The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 6 part 2


__ADS_3

Seusai tertawa lepas untuk menghilangkan semua rasa ngeri dan ketegangan yang selalu terbanyang di dalam kepala. Kami pun mulai mendiskusikan rencana serius, agar dapat mengalahkan Andrew.


“Baiklah, mari kita mulai merencanakan cara yang dapat mengalahkan Andrew,” ucap Lize mengawali diskusi kami.


Kami yang tadinya hanya saling bercakap-cakap sambil duduk membentuk lingkaran, langsung mengalihkan pandangan mata kami ke arah Lize.


“Sebelumnya, aku ingin bertanya, apakah ada yang mempunyai ide tentang hal ini?” Lize melanjutkan perkataannya dengan melemparkan sebuah pertanyaan kepada kami.


Tidak ada yang angkat bicara setelah mendengar pertanyaan itu. Ya, wajar saja, karena satu-satunya orang yang mengetahui banyak informasi tetang Andrew, hanya ada Lize di sini.


“Jadi, tidak ada yang punya ide?” Lize kembali bertanya untuk kedua kalinya.


Merasa tidak enak karena tidak ada yang mau menjawab, aku akhirnya membuka mulut. “Sepertinya, kau harus menjelaskan informasi apa saja yang kau ketahui tentang Andrew,” kataku pada Lize, sambil mengangkat tangan kananku.


Lize meletakkan tangan kanannya di dagu dan terlihat sedang memikirkan sesuatu hal. Mungkin saja dia memikirkan apakah perlu memberitahukan informasi tentang Andrew kepada kami, tetapi sebenarnya, aku sengaja melakukannya, agar dapat mengetahui gadis bernama Lize ini memang tulus, atau ini hanyalah sebuah akting.


Setelah terdiam selama beberapa saat, Lize akhirnya berkata, “Baiklah, aku akan memberitahu kalian informasi yang kuketahui tentang Andrew.”


Hm, begitu, ya. Sekarang aku sudah mulai mengerti jawaban dari pertanyaanku beberapa saat lalu, dan tentu saja, aku masih belum dapat memastikan apakah spekulasiku ini benar atau salah.


Tak terasa, waktu sudah berlalu dengan sangat cepat sejak kami memulai diskusi, hingga akhirnya mendapatkan sebuah kesimpulan. Aku masih ragu tentang kesimpulan yang kami dapatkan, tetapi setelah kupikirkan lagi, kurasa itu adalah kesimpulan yang paling bagus yang bisa kami dapatkan sekarang, setelah mendengarkan beberapa informasi yang dikatakan oleh Lize.


Begitu rencana kami telah tersusun dengan rapi, aku langsung saja berdiri dan sedikit meregangkan tubuh yang terasa kaku.


Kruuk.


Perutku berbunyi menandakan betapa laparnya diri ini.


“Haih, aku lapar,” keluhku sembari mengusap perut.


“Sepertinya ada yang sedang kelaparan. Hahaha,” ejek Lize.

__ADS_1


Gadis ini ternyata sangat menyebalkan, aku tidak menyangka kalau diri ini bisa diejek olehnya. Namun, sudahlah. Tidak ada gunanya bagiku jika menggubris ejekannya itu, karena pasti akan membuat dirinya semakin menyebalkan.


“Bagaimana kalau kita pergi keluar untuk mencari makanan,” ajak Flicker sembari menuntun kami berjalan.


Sebelum aku sempat mengikutinya, Lize mendadak membuat langkahku terhenti karena perkataannya.


“Memangnya kau tahu di mana jalan keluar?” tanya Lize kepada Flicker.


Mendengar pertanyaan itu, Flicker sontak menghentikan langkahnya, lalu memalingkan pandangan secara perlahan-lahan, ke arah Lize. Dari reaksinya, semua orang dapat tahu kalau sebenarnya si Flicker ini tidak mengetahui di mana tepatnya jalan keluar dari gua.


Flicker menjadi gugup karena malu. “Hehehe, di mana jalan keluarnya berada?”


Lize segera menghela napas setelah mendengar pertanyaan Flicker. Dan tampaknya, Lize memaklumi tingkah Flicker itu. Ya, karena memang Flicker sangatlah konyol, tetapi terkadang sangat diperlukan.


Setelah beberapa saat terdiam, Lize akhirnya menggiring kami melewati sebuah terowongan, hingga akhirnya menemukan jalan keluar. Dari sini aku pun tahu kenapa di dalam gua yang kami jadikan tempat diskusi tadi tidaklah gelap, karena di atas gua tersebut terdapat sebuah lubang besar, yang membuat cahaya matahari dapat masuk menerangi gua.


