
Suhu dingin langsung menyebar di sekujur tubuh ini. Ingin rasanya aku segera pergi dari derasnya hujan yang mengguyur. Dengan senapan panjang di tangan kiri dan pistol di tangan kanan, aku pun berjalan mengekor di bagian paling belakang kelompok yang beranggotakan; aku, Rias, Lize, dan Mischie.
Berkali-kali badan ini menggigil karena kedinginan, tapi tak sedetik pun Mischie menunjukkan tanda-tanda yang akan menuntun kami ke tempat berteduh. Aku sangat tidak menyangka kalau dia akan sekejam ini.
Langkah demi langkah yang kuambil, menjadi semakin lambat. Suara petir yang menggelegar dapat terdengar nyaring memekakkan telinga. Dan raga ini kian menjadi dingin.
“Di ... dingin ... grr ....” Menggenggam erat dua senjata yang ada di kedua tangan, aku mencoba untuk melawan rasa dingin ini.
Di waktu yang sungguh tidak tepat, angin tiba-tiba berhembus menerpa kami berempat. Suhu badanku menjadi semakin dingin, gigi ini mulai gemeretak karena hal tersebut.
Sangat ingin rasanya aku berteriak karena suhu dingin ini. Namun, kurasa hal itu tidak berfungsi dan hanya membuang waktu. Menahan semua yang kurasakan, sekali lagi aku menggigil karena suhu ini.
“Sialan ... kenapa suhu ini sedang tidak bersahabat?” keluhku dengan perlahan.
Mischie menoleh ke belakang karena mendengar keluhanku itu, ia lantas berhenti dan menatap lurus kepadaku. Dua orang gadis yang ada di belakangnya juga ikut berhenti, melihat keadaan itu, aku pun ikut meghentikan langkah.
“Ada apa?” tanyaku karena bingung dengan situasi ini.
Dari sini aku melihat ada sesuatu yang ganjil, dan jujur saja aku sedikit jengkel karenanya. Bagaimana tidak, mereka bertiga tak sedikit pun terganggu dengan situasi ini. Mereka sangat santai seolah suhu yang sekarang ini sedang sangat biasa.
Apa mereka ini monster atau mahluk yang kebal dengan suhu dingin. Dan entah mengapa aku jadi teringat pada Wolf saat melihat mereka.
“Orang lemah ini sepertinya perlu tempat untuk berteduh,” kata Mischie mecoba untuk mengejekku.
__ADS_1
Aku benar-benar tidak berniat untuk membalas atau menanggapi ejekannya itu dengan serius. Oleh karenanya, aku pun menjawab dengan asal. “Ya, sepertinya rekan kalian yang lemah ini membutuhkannya.”
Mendengar jawaban itu, Mischie langsung mendengus kesal dan kemudian kembali berkata dengan nada datar. “Baiklah ... nampaknya kita harus mencari tempat berteduh terlebih dahulu.”
Orang ini serius? Apakah dia tidak berpikir kalau satu-satunya tempat berteduh hanyalah gua. Sedangkan dia sendiri tidak ingin masuk ke dalam gua. Ini membuatku pusing saja.
Jika saja di sini ada sebuah rumah kosong, keadaan menyebalkan ini pasti dapat diatasi dengan mudah.
Dengan sebuah aba-aba dari Mischie, kami kembali melanjutkan perjalanan. Jauh di depan kami, aku dapat melihat sebuah lapangan luas dan sesuatu yang mengejutkan ada di tengah-tengah lapangan tersebut.
Mataku terbelalak lebar, mulut ini juga menganga, dan tubuhku mematung dengan kaku saat melihatnya. Iya, itu adalah sebuah rumah besar dengan tembok putih polos. Teras rumah tersebut basah oleh hujan deras, tapi kami tidak mempermasalahkan hal itu dan terus berjalan mendekat ke arah rumah.
“Hei! Berhenti!” Mendadak Mischie memberhentikan kami semua.
“Sssstt ... di tempat seperti ini biasanya terdapat masalah yang besar.”
Sejujurnya aku dapat dengan santai membantah perkataan Mischie itu, tapi diri ini juga memikirkan hal yang sama dengannya. Sebab, tempat-tempat mencolok seperti ini biasanya sangat rawan dan seringkali diawasi.
Mengikutii gerakan Mischie, kami bertiga yang ada di belakang pemuda tersebut juga ikut melangkah mundur. Menerawang ke sekitar, mataku tidak dapat melihat apa pun selain air hujan yang turun dengan lebat.
Beberapa saat setelah kami melangkah mundur, Rias tiba-tiba mengajukan sebuah usul. “Bagaimana jika kita langsung masuk ke dalam rumah itu?”
Jarak kami dan letak rumah yang dimaksudkan, tidaklah begitu jauh. Hanya perlu melangkahkan kaki beberapa kali, kami mungkin sudah sampai di sana.
__ADS_1
“Lagipula, mengendap-endap seperti ini hanya akan membuat kita semakin mudah untuk diburu,” sahut Lize menyetujui usulan Rias.
“Baiklah, aku paham,” jawab Mischie yang lantas menuntun kami masuk ke dalam rumah.
Sungguh, aku merasa menjadi orang aneh tadi itu. Ini disebabkan oleh Mischie, karena saat kami tinggal beberapa langkah saja masuk ke dalam rumah, ia menghentikan langkah dan memberi aba-aba untuk mundur. Mengingat hal itu membuatku merasa malu.
Di dalam rumah yang kami masuki ini, tidak ada barang apa pun yang dapat terlihat. Tempat ini hanya seperti sebuah gudang yang telah dikosongkan. Bagian lantainya gersang dan yang terpenting, tidak ada pembagian ruangan atau apa pun.
Menutup pintu dengan perlahan, aku sedikit termenung melihat keadaan ini. Walaupun bukan tempat yang megah, beristhirahat di dalam sebuah tempat bernaung yang sederhana ini juga sudah kusyukuri. Tak pernah sekalipun aku terpikirkan dengan hal ini.
Suhu tubuhku yang dingin kini mulai meningkat. Namun bajuku yang basah masih menghantarkan suhu dingin di badan. “Sepertinya aku akan betah jika terus tinggal di sini saja,” gumamku tanpa sadar.
“Kau gila, ya?” tanggap Mischie yang mendengar celoteh tidak jelasku.
“Apakah tidak boleh jika aku berangan-angan?”
“Bukannya tidak boleh.” Lize langsung masuk ke dalam percakapan. “Hanya saja, berdiam di tempat seperti ini akan membuat nyawamu cepat terenggut.”
“Ya, aku tahu itu.” Tanpa melirik ke wajahnya, aku langsung bergerak menuju pojok ruangan.
Meletakkan kedua senjata yang kupegang, aku pun duduk bersandar sambil menengadahkan kepala. Sekujur tubuhku mulai lemas, dan kenyamanan yang kurasakan hampir membuat diri ini terlelap.
Belum sempat aku memejamkan mata, tanah tiba-tiba berguncang dan tanpa sadar aku melompat karena terkejut.
__ADS_1
“Sialan ... setidaknya biarkan aku isthirahat.”