The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 9 : Pertarungan Paling Monoton


__ADS_3

Dari kajauhan, aku hanya bergeming mengamati pertarungan antara Darwis dan Creeps. Keduannya tidak memiliki celah yang cukup berarti dalam pertarungan satu lawan satu itu. Mereka berdua berdiri di atas dua buah bangunan yang saling berlawanan, kemudian melancarkan serangan masing-masing. Lagi-lagi, ledakan terjadi hingga membuat sekitar hancur.


“Semuanya begitu membosankan, tidak ada hal lain yang terjadi selain ledakan.” Dengan santainya aku menebaskan pedang dengan panjang empat sampai lima meter ke arah mereka. Sebuah garis hitam setengah lingkaran langsung melesat dengan cepat pada dua orang tersebut.


Darwis tampak menyadari serangan tanpa arahku itu. Dengan sedikit panik dia mengepakkan sayapnya dan melayang ke udara. Sementara itu, Creeps yang tidak bisa terbang langsung membuat dinding es di sekitarnya. Namun, itu usaha yang sia-sia. Dinding es tersebut tak sanggup menahan seranganku lalu hancur.


“Leon sialan, hampir saja kau membunuhku!” teriak Darwis yang sangat kesal karena perlakuanku. Akan tetapi, aku tidak akan peduli lagi. “Hei! Kau dengar tidak?” Kini dia berada tepat di hadapanku.


“Berisik. Berhenti berbicara.”


Mendadak, sebuah tombak es menjulang tinggi ke arah Darwis dari bawah. Aku langsung memotong benda tersebut menggunakan pedang bayangku. Beruntung Darwis sadar dan cepat menghindar sebelum pedangku memotongnya.


“Kau benar-benar ingin membunuhku, ya?” Darwis semakin kesal.


Pedangku langsung memecah menjadi beberapa tombak dan langsung melesat ke bawah. Di sana Creeps tengah lari terbirit-birit, tetapi salah satu tombakku berhasil menghadangnya, kemudian disusul oleh tombak yang lain hingga melingkar seperti sarang burung, memerangkap Creeps.


“Brengsek!” seru Creeps.


Aku pun mendarat tepat di hapadan Creeps yang kini terkurung dalam sangkar bayangku. Berkali-kali dia menebas sangkar tersebut menggunakan pedang esnya, tetapi tidak ada yang terjadi, ia hanya menghabiskan tenaga saja.


“Leon brengsek! Keluarkan aku dari sini!”


Tatapan kosongku mengamati sekujur tubuh pemuda tersebut, kemudian berkata, “Baiklah, aku akan segera mengeluarkanmu dari sana.”


“Eh?” Creeps tampak sangat tercengang ketika tombak bayang di tangan kananku langsung menusuk perutnya. Dia memuntahkan darah, lalu mundur beberapa langkah sambil terus memegangi lukanya. “Breng ... sek ....”


Perlahan, es mulai menghentikan pendarahannya. Namun, jangan harap aku akan berbelas kasihan. Tombak kulemparkan hingga menembus jantung pemuda tersebut. Dan sekali lagi, tidak ada yang kurasakan.


“Itu untuk temanku, Mischie yang telah kalian habisi.” Sekarang, tugasku hanyalah mencapai tujuan, mungkin ini yang dimaksudkan Ellise kepadaku. “Ayo pergi! Kita akan menyelesaikannya sekarang!” kataku pada Darwis.

__ADS_1


“Ba-baiklah ....”


Kami pun berjalan di gang sepi menuju pertempuran terakhir yang ada di arah timur. Sudah dapat kutebak kalau salah satu Klan yang ada di sana ialah Klan Naga, tetapi siapa yang jadi lawan mereka? Sejak kekacauan terjadi, tidak ada informasi yang kudapatkan, sebab aku hanya bertarung dan berjuang untuk hidup saja tanpa memikirkan hal lain.


Tiba-tiba guncangan terjadi, aku dan Darwis melayang di udara agar tidak terkena efek dari guncangan tersebut. Namun, tampaknya Darwis sudah cukup lelah setelah melakukan banyak pertarungan, meskipun pada akhirnya tetap aku yang menyelesaikannya.


Dari telapak kakiku, muncul sebuah bayangan berbentuk pipih seperti papan. Kulayangkan benda itu ke telapak kaki Darwis agar dia dapat tetap melayang tanpa menghabiskan banyak energi.


“Gunakan itu untuk berpijak agar kau tidak kelelahan.”


Darwis memalingkan pandangan heran padaku. “Kau yakin?”


“Mau bagaimana lagi, sepertinya kau hampir pingsan setelah beberapa pertarungan tadi.”


“Terima kasih.” Dia menyimpan sayap apinya, dan berdiri di atas papan bayang buatanku.


“Akan kuusahakan memulihkan tenaga, tetapi energi tidak bisa.”


“Kenapa?” Aku langsung terkejut ketika dia mengucapkan pernyataan tersebut.


“Energi api berasal dari panas matahari dan suhu, jelas aku tak bisa mengisinya di malam hari yang sejuk ini.”


“Oh, begitu. Artinya semua bergantung pada keberuntungan mulai sekarang.”


“Kau benar.”


***


Jauh di depan Leon dan Darwis, kekacauan besar terjadi akibat pertarungan Klan Naga dengan Klan Singa. Dari dua Klan tersebut, masing-masing tinggal terdiri kurang lebih sepuluh orang saja. Itu dikarenakan kekuatan tempur keduanya sangatlah kuat serta hampir seimbang.

__ADS_1


Di tengah deretan Klan Naga, Andrew yang sedari tadi hanya melihat, akhirnya ikut bertempur, sama dengan pemuda berambut merah pemimpin Klan Singa. Kedua ketua Klan tadi telah bosan melihat pertarungan sehingga mau bergerak.


“Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ini sebelum hutan hancur seluruhnya, Orion,” kata Andrew pada pemuda berambut merah yang berada cukup jauh di depannya.


“Ohoho, Andrew, sebaiknya kau segera bantai semua anggota Klan-mu sekarang, kemudian matilah dengan damai.” Orion sedikit pun tidak takut pada Andrew.


“Punya nyali juga kau mengatakan itu.” Andrew menjentikkan jari, bola cahaya langsung melayang di sekitarnya dan melesat cepat ke arah Orion.


Orion hanya tersenyum, lalu mengarahkan tangannya ke depan. Dalam sekejap, energi langsung berubah menjadi perisai baja di tangannya. Tidak hanya itu, Orion membentuk sebuah tongkat besar di bawah kakinya, kemudian melambungkan dirinya sendiri ke atas. Kedua tangannya telah memegang pistol, dia pun menembakkan pistol tersebut kepada Andrew.


Tentu Andrew tidak akan tertekan karena hal ini dan hanya menjentikkan jari, membentuk sebuah pelindung cahaya yang menahan tembakan Orion. Akan tetapi, anggota Klan Singa tidak hanya diam, mereka menyerang dari depan para anggota Klan Naga.


Klan Naga pun serentak menyerang Klan Singa, membuat beberapa ledakan terjadi. Andrew mengabaikan semua itu lalu melayang di udara, ia melihat Orion menggunakan sayap baja dengan sistem pendorong untuk terbang. Namun, Andrew tidak terkejut sedikit pun melihatnya.


“Apakah kau siap untuk mati, Orion?”


“Seharusnya aku yang bertanya padamu.” Dengan cepat Orion melemparkan granat yang telah aktif pada Andrew.


Meskipun begitu, Andrew hanya perlu menggunakan pelindung cahaya untuk menghalaunya. Pemuda itu tersenyum. “Ternyata petir dan retakan tanah waktu itu bukan ulahmu.”


“Kukira itu ulahmu, tetapi melihat kemampuanmu, itu tidak mungkin.”


“Mendapatkan perkataan seperti itu dari orang yang lebih lemah dariku sangat menjengkelkan.” Dalam satu jentikan jari, begitu banyak bola cahaya mengambang di sekitar Andrew.


Tak mau kalah, Orion membentangkan tangannya, kumpulan energi pun langsung membentuk beberapa rudal yang melesat ke arah Andrew. Bola cahaya dan rudal bertabrakan, menciptakan ledakan besar di sekitar.


Orion mendadak tersenyum, beberapa lingkaran terbentuk di sekitar Andrew. Lingkaran-lingkaran tersebut mengumpulkan energi jiwa, lalu membentuk rudal yang langsung melesat ke arah Andrew dengan kecepatan tinggi.


Tidak aneh kalau dia mampu meledakkan gunung karena kemampuannya ini, pikir Andrew. Tapi, masih belum cukup untuk mengalahkanku. Andrew menjentikkan jari, sebuah pelindung langsung melindungi dia dari serangan Orion.

__ADS_1


__ADS_2