Pemandangan hutan yang rimbun dan angin segar yang berhembus dapat dinikmati oleh diri ini. Semua itu benar-benar membuatku merasa nyaman, hingga melupakan semua masalah yang pernah kuhadapi, walau hanya sesaat.


Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba saja memberikan sebuah ide. Padahal biasanya, dia hanya diam dan mendengarkan percakapan kami tanpa mau ikut terlibat di dalamnya. Atau mungkin, ini adalah sifat aslinya yang belum pernah ia tunjukkan padaku? Ya, aku juga tidak terlalu peduli sih.


“Kenapa kita harus berpencar? Bukankah itu sangat berbahaya?” kata Geisa menanggapi usulan tersebut.


Tanpa berpikir panjang, James langsung membalas perkataan Geisa. “Kupikir, akan lebih menghemat waktu jika kita berpencar, dan, ya. Aku juga tahu kalau ini beresiko, tetapi firasatku mengatakan, ini akan baik-baik saja."


Sebenarnya, aku sangat ingin menentang ide tersebut, tetapi Flicker langsung menyetujuinya.


“Baiklah, sepertinya itu adalah ide yang bagus,” kata Flicker.


“Oke, sudah diputuskan, Leon dengan Lize, Geisa bersama James, dan aku bersama Flicker,” sahut Villy.


“Tu-Tunggu, kenapa jadi seperti ini?” Sontak aku terkejut mendengar pembagian kelompok itu.

__ADS_1


“Baiklah, sudah diputuskan.” Lize pun menegaskan sembari menarik tanganku, agar berjalan bersamanya.


Astaga, apa-apaan mereka ini? Kenapa mereka seenaknya saja memutuskan? Ternyata mereka memang tidak setia kawan.


Tak dapat memberontak, aku akhirnya pasrah mengikuti keadaan yang tidak pernah kuduga ini. Lalu, tiba-tiba saja, Lize menghentikan langkahnya. Aku juga ikut berhenti dan memandanginya, sembari melepaskan genggaman tangan. Lize menundukkan kepala, lalu berkata, “Ternyata kau memang membenciku, ya?”


Tidak mengerti kenapa dia mengatakan kalimat itu, aku menaikan sebelah alis. “Apa masksudmu mengatakan itu?”


Lize menggelengkan kepalan beberapa kali, sebelum akhirnya dia berkata dengan nada kecewa. “Tidak, bukan apa-apa.”


Di balik kata-katanya itu, entah kenapa aku paham kalau sebenarnya dia menyembunyikan sebuah perasaan sedih. Dan aku jadi terpikir kalau kemungkinan besar, dia seperti itu karena diriku ini. Namun, apa yang salah denganku? Aku kan hanya bertindak seperti biasa.


Untuk memperjelas keadaan, aku pun bertanya untuk mengkonfirmasi. “Hm, apa aku ada salah denganmu?”


Lize mengangkat kembali kepalanya, lalu menatapku sambil tersenyum. “Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan apakah tindakanku melibatkan kalian di dalam masalah ini adalah hal yang baik.”


Sebenarnya, melibatkan kami dalam masalah seperti ini tidaklah baik, tetapi mau bagaimanapun, masalah ini akan berpengaruh kepada kami di masa depan. Makanya, aku mau tidak mau harus menyelesaikannya sekarang juga.


“Oh iya, kalau boleh tau, sebenarnya apa rahasia dari hutan ini?” Aku mengalihkan arah pembicaraan dengan menanyakan hal itu.


“Haih, apa kau serius ingin mengangkat topik itu sekarang?” Lize menghela napas.


Memangnya apa yang harus kujadikan topik pembicaraan sekarang? Gadis ini sungguh membuatku bingung.


“Kau memang seorang pria yang tidak peka terhadap wanita, ya.”


Setelah Lize mengatakan itu, aku berdiri mematung karena tidak menyangka kalau ia sangatlah agresif, hingga berani mencium pipiku. Kejadian seperti ini benar-benar tidak kuduga, dan aku bahkan sangat tercengang karenanya.


“A-apa yang ka-kau lakukan?” ucapku dengan tergugup-gugup.


“Ehehe, itu adalah sebuah kejutan yang sudah kusiapkan untukmu.”

__ADS_1


Tidak, tidak, tidak, ini bahkan lebih dari sekedar kejutan, kau membuat jantungku hampir terlepas dari tempatnya.


__ADS_2