
Di tepi sebuah jurang dengan batu melayang di atasnya, Leon beserta teman-temannya tengah menikmati indahnya hari. Leon melirik ke sekitar, merasa aneh pada sesuatu hal.
"Sun, aku ingin tahu, sejauh apa tempat ini dengan Menara Harapan?" Leon terus menerawang ke sekitar. "Sejak tadi aku tidak melihat adanya sebuah menara?"
Sun berbalik, melirik Leon dengan heran. "Kaulah yang aneh, Menara Harapan berada tepat beberapa meter di depanmu."
"Jangan mengejekku! Jelas-jelas di depan sana hanya ada hamparan padang rumput dan beberapa pohon!"
"Haah ...." Mendengar ocehan Leon membuat Sun menggelengkan kepala. "Ternyata kau memang tidak memiliki pemahaman luas tentang dunia ini. Menara Harapan ada di dalam tanah." Seketika Sun kembali mengalihkan pandangan ke arah jurang.
"Hah? Dalam tanah? Kau pasti bercanda!" Sontak Leon melompat dan menatap tajam tanah yang ia injak.
"Menara Harapan itu seperti sebuah menara yang terbalik." Sasa langsung saja menyela. "Beberapa meter di bawah permukaan, terdapat tempat luas di mana para penjaga dan masyarakat biasa tinggal. Dan, semakin dalam kau memasuki menara, tempatnya akan menyempit. Bagian terdalam tentu saja ditinggali sang pemimpin."
"Eeh? Aku sungguh tak bisa memikirkan hal tersebut. Lalu, kenapa sang pimpinan harus tinggal di bagian terbawah?"
"Tentu saja karena energi di sana jauh lebih banyak. Lagipula, sang pemimpin itu adalah seorang kepala laboratorium, jadi dia memanfaatkan lokasi terdalam sebagai lahan eksperimen."
"Seperti apa sang pemimpin itu?"
"Hanya para Pelahap Energi tingkat 1 yang tahu. Dia selalu saja menutup wajah dengan topeng berwarna emas saat keluar dari tempat kerja juga rumahnya."
"Mungkin dia menyembunyikan luka di wajahnya?"
"Entahlah. Tapi yang jelas, dia sangat berjasa bagi umat manusia."
Percakapan mereka berakhir. Sekarang Leon sudah tidak lagi terlalu penasaran dengan Menara Harapan yang dulunya begitu ingin ia lihat.
"Setelah ini, kita akan ke mana?" Tiba-tiba Ni bertanya.
Pertanyaan ini membuat Leon bimbang. Sebenarnya, apa alasannya datang jauh-jauh ke Menara Harapan? Untuk mencari cara menghadapi semua Makhluk Fantasi, tetapi apa yang dilihatnya tidak seperti harapan.
Tidak tahu harus menjawab apa, Leon pun bertanya pada seseorang.
Ellise, apakah kau bisa membantuku sekarang?
Apa yang kau inginkan? Bukankah sekarang kau sudah berada di Menara Harapan?
Memang benar, tetapi aku sungguh tak memiliki rencana apa pun setelahnya. Ini membuatku gundah, bagaimana cara menyelesaikan semuanya?
Pikirkan saja sendiri.
Hei, setidaknya bantu aku berpikir!
Kenapa kau harus membuat orang lain memikirkan hidupmu? Apakah kau itu robot? Bukan, kan?
__ADS_1
Leon terdiam, perkataan Ellise ada benarnya. Jadi, ia pun memutuskan memikirkan apa yang selanjutnya akan dilakukannya.
***
Di Alam Bawah Sadar Leon, Ellise tertunduk. Matanya menatap tanah yang ia pijak. Entah kenapa hatinya terasa begitu hampa sekarang.
Ini keinginanmu, kan, Tuan? Aku sudah melaksanakannya sebaik mungkin, kuharap kedatanganmu segera tiba. Pemimpin telah memasukkan yang diperlukan ke dalam tubuhmu, jangan khawatir lagi.
Ingin rasanya Ellise menangis, dadanya begitu sesak, seolah tak tahan pada perbuatannya sendiri. Ia masih bimbang, apakah pada akhirnya semua ini harus tetap mengikuti rencana dari orang itu?
Sejenak ia menggelengkan kepala. Beberapa kali ia menyangkal perasaannya sendiri dengan mengatakan kalau keadaan akan baik-baik saja.
Tenanglah diriku, pasti ini adalah jalan terbaik. Tuanku yang baik hati, kau akan segera kembali dan menjadi lebih baik. Ellise tersenyum pahit karena memikirkan hal tersebut.
***
Sementara di Kota Heels, Starla segera melesat secepat kilat. Pedang Sisik Hitamnya berbenturan langsung dengan cakar panjang Prison, hingga menciptakan gelombang angin dan suara nyaring.
Starla melompat mundur, tetapi dengan brutal Prison melompat ke arahnya sambil menebaskan cakar sekuat tenaga. Beruntung Starla sempat melompat mundur menghindari serangan tersebut.
Kini, keduanya saling berhadapan, bergeming, menatap satu sama lain dalam jarak yang cukup jauh. Tarikan napas Starla sedikit tidak beraturan, dan tenaganya berkurang banyak akibat pertarungan panjang ini.
Ketika para Tan mendekat, Starla langsung masuk ke dalam pelindung agar tidak berhadapan langsung dengan ratusan makhluk tersebut. "Mereka mendesak kita. Pelindung ini pun tampaknya akan segera roboh bila terus seperti ini." Sungguh, Starla sudah tak bisa memikirkan cara untuk bertahan lagi.
Tiba-tiba, Vord melompat ke bawah, tepat di depan Starla. Pemuda itu menatap kawanan Tan dan Chimera yang menyerang tanpa pandang bulu.
"Tuan, ayo kita serang mereka bersama-sama!" Para Pelahap Energi di belakang Vord menjawab dengan serentak.
"Ya, aku juga masih sanggup!" Starla pun kembali bersiap untuk bertarung.
Vord menoleh ke belakang sambil tersenyum tipis. "Kalian semua, pergi ke Shelter dan tunggu bala bantuan dari Menara Harapan tiba."
"Tidak! Kami akan tetap bersamamu!"
"Aku pun sama, Vord!" Semua orang menentang perintah Vord, termasuk Starla.
Tidak seperti harapan, ternyata Vord mengabaikan mereka dan menghadap ke depan. "Kalian terlalu meremehkanku. Mereka semua bukanlah sebuah halangan bagiku yang merupakan Pelahap Energi tingkat 1 peringkat 17 ini."
"Hahaha, hanya peringkat 17 sepertimu, tidak mungkin bisa mengalahkan aku yang ada di peringkat 16!" Dari atas sana, Night berteriak penuh percaya diri.
"Penghianat rendahan, kau sekarang tidak lagi peringkat 16. Karena peringkat itu telah diserahkan ke orang yang tepat dan jauh lebih kuat darimu."
Night tersenyum tipis. "Kukira kau yang akan menempatinya, ternyata kemampuanmu begitu lemah."
"Vord, aku akan membantu melawannya," bisik Starla.
__ADS_1
"Kau tahu, Starla. Kekuatanku sekarang belum stabil, makanya hanya bisa mengeluarkan beberapa persen dari kekuatan sebenarnya. Tapi, perjalananku beberapa waktu lalu membuahkan hasil luar biasa. Pak Tua itu memberiku hadiah."
"Maksudmu si topeng emas itu?"
"Pergilah ke Shelter dan tunggu bala bantuan. Tapi, mungkin hal itu tidak penting. Sebab aku akan menghabisi semuanya."
Aura Vord seketika berubah. Makhluk abu-abunya yang menyerang Jahad pun segera kembali padanya lalu menyatu. Tangan kanannya meraih sesuatu dari saku celana. Itu adalah sebuah botol kecil berisikan pil obat.
"Pergilah ...." Nada bicara Vord berubah, hingga membuat setiap orang merasakan tekanan luar biasa.
"Ba ... baik, Tuan." Tak sanggup menolak, para bawahannya langsung pergi ke pusat kota.
"Starla, kau juga, pergilah."
"Tapi...."
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Kalau kau tak percaya, ambilah batu warna yang memperlihatkan sisa nyawaku ini." Dengan tenang Vord melemparkan sebuah kerikil berwarna hijau pada Starla.
Starla menangkap dan menggenggam erat-erat benda itu. "Berjanjilah untuk kembali hidup-hidup."
"Aku berjanji." Vord tersenyum.
Akhirnya Starla memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Namun, ia hanya akan pergi selama beberapa saat untuk memulihkan tenaga, kemudian membantu Vord. "Tunggulah aku, Vord."
***
Gemuruh para Tan terdengar di telinga. Mata Vord tak berpaling memerhatikan mereka semua dalam diam.
Jahad, Prison, dan Night sudah berkumpul jauh di depan sana. Tampak jelas Jahad tengah mengucapkan sesuatu, tetapi Vord mengabaikan hal tersebut. Ia begitu tenang, lalu menelan pil berwarna coklat di tangannya.
Mendadak, mata Vord berubah warna menjadi abu-abu dan memancarkan cahaya. Dari punggungnya muncul begitu banyak raksasa abu-abu yang langsung melesat ke depan.
Tidak berhenti sampai di sana, kekuatan Vord pun meningkat berkali-kali lipat dari biasanya. Dari mulutnya, asap tebal keluar begitu saja.
"Hei ...." Tekanan udara pun berubah, sementara raksasa ciptaan Vord menyebar, meratakan para Chimera lalu bertarung dengan Tan. "Mari kita mulai."
Aura abu-abu menyelimuti tubuh Vord, menjilat-jilat bagai kobaran api. Rambutnya berubah warna menjadi abu-abu, dan tubuhnya sedikit membungkuk, bersiap melesat ke depan.
Dalam sekejap mata, ia menghilang begitu saja. Lalu darah langsung melumuri tangan kanannya.
Tanpa ada peringatan apa pun, Jahad telah terluka parah terkena pukulan keras Vord. Kedua orang di dekat Jahad juga tercengang, sebab sebelumnya tak merasakan keberadaan Vord saat mendekat.
"Kau terlalu banyak bicara, aku tak menyukainya."
__ADS_1
"Night pasti tidak lupa, kalau Pelahap Energi tingkat 1 adalah kumpulan psikopat," ucap Vord menyambung kalimatnya.