan jernih.”
“Hahaha, aku tidak serius mengenai hal itu.”
__ADS_1
Kedua remaja tadi, terus mendiskusikan tentang strategi untuk mengalahkan Andrew, meskipun terkadang diselingi dengan candaan.
Tak terasa, waktu dengan cepat berlalu, matahari mulai terbit, memancarkan cahaya indahnya. Remaja yang ada di depan, memasukkan pistol di tangannya ke balik jubah hitam yang ia pakai. Rambut berwarna jingga miliknya tampak ketika tudung yang ia pakai diterpa oleh hembusan angin.
“Mungkin ini saatnya kita beraksi untuk menghabisi semua Klan yang ada di sini.” Remaja berambut jingga memasukkan kedua tangannya ke balik jubah.
“Apa kau yakin akan memulai dengan menghancurkan Klan itu?”
“Kenapa tidak? Menurutku, mengalahkan Klan itu terlebih dahulu adalah hal baik.”
“Jika itu pilihanmu, maka aku hanya akan mengikuti.” Remaja yang ada di belakang, membungkukkan badannya kepada remaja berambut jingga.
Remaja berambut jingga mengibarkan jubah hitamnya, lalu berbalik dan berjalan melewati remaja yang tengah membungkuk. “Pada akhirnya, tanpa perlu kita berbuat apa-apa di awal, kita pasti akan menjadi pemenang. Klan Ular, Klan Naga, ataupun Klan Singa, tidak dapat mengalahkan kita.”
Remaja yang membungkuk, kembali menegakkan tubuhnya. Sebuah senyum girang tampak dari balik topengnya. “Aku yakin, kitalah yang akan menang.”
Dua orang itu masih belum juga menunjukkan taringnya. Mereka hanya terus mengamati pergerakan setiap Klan dan mengawasi dalam bayang-bayang. Tidak ada yang tahu dengan keberadaan mereka, selain diri mereka sendiri.
***
Tak lama kemudian, Darwis berbalik ke belakang dan menatapku sambil menghela napas. “Kenapa kau hanya diam?”
“Hah?” Jadi, dia ingin aku mengikutinya? Tapi aku sangat tak ingin masuk ke sana.
“Ikuti aku! Kalau tidak maka aku akan membunuhmu.”
Sungguh ancaman yang menyebalkan. Seandainya aku tahu batas kemampuannya seperti apa, sudah sejak awal aku bertarung dengan si brengsek ini. Namun, sudahlah, lebih baik kuikuti saja dia.
__ADS_1
Dengan berat hati, aku mulai melangkahkan kaki dan mengekor di belakangnya. Walau tanpa ada niat sedikitpun di hatiku untuk melakukannya, ancamannya membuat aku terpaksa harus ikut di belakangnya. Ternyata benar, pilihanku sebelumnya telah merubah masa depan dengan sendirinya. Aku tidak tahu apakah harus menyesal atau gembira.
Sesuai dugaan, daun-daun jagung yang kulalui merekat dan susah lepas dari jaket dan celana yang aku pakai. Tumbuhan itu seperti menarikku agar bergeming. Namun, kaki masih tetap harus berjalan walaupun pandangan sedikit terganggu oleh tingginya batang jagung.
“Ke mana dia mau membawaku?”
Ini sangat menyebalkan, aku tak tahu ke mana ia akan membawaku. Apa mungkin ada sesuatu hal di tengah-tengah ladang jagung ini? Seperti sebuah harta karun? Aku pasti bersyukur jika memang menemukan benda itu. Namun, sudah jelas mustahil.
Mendadak, Darwis berhenti hingga membuat aku hampir menabraknya. Dia kemudian mencabut beberapa batang jagung dan melemparkannya ke samping. Tindakan orang ini begitu aneh, sebenarnya apa yang ia inginkan?
“Hei, sebenarnya apa yang kau cari?” Aku memiringkan kepala, menatap dengan heran ke arah Darwis.
“Sesuatu yang berharga.” Dia menjawab tak acuh, sembari melemparkan salah satu batang jagung yang ia genggam, jauh ke sana.
Aku masih bingung, apa yang dia maksudkan dengan sesuatu yang berharga. Apakah itu seperti peti harta karun atau jangan-jangan ....
Segera aku berjalan di samping Darwis, lalu mengamati tanah yang ia bongkar. Dia sukses membuatku menjadi penasaran dengan apa yang sedang digalinya. Aku menduga kalau orang ini sedang membongkar sebuah alat perang yang menjadi senjata rahasianya.
Dugaanku ternyata benar, Darwis menarik keluar sebuah kotak panjang yang terbuat dari kayu. Biar kutebak, isinya pastilah sebuah benda yang menakjubkan dan sangat bermanfaat bagi kami.
“Apa kau sebegitu penasarannya dengan isi kotak ini?” tanya Darwis, sembari duduk menindih pohon jagung dengan kaki yang tertekuk.
“Aku sangat penasaran.”
Segera aku duduk di hadapannya sambil terus melirik kotak kayu yang ia pegang. Sekarang, mari kita lihat apa yang ada di sana.
Perlahan, Darwis membuka penutup kotak dengan hati-hati. Ia sepertinya sangat tidak ingin kotak itu rusak. Dan itu semakin membuatku penasaran dengan apa yang ada di dalam sana.
__ADS_1
“Ayolah! Cepat buka!” Aku sangat tidak sabar untuk melihat apa isi dari kotak tersebut.
Ah, tunggu dulu. Sepertinya ada yang aneh di sini. Jika kotak ini memang baru beberapa hari dikubur, aku tidak yakin jagung sudah akan tumbuh tinggi di atas tanahnya. Atau mungkin benda ini adalah salah satu benda yang ia kubur telah lama sekali.