The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 8 part 1


__ADS_3

Menerima keadaan dengan pasrah, kulemaskan tubuh ini bersandar di sebatang pohon sembari menikmati indahnya angkasa berhiaskan ribuan bintang. Pemandangan tersebut sirna dalam sekejap ketika awan hitam membentang di sepanjang langit yang kupandang. Segera aku berdiri saat menyadarinya.


“Sepertinya hujan akan turun.” Kuterawang sekitar untuk mencari tempat teduh.


Warna hitam yang begitu pekat lantas terlihat oleh mata ini. Kendatipun begitu, aku masih dapat melihat walau samar-samar. Sejenak diriku terdiam, kemudian melangkahkan kaki ke depan tanpa tujuan. Namun, masih saja aku melanjutkan perjalanan tanpa tahu arah.


Beberapa saat setelah berjalan, telapak kakiku tiba-tiba terasa dingin seperti direndam di dalam air. Mengabaikan hal itu, dengan santai kulanjutkan perjalanan. Tapi, tiba-tiba saja saja aku terperosok jatuh di kolam lumpur sampai membuat badan ini basah serta kotor.


“Hoeks ....” Aku memuntahkan sedikit lumpur yang masuk ke dalam mulut karena merasa jijik. “Sialan ... sejak kapan kolam ini berada di sini.” Dengan kesal aku keluar dari lumpur.


Kulepaskan pakaian yang sudah terlanjur kotor lalu kembali berjalan penuh kehati-hatian untuk mencari sungai terdekat. Sepanjang perjalanan, mulutku tidak pernah berhenti mengeluh hingga membuat tenggorokan terasa kering. Meskipun tahu begitu, aku masih tetap mengeluh.


“Argh ... tenggorokanku kering.”


Setelah perjalanan panjang, mataku masih belum juga melihat adanya sungai di sekitar. Mendadak rintik hujan turun sampai akhirnya menjadi semakin deras. Menanggapi itu, aku hanya terus berdiri membiarkan diri ini basah supaya tubuhku bersih.


Beberapa menit kemudian, badan dan pakaianku pun bersih, walau tidak bersih seluruhnya. Akan tetapi, mulai dari sini aku merasa suhu dingin merasuk ke sekujur tubuh hingga membuat diriku mematung kaku.


Aku gemetaran karena suhu dingin itu semakin merasuk. Sambil memakai pakaian basah, kulangkahkan kaki menembus derasnya hujan dengan harapan dapat menemukan tempat berteduh. Menahan kaki yang gemetar, akhirnya aku menemukan sebuah gua. Tanpa pikir panjang, aku masuk ke dalam gua itu supaya dapat terhindar dari hujan.


Tak ingin masuk terlalu dalam, aku duduk bersila tidak jauh dari pintu keluar gua. Suasana gelap dan sunyi menimpa begitu terasa, tidak ada suara yang terdengar selain bunyi rintik hujan lebat. Dalam keadaan itu, sekali lagi aku melepaskan pakaian yang basah agar tubuhku tak merasakan suhu dingin berlebihan.


Menatap derasnya hujan sambil memeluk badan, entah kenapa aku merasakan sebuah nostalgia dari sini. Ini sangat aneh, karena seingatku, sekarang adalah saat pertama kali aku menatap hujan di dalam gua seperti sekarang.


“Kapan hujan ini akan berhenti?” Tentu saja aku murung.


Sejujurnya aku sangat ingin memiliki seorang teman di situasi seperti sekarang. Namun naas, aku benar-benar tidak bisa mewujudkan keinginan tersebut.

__ADS_1


Kuhela napas, sudah pasrah menerima kenyataan bahwa aku kesepian layaknya seseorang yang tidak diperhatikan. Aku mendengus kesal sebab hujan tak kunjung reda juga.


Krak!


Sontak aku memalingkan pandangan ke belakang saat mendengar suara itu. “Siapa di sana?” kataku dengan sedikit menaikan volume suara.


Hening, aku sungguh tidak dapat merasakan adanya kehadiran seseorang di sana. Aku lantas berdiri untuk berjaga-jaga jika ada serangan mendadak. “Hei!” Teriakan tersebut menggema di dalam gua.


Sialan! Siapa orang menyebalkan ini?


Mundur perlahan-lahan supaya dapat pergi dengan selamat, tubuhku kembali basah karena terguyur hujan. Tiba-tiba, sebuah suara menggema membuatku berhenti melangkah.


“Tunggu!” seru orang dari dalam gua.


Hah? Apakah aku sedang bermimpi?


“Kenapa kamu pergi?” Suaranya begitu lembut, seolah menambahkan kehangatan di suasana dingin.


“Ah ti-tidak i-tu ....” Aku sedikit malu sebab terlalu waspada. Tak mau berlama-lama terguyur oleh hujan, aku langsung bergegas masuk ke dalam gua.


“Kamu kenapa?” Gadis itu kembali bertannya sembari memiringkan kepala.


Gadis ini polos sekali? Apakah dia hanya berpura-pura? Ah, itu tidak mungkin, karena tatapan matanya tidak terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Berhenti memikirkan semua itu, aku akhirnya menjawab, “Ah, tidak apa-apa.” Kupasang senyum hangat di wajah untuk menenangkan si gadis.


Gadis tersebut membalas senyumanku. “Namaku Rias!” Ia pun menjulurkan tangan kanannya padaku. “Siapa namamu?”

__ADS_1


Kusambut uluran tangan itu. “Aku Leon, salam kenal.”


Saling membalas senyum satu sama lain, kami pun melepaskan jabat tangan di antara kami. “Mm ... ngomong-ngomong, kenapa kau bisa berada di sini?”


Gadis itu terlihat sedang berpikir dan mengingat-ingat. “Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini. Ingatanku serasa kosong dan tidak bisa mengingat apa pun sebelum ini,” terangnya.


Aku sedikit tersentak ketika mendengar penjelasannya. Melihatku seperti itu, Rias kembali bertanya, “Ada apa?”


Mengejutkan, dia masih sangat tenang setelah menerangkan situasinya kepadaku. Entah kenapa juga aku malah merasa aneh karena terkejut di sini. “I-itu tidak ... bagaimana aku menjelaskannya, ya? Mm ... yang jelas ... nampaknya situasi kita tidak jauh berbeda.”


“Kalau begitu, kamu juga bisa melihat di dalam ruangan gelap ‘kan?”


“Eh?” Aku melongo keheranan. “Eeehhh!!”


“Kamu kenapa sih?” Lagi-lagi Rias menaikkan sebelah alisnya.


Aku tahu dia begitu heran melihat tingkahku, tetapi mau bagaimana lagi, diriku memang dibuat terkejut setengah mati oleh kepolosannya. Kuhela napas untuk menenangkan pikiran, lalu berkata, “Kuberitahu saja kalau kemampuanmu itu istimewa, tidak semua orang bisa mendapatkannya di sini. Dan aku adalah salah satu orang yang tidak istimewa itu.”


“Oh,” tanggap gadis itu dengan nada dan ekspresi datar. Dia sepertinya tidak tertarik pada kondisiku atau kondisinya yang jelas istimewa. Jika aku boleh jujur, itu sangat menyebalkan bagi diriku yang ingin jadi istimewa tetapi tak bisa.


Mengabaikan semua perasaan yang bergejolak, aku lantas duduk bersila sambil menyandarkan tubuh di dinding gua. Beberapa saat kemudian, Rias duduk di sebelah kananku tanpa berbicara sepatah kata pun. Dan sekarang, aku sudah tidak sendiri lagi sebab ada seorang gadis di dekatku.


Meskipun kini aku tidak sendiri, tetap saja keadaan sunyi senyap seperti sebelumnya. Sejenak aku melirik Rias, dan apa yang kulihat adalah wajah datar tanpa ekspresi. Hal itu membuatku tidak jadi mengajaknya mengobrol.


Sesaat aku menghela napas berat sebab tidak ada yang menghilangkan rasa bosan ini.


“Mm ... kau bau,” ucap gadis di sebelahku sambil bergerak menjauh.

__ADS_1


“Hiks, gadis ini terlalu jujur,” gumamku yang sudah berlinang air mata.


__ADS_2