The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 8 part 3


__ADS_3

Kobaran api besar kini merambat dengan kecepatan tinggi. Lautan api tersebut kian berkibar dan bergelombang bagaikan ombak dari laut. Aku yang saat ini sedang terjatuh pun bergegas bangkit berdiri. Melirik ke samping, aku dapat melihat Rias juga berusaha bangkit.


“Ayo lari!” seruku sembari mengulurkan tangan kanan kepada Rias.


Mengabaikan uluran tanganku, Rias lantas berdiri dan mulai berlari. “Jangan melamun!”


Ketika melirik ke belakang, mata ini dapat melihat api yang kini semakin mendekat. Aku pun berlari sekuat tenaga untuk menghindari api tersebut. Namun, asap tebal mendadak menutup pandangan. Napasku sesak tersedak oleh kumpalan asap.


Terus berlari sambil mengabaikan semua itu, mataku kian memerah dan mengeluarkan air mata. Kututup hidung menggunakan kedua tangan kemudian menahan rasa pusing serta pandangan berkabut.


Suhu tubuhku semakin panas, mendadak, kaki ini tersandung pada sebuah akar hingga membuat jatuh terjerembab. Sekujur tubuh terasa nyeri, pandangan juga semakin buram. Meski demikian, aku tetap bangkit berdiri menahan semua rasa nyeri.


“Haah ... haah ... haah ....”


Tarikan napasku kian tak beraturan, detak jantung tidak berhenti berdebar kencang. Tak mampu menahan betapa pusingnya kepala, aku kembali jatuh sampai tidak sanggup berdiri lagi. Rasa lelah, pusing, haus serta lapar, langsung merasuk ke dalam tubuh secara bersamaan. Kendatipun begitu, tidak ada hal yang dapat membuatku meredamnya sekarang.


Suhu udara kian panas, aku yang saat itu sudah takluk oleh keadaan, lantas merayap untuk pergi. Tiba-tiba aku ditarik oleh tangan seseorang hingga membuatku bangkit berdiri. “Apa yang kau lakukan?” kata orang yang menarikku sembari menutup mulut dengan tangan lainnya.


Aku kembali berlari menggunakan kecepatan penuh. Namun, mendadak terasa bagian belakangku terbakar. Dan benar saja, pakaianku terbakar, aku pun mempercepat langkah sambil berteriak histeris, “Air! Argh ... panas! Air!"


Berlari tunggang langgang menerobos semua yang ada di depan sana. Walaupun awalnya merasa lelah, entah kenapa sekarang aku tidak peduli akan hal tersebut dan terus berlari.


“Hua!” Aku berteriak sangat keras ketika diriku tiba-tiba saja terjatuh ke sebuah jurang.


Terhempas sangat kuat di atas permukaan air sungai, sekujur tubuh terasa remuk. Mengabaikan semuanya, kugerakkan tangan dan kaki, berenang menuju tepian.


“Uhuk ... uhuk ... uhuk ...” Setelah sampai di tepian, aku langsung terbatuk beberapa kali karena air masuk ke dalam mulut. Memandang ke belakang tempat aku baru saja jatuh, mata ini dapat melihat kumpalan asap tebal telah menyelimuti area tersebut. Lalu, mendadak aku teringat pada seseorang. “Rias?”

__ADS_1


Kuamati lebih jauh kumpalan asap dan akhirnya melihat seseorang jatuh dari tebing yang tidak begitu tinggi itu. “Hua!” Orang tersebut berteriak begitu nyaring.


“Rias!” Aku balas berteriak sembari melangkahkan kaki kembali ke sungai tempatku jatuh beberapa waktu lalu.


Dentuman yang sangat keras terdengar kembali oleh telinga. Aku segera mempercepat langkah lalu berenang menolong gadis tadi. Tak butuh waktu lama, aku langsung menggendong gadis tersebut dan membawanya ke tepian.


Kubaringkan gadis itu di atas tanah lapang beralaskan rumput. Wajahnya terlihat pucat dengan mata tertutup sebab tak sadarkan diri. “Hei! Hei! Sadarlah!” Dia sungguh membuat aku panik. Kutekan dadanya supaya dia memuntahkan air.


“Uhuk ....” Gadis itu akhirnya sadar dan memuntahkan air dari mulut. Kutarik napas lega karena tahu dia sekarang sudah baik-baik saja.


“Di ... mana aku?” Gadis tersebut melirik heran sekitar. “Hah? Dasar mesum!” teriak sang gadis lalu menampar wajahku dan segera menjauh.


“Apa-apaan sih kamