
Kesunyian mengiringi langkah kaki, tidak ada yang memulai sebuah pembicaraan untuk mencairkan suasana ini. Sesungguhnya aku berharap orang aneh yang ada di depanku mau memulai obrolan, karena aku tak ingin lagi dianggap sebagai pengganggu. Akan tetapi, fakta berkata lain. Dia seolah menikmati kesunyian ini.
Aku akui kalau tempat sunyi ini cukup menenangkan, tetapi itu saat berada dalam wilayah normal, bukan tempat sialan seperti hutan misterius di mana kami berada. Sangat ingin rasanya aku mengupat kesal karena situasi ini. Namun, apalah dayaku untuk melakukannya.
“Hei, apa kau merasakan sesuatu yang aneh di sini?”
Mendadak Darwis berhenti sambil merentangkan tangannya ke samping. Aku sedikit terkejut ketika menyadari itu, dan segera menghentikan langkah. Kenapa dia malah berhenti? Apa ada sesuatu di depan sana?
Aku pun melangkah dan berdiri di sebelah kanannya. Tidak ada hal yang janggal di sana. Hanya ada pepohonan tinggi dan daun-daun yang berterbangan tertiup oleh angin. Tunggu! Sungguh aneh, dedaunan itu seperti melayang membentuk sebuah putaran.
“Oh, sial. Itu dia bencana kali ini.” Darwis mengupat sembari berlari ke samping.
Tanpa mau menunggu, aku langsung mengekor di belakangnya. Putaran angin semakin kencang, hingga diri ini hampir terseret olehnya. Namun, semua itu kutahan agar bisa terus berjalan. “Sial! Apa-apaan ini?”
Jaket yang aku kenakan mulai tertarik ke pusaran angin tersebut, badan perlahan mulai terangkat ke atas, seolah akan segera melayang.
__ADS_1
“Tidak!”
Sontak Darwis menarik tanganku karena aku terhisap oleh pusaran angin yang semakin lama kian kencang. Ia lalu menancapkan pedang yang ada di tangan yang satunya ke tanah, agar kami tidak terbawa ke pusaran angin tersebut.
“Bertahanlah!”
Sial, lagi-lagi aku harus menghadapi bencana yang begitu menyebalkan. Jika aku sampai terhisap, tubuh ini sudah pasti akan terkoyak habis oleh pusaran angin itu. Berubah menjadi sosok hitam mungkin saja dapat membuatku bertahan. Namun, semua pakaian dan senjataku mungkin akan hancur terkoyak putaran angin yang begitu dahsyat ini.
Bagai sebuah pembatalan suatu sihir, angin mendadak berhenti berputar. Napas ini terengah, tetapi aku dapat lega karena musibah itu telah berhenti. Sesaat kulirik orang yang ada di hadapanku, dia terlihat membelalakkan mata, tercengang entah karena apa. Aku pun berbalik mengikuti arah pandanganya, dan dalam sekejap, mata ini terbuka lebar.
Pusaran angin yang seperti hendak menghisap tadi, kini berubah menjadi kumpalan asap berwarna merah yang membumbung tinggi ke langit. Kaki langsung melangkah ke belakang tanpa aku sadari, situasi ini sangat mengejutkan dan bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Karena mana mungkin kumpalan asap dapat terbentuk tanda ada sebab akibat. Mungkinkah itu sihir?
Tunggu! Jika memang situasi ini terjadi karena ada sihir? Bagaimana mungkin aku tak melihat seorang pun pernah menggunakannya. Kemudian aku teringat pada sesuatu hal. Taman! Iya taman itu.
Saat itu, Lize memang menyebutnya ilusi, tetapi terpikir olehku kalau ilusi tersebut terbuat dari sihir. Aku juga percaya kalau pedang yang baru saja diambil oleh Darwis memiliki suatu keistimewaan tersendiri. Mungkin saja perkiraanku tentang sihir ini benar adanya.
__ADS_1
Ah, aku tak habis pikir bagaimana sihir dapat terbentuk. Semua yang aku lalui ini sangat membingungkan. Sihir, Evolusi, bahkan mahluk aneh seperti monster, dapat ditemukan di sini. Semua yang telah terjadi terasa seperti aku sedang berada di sebuah buku yang amat sangat berantakan, tanpa tahu harus bagaimana ia menjelaskannya.
Mungkin itu hanya pikiranku saja, setiap hal yang ada di sini pasti memiliki suatu kejelasan yang dapat terpecahkan. Apa penjelasannya, masih belum dapat aku temukan.
Detik terus berganti, sampai akhirnya Darwis menepuk pundakku hingga membuyarkan lamunanku. Aku sedikit tersentak, dan hampir melompat karena kaget.
“Lebih baik kita periksa apa yang ada di tengah-tengah kumpalan asap itu.” Dengan santainya, Darwis berjalan mendekat ke arah inti dari kumpalan asap yang berada beberapa puluh meter di depan kami.
Ia tampak tak acuh akan keadaan kami yang sekarang, seolah tak mengerti pada situasi ini. “Apa kau gila?” Aku berteriak kepada Darwis. “Kumpalan asap itu jelas sangat mencurigakan. Bisa saja itu adalah sekumpulan racun yang dibuat dalam bentuk asap, dan jika dihirup akan membuatmu mati seketika.”
Darwis berhenti, lalu menoleh ke arahku. “Mengambil sedikit resiko itu tidak terlalu buruk menurutku.”
Tanpa mau menggubrisku, ia langsung berjalan ke depan, menuju sumber dari asap tersebut. Ini sangat menyebalkan, aku tak tahu apakah harus mengikutinya atau mencari rekan baru. Namun, sangat sulit untuk menemukan rekan yang setia sepeti Darwis ini. Akan tetapi, rasa penasarannya yang sangat tinggi itu dapat membuat kami mati dalam beberapa waktu saja.
“Persetan dengan bahaya, aku akan mengikutinya, karena sebenarnya aku juga penasaran.”
__ADS_1
Segera aku mengekor di belakang Darwis, kisah ini mungkin seperti perjalanan hidup tentang dua orang yang sangat tertarik pada misteri. Tidak aneh jika kami mati begitu cepat karena rasa penasaran yang tak pernah terpuaskan.