The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 10 part 1


__ADS_3

Sekarang, kulapisi sekujur tubuh dengan energi murni agar lebih aman. Pertarungan kali ini pasti akan lebih sulit dibandingkan pertarungan-pertarungan sebelumnya. Jika salah langkah, mungkin nyawaku akan melayang sekarang juga.


Dilanda oleh rasa takut, aku hanya bisa menelan ludah dan bersiap. Apakah hasilnya buruk atau bagus, tidak ada yang tahu. Sekujur tubuhku tidak sesakit tadi, pedang bayang kugenggam, dan cakar di tangan kiri kulapisi dengan bayangan. Baik, persiapan sudah selesai, saatnya untuk menunggu serang—


Belum apa-apa, Andrew mendadak ada di hadapanku sambil menjulurkan tangan bercakarnya ke depan. Beruntung, aku dengan sigap membuat sebuah pelindung, sehingga serangannya tertahan. Sayap bayang kukepakkan agar dapat menjauh dari Andrew.


“Serangannya sangat brutal, dan yang paling megerikan adalah kecepatannya. Sial, aku salah memilih musuh.”


Namun, bukan berarti aku akan menyerah tanpa perlawanan. “Hia!” Pedang bayangku langsung membesar, lalu aku menebaskannya ke depan, tepat ke arah Andrew. Dan lagi-lagi, pemuda itu hilang dari pandanganku. Segera aku mencari-cari di sekitar, kemudian kilatan cahaya melesat cepat dari atasku.


“Jangan meremehkanku!” Pedang bayang kupecah menjadi bola banyangan yang kemudian melesat ke arah kilatan cahaya tadi. Memanfaatkan tekanan udara serta kepakan sayap, aku langsung mundur sejauh mungkin. Akan tetapi, dua buah bola cahaya seukuran kelapa langsung melesat dari dua arah menyerarngku.


Kurentangkan kedua tangan, lalu membuat perisai bayang untuk menahan serangan tersebut. Dalam sesaat, tekanan langsung terasa di sekujur tubuh kala dua serangan tadi mengenai perisai bayangku. Masih belum dapat bernapas lega, dari atas Andrew melesat, hendak menebaskan pedang cahaya di tangannya. Namun, pelindung energi murni yang kubuat dengan susah payah dapat menahan serangan tersebut.


Jujur saja, tekanan di otak membuatku sangat kesakitan juga lelah. Mungkin seperti ini rasanya ketika jiwa dikoyak dengan brutal. Lagi-lagi darah mengalir dari mulutku, tetapi tetap kuabaikan karena masih dalam pertarungan.

__ADS_1


Dari atas sana, Andrew berkata padaku, “Pasti sangat sulit menahan serangan tadi.”


Napasku masih tak karuan, dada begitu sesak ditambah rasa sakit yang kuterima. Entah bagaimana, proses pemulihan tubuhku jauh lebih lambat dibanding sebelumnya. Apakah ini karena tekanan yang dirasakan oleh otaku. Ternyata benar, otak merupakan organ paling vital bagi manusia.


“Ada apa? Apakah itu adalah batasmu? Ternyata kau sangat lemah, tidak seperti yang aku duga sebelumnya,” lanjutnya, mencoba memprovokasiku.


Aku memilih untuk tetap diam sembari pemulihanku selesai, tetapi tidak ada kesempatan itu. Beberapa pedang cahaya mengambang di sekitar Andrew, lalu melesat cepat ke arahku. Kupaksakan tangan kiri untuk bergerak menebas udara, kemudian beberapa garis hitam melayang, bertabrakan dengan pedang cahaya tadi.


“Sial!”


“Hoho, ini tidak seperti dirimu, Leon.”


“Argh!” aku menjerit, menggeliat-geliat sambil berharap rasa sakit hilang.


Kemudian, tangan kanan Andrew yang memiliki kuku panjang langsung mencekik leherku. Dada terasa sesak, oksigen sampai tak bisa masuk ke dalam paru-paru. Tetap kupaksakan diri supaya dapat bernapas, tetapi Andrew semakin mempererat genggaman tanganya.

__ADS_1


Paru-paruku pun terasa terbakar karena tidak ada oksigen yang masuk. Tubuh semakin lemah, tangan kiri sudah tak dapat digerakkan. Kedua kaki masih mencoba untuk menendang. Namun, niat tersebut tidak bisa tersampaikan.


Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Kenapa seperti ini pada akhirnya? Sial! Sial! Sial!


Aku masih meronta walau tubuh semakin lemas. Darah mulai mengalir deras dari luka-luka di tubuhku. Kepala menjadi sangat pusing karena tidak ada oksigen yang masuk. Sungguh menyebalkan, apakah aku akan mati sekarang?


Kian lama waktu berlalu, aku telah kehabisan tenaga untuk melawan. Pandangan semakin buram, kala tawa jahat Andrew terngiang di telinga. Kemudian, sesaat sebelum kesadaranku hilang, tubuhku terasa ringan, oksigen mulai bisa masuk ke paru-paru. Namun, sudah terlambat, aku telah kehilangan kesadaraan.


Hening ....


Telingaku tidak dapat mendengar apa pun.


Sekujur tubuhku tidak merasakan apa-apa.


Namun, aku tak tahu apakah diriku masih bernapas atau tidak karena tak ada yang kurasakan. Mungkinkah aku telah mati? Tidak, mana mungkin aku mati di sini. Tujuanku adalah keluar hidup-hidup dari hutan misterius ini. Ah ya, bukannya aku sedang bertarung tadi. Akan tetapi, ini di mana?

__ADS_1


Sedikit demi sedikit, telingaku mendengar sebuah suara. Tubuh merasakan embusan angin dingin di malam hari. Aku ... masih hidup. Bagai sedang menyesuaikan keadaan, telingaku akhirnya dapat mendengar suara ledakan. Kemudian, rasa sakit kembali menyebar di sekujur tubuh yang tak dapat kugerakkan.


Mata kubuka. Samar-samar aku melihat pertarungan sedang terjadi di udara. Namun, tubuhku sungguh tak bisa digerakkan sama sekali. Sepertinya aku harus mengandalkan dan menunggu proses pemulihan selesai. Maafkan aku, Darwis. Karena tidak berguna di saat seperti ini.


__ADS_2