The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 3 : Jalan Yang Kupilih


__ADS_3

Di bawah terangnya sinar rembulan yang menyinari, aku menatap lurus mata coklat seekor mahkluk aneh. Jirah berwarna abu-abu yang ada di pundaknya, berkilauan karena terkena cahaya bulan. Kami hanya saling tatap, tanpa berkata apa-apa, membuat suasana menjadi canggung. Untuk mencairkan suasana canggung tersebut, sebuah kalimat terlontar dari mulutku.


“Apa yang kau inginkan dariku?”


Meskipun dia tidak mengatakannya secara langsung, aku tahu kalau dialah orang yang telah menyelamatkanku. Namun, alasannya melakukan hal itu, sungguh membuat diri ini bingung dan bertanya-tanya.


“Kau masih belum menjawab pertanyaanku sebelumnya.” Mahkluk berkulit coklat itu, menggenggam erat cambuk di tangan kanannya.


Situasi yang sangat buruk, dia seolah mengatakan; kalau kau menjawab tidak, maka nyawamu akan melayang. Jadi, mau tidak mau, sepertinya aku harus menjawab iya, agar nyawa dapat selamat.


“Sebelum aku menjawab, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”


“Hal apa?”


“Di hutan ini, terdapat sembilan Klan, dan salah satunya adalah Klan Ular. Pertanyaannya, kau berasal dari Klan apa?”


Mahkluk tersebut, mengulurkan lengan kirinya. Sejenak, mataku meliriknya, lalu menemukan sebuah tato ular berwarna hitam, di sana.


“Sekarang, kau sudah tahu ‘kan?”


Memang benar, kalau tato ini menunjukkan identitasnya sebagai salah satu anggota dari Klan Ular. Akan tetapi, bagaimana dia dapat tahu kalau aku juga berasal dari Klan yang sama dengannya. Apakah dia hanya menebak, atau mungkin ....

__ADS_1


Aku melirik dan mengamati sosok mahkluk aneh yang ada di hadapanku. Tidak ada hal aneh yang dapat aku temukan darinya. Dia hanya tampak seperti seekor mahkluk kurus yang kurang gizi. Tubuhnya benar-benar kecil.


“Apa yang kau lihat?” Mahkluk itu mendengus, ketika aku menatapnya dalam waktu yang tidak singkat.


Aku menghela napas, lalu segera memasukkan kedua tangan dalam saku celana. Kenapa aku masih berpakaian? Tidak seperti sebelumnya? Karena perubahan wujudku waktu itu sangat terbatas, bahkan tak sampai lima puluh persen. Badanku juga tidak membesar, hanya warna kulit, taring, serta cakar yang berubah.


Jaket hitam bertudung yang aku kenakan juga tak rusak, sehingga udara dingin tidak benar-benar terasa. “Bukankah memang sepantasnya kita menjadi sekutu, Mahkluk Aneh.”


“Memang benar, pada hakikatnya kita sudah menjadi rekan. Akan tetapi ....”


Mahkluk itu mengepalkan kedua tangan, kepalanya tertunduk menghadap ke tanah. “Aku adalah manusia yang sudah tidak lagi menjadi manusia. Lihat saja, diri ini bagaikan seekor monster.”


“Tidak, itu mustahil untuk dilakukan.”


“Mustahil? Apa maksudmu?”


“Sebenarnya, terdapat dua tipe Evolusi ....”


Makhluk itu menjelaskan tentang jenis Evolusi, yang di antaranya adalah; Evolusi Sementara, dan Evolusi Permanen. Evolusi Sementara merupakan sebuah Evolusi di mana seorang manusia dapat berubah wujud sesuka hatinya, dengan memenuhi sebuah syarat. Sebagai contoh, aku dapat berubah karena mengalami keputusasaan. Semakin dalam keputusasaan itu, maka kian tinggi juga aku dapat berevolusi.


Sementara itu, Evolusi Permanen ialah sebuah Evolusi yang terjadi akibat terlalu lama berubah, melampaui batas yang seharusnya. Ketika seseorang memaksakan diri untuk mempertahankan bentuk Evolusinya, sel-sel dalam tubuh akan berubah seluruhnya. Cara mempertahankan Evolusi ini sangatlah mudah, hanya perlu mengisi tenaga dengan memakan daging mentah—yang paling baik adalah daging manusia.

__ADS_1


Setelah panjang lebar menjelaskan tentang Evolusi kepadaku, mahluk tadi menengadah, menatap bintang-bintang yang bersinar terang. “Karena itulah aku dapat menjadi seperti saat ini. Sekarang aku menyesal telah berjuang keras demi menyelamatkan mereka yang akhirnya mencampakkanku.”


Kisah yang sangat tragis, dicampakkan setelah menyelamatkan hanya karena alasan dia telah berevolusi secara total tanpa bisa berubah wujud lagi. Ada banyak alasan kenapa dia ditinggalkan, salah satunya; rekan-rekannya takut dia hilang kendali kemudian membunuh tak pandang bulu. Namun, ada satu hal yang belum bisa kumengerti dari situasi ini.


“Jadi, kenapa kau malah berniat bunuh diri dengan mengajak kawanan remaja itu?”


“Siapa yang mau bunuh diri? Aku melakukannya hanya karena frustasi dan ingin mengalihkan perhatian.”


Dengan kata lain, dia hendak melampiaskan amarahnya kepada orang-orang yang tak bersalah. Meskipun tidak ada larangan untuk membunuh di hutan ini. Karena memang hukum rimbalah yang berlaku. Entah siapa yang menciptakan tempat seperti ini, mereka sangat kejam.


“Itu adalah tindakan terbodoh yang pernah aku lihat.”


“Aku tahu, kalau semua itu hanya menyia-nyiakan waktu saja, tetapi aku tak dapat membendung keinginanku.”


Sebenarnya itu adalah sifat yang sangat manusiawi, di mana sebuah ego dapat membuat kita bertindak tanpa pikir panjang. Tidak dapat dipungkiri, karena aku juga seperti itu.


“Setelah mendengar semua penjelasan dan ocehan tak pentingku. Apa kau mau menjadi sekutuku?”


Sebuah pertanyaan yang membuatku harus memikirkan semuanya secara matang. Memilih untuk setuju atau tidak sangat berpengaruh di masa depan. Sekarang, mari kita pikirkan perbandingan jika mengatakan ‘iya’ dan ‘tidak’. Ketika mengatakan ‘iya’ nyawa ini akan selamat tanpa perlu bertarung mati-matian, akan tetapi masa depanku seolah terikat dengan mahkluk aneh ini. Namun, jika aku mengatakan tidak, ada kemungkinan nyawaku akan hilang.


Baiklah, saatnya menentukan pilihan. Kutarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan dan mulai menjawab.

__ADS_1


__ADS_2