The Dark Slayer

The Dark Slayer
S3 Chapter 18 : Pembantaian


__ADS_3

Di atas singgasana, Vord tengah membolak-balikan halaman buku. Semenjak kepergian Leon dan Sun, dia terus memikirkan kata-kata terakhir yang dikatakan Leon kepadanya.


Hari bahagia di sini sudah berakhir, Vord. Sekarang saatnya kau menunjukkan wajah aslimu pada dunia. Kau terlahir untuk mengubah sejarah, melindungi semua orang. Kekuatanmu bisa melakukan hal yang lebih dari orang lain.


Kata-kata itu terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya. Vord terganggu karenanya, tetapi juga tak membencinya sedikit pun. “Apa yang kulakukan?” Dengan pelan Vord menghela napas, menjernihkan kembali isi pikirannya.


“Ah, baiklah, aku menyerah. Kau menang, Leon.” Vord berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. “Aku akan melakukannya setelah menyelesaikan urusan di sini.”


***


Tengah malam yang gelap, di deretan bangunan tua. Leon melirik ke sana sini untuk mengetahui lokasi musuhnya. “Ke mana perginya mahkluk it—”


Belum sempat Leon menyelesaikan ucapannya, ia lantas terpelanting sekali lagi ke tembok. Darah menyembur keluar dari mulutnya, sekujur tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Sekali lagi kepalanya terbentur ke dinding terkena pukulan dari musuh yang tidak terlihat olehnya. Keningnya terluka, dadanya sesak hingga susah menarik napas.


Leon! Ellise menjadi panik karena mengetahui Leon sudah terluka cukup parah.


***


Di saat yang sama, di sisi lain bangunan, Sun membuat dinding api untuk melindungi teman-temannya. Sekeujur tubuhnya menyala-nyala, Sasa dan Ni tetap berada di belakangnya agar terhindar dari pertarungan.


“Sial! Musuh kali ini sangat merepotkan!” Sun mulai mengupat karena kesal.


Tiba-tiba kilatan cahaya berwarna biru membelah dinding api Sun dari atas. Segera Sun mengeluarkan pedang dari balik jubahnya dan mengalirkan kekuatannya pada pedang tersebut.


Sun menahan serangan musuh menggunakan pedangnya, tetapi tekanan yang dirasakannya begitu kuat. Pedangnya perlahan mulai retak menahan serangan dari kilatan panjang seperti pedang itu.


“Sun!” Sasa lantas menyalurkan kekuatannya ke punggung Sun.


Sementara itu, Ni sejak tadi hanya diam sambil menutup mata. Cahaya berwarna kuning mulai keluar dari tubuh gadis tersebut. Dia menarik napas secara teratur, merasakan kekuatan dari dalam tubuhnya kemudian menyalurkannya ke sekujur tubuh.


Sun kian membara, pedangnya sebentar lagi akan patah jika tekanannya terus bertambah. “Argh!” Meskipun harus menahan rasa sakit luar biasa, Sun membakar semua kekuatannya untuk menahan serangan musuh.

__ADS_1


Ni perlahan membuka mata. Seketika itu matanya memancarkan cahaya kuning. “Sun, biarkan aku mencoba melawannya,” ucap gadis itu pelan.


“Kau ingin mati, ya?” Sun menjadi kesal. “Sasa, bawa anak itu pergi! Biar aku yang menangani musuh ini.”


“Tapi ...!” Sasa hendak menolak.


“Sasa! Kumohon!”


***


Di tempat lain, Leon tersandar di dinding yang sebentar lagi akan rubuh. Matanya tertutup, Ellise yang ada di Alam Bawah Sadar Leon menjadi panik melihat ini. Namun, tetap saja dia tidak dapat berbuat apa-apa.


Leon .... Kali ini, Ellise hanya bisa berharap ada keajaiban.


Sosok berwarna hitam dan tersamarkan oleh gelapnya malam tengah berjalan mendekati Leon. Sepertinya dia masih akan memberikan serangan kepada Leon.


“Sepertinya, hari ini akan menjadi akhir bagi karya terbaik Menara Harapan,” gumam sosok itu sembari mengepalkan tangan kanan. Dari dalam tubuhnya, muncul aura kekuatan yang begitu gelap.


Akan tetapi, hal itu masih belum memuaskan sosok tadi. Dia malah berlari sekuat tenaga menghampiri Leon, kemudian sekali lagi menyerang pemuda itu sampai melambung jauh ke udara.


“Rasakan itu!” Seolah tengah melampiaskan semua kemarahannya, sosok tersebut melompat ke angkasa dan hendak memukul Leon lagi.


Tidak! Ellise berteriak sekencang mungkin, tetapi terlambat, Leon sudah terhempas ke tanah hingga membuat semua tulangnya remuk. Le ... on .... Menyaksikan kejadian ini secara langsung membuat Ellise tidak tahan.


Air mata bercucuran dari mata Ellise dan membasuh habis pipinya. Dada gadis itu sesak, semuanya sangat menyakitkan baginya. Le ... on .... Hatinya menjerit, tetapi mulut tak kuasa mengungkapkan betapa sakit hatinya.


***


“Kalian berdualah yang seharusnya menyingkir!” Ni melayang di udara.


Sasa seketika mematung kaku melihat kejadian ini. Dia dan Sun merasakan kekuatan besar keluar dari dalam diri Ni. Hanya dengan satu kali ayunan tangan, Ni menepis habis dinding api Sun serta serangan yang ditahan oleh Sun.


Saking mengejutkannya kejadian ini membuat Sun tidak dapat berkata-kata. Dia hanya melihat Ni melayang ke depan perlahan-lahan. Saat cahaya dari tubuh Ni menyebar semakin luas, terlihatlah sosok seorang pria berkatamata putih dan kemeja putih lengkap dengan dasi.

__ADS_1


“Wah, aku tidak menyangka seranganku dapat ditangkal dengan mudah oleh kalian,” ucap pria itu sambil mendorong kacamatanya menggunakan tangan kanan.


Ni mengulurkan tangannya ke depan, kekuatan mulai berkumpul di telapak tangannya itu. Tanpa peringatan apa pun, sebuah bola cahaya berwarna kuning melesat cepat dari tangan gadis itu ke arah pria berkacamata.


Ledakan terjadi, debu berterbangan menutup penglihatan. Namun, saat debu mulai menghilang, sosok pria berkemeja putih masih berdiri tegak sembari menebas debu memakai tangan kanan.


“Hei, hei, bukankah kasar membalas ucapan seseorang dengan serangan?” Pria tadi hanya bergeming, lalu mendorong kacamatanya lagi.


Bukankah kau yang mulai menyerang kami terlebih dahulu? Meskipun kesal, Sun berusaha menahan kata-kata itu agar tidak keluar dari mulutnya.


Di atas sana, Ni melayang tanpa ada ekspresi di wajahnya. “Siapa kau?” tanya gadis itu, pelan.


“Tidak kusangka kau akan bertanya.” Lagi-lagi pria tadi mendorong kacamatnya. “Aku hanyalah seekor tikus di mata kalian yang dari Menara Harapan. Namaku Jahad ....” Tiba-tiba dia tersenyum.


Tubuh Sun langsung gemetar saat mendengar nama itu. “Ti ... tidak mungkin. Jahad sudah ....”


“Prajurit yang mati saat bertarung mempertahankan Menara Harapan dari serangan Tack?” Aura kekuatan di sekitar Jahad mendadak berubah kian pekat. “Jangan bercanda!”


Dengan garakan cepat, Jahad mendadak berada tepat di hadapan Sun sambil mengepalkan tangan hendak menyerang.


Sial! Sun belum sempat bereaksi karena serangannya sangat mendadak.


***


Dalam kegelapan yang begitu pekat, Leon terbangun. Ia tidak melihat ataupun merasakan adanya kehadiran orang lain di sekitar.


“Aku ... di mana?” Leon melirik ke sana sini, tetapi yang terlihat hanyalah kegelapan tanpa ada cahaya.


Pemuda itu merasakan adanya kekuatan yang menarik dirinya ke suatu tempat. Karena tidak tahu ke mana harus pergi, ia pun mendekat ke sumber tarikan tersebut.


Seolah mendapat sebuah keajaiban, tiba-tiba cahaya terpancar di hadapannya. “Apa itu?” Masih tidak mengerti apa pun, Leon hanya bisa pasrah mengikuti jalur yang sudah ada.


Ia tidak peduli pada apa pun, selama ia dapat menemukan cahaya yang mungkin menjadi harapan terakhirnya, maka itu cukup.

__ADS_1


__ADS_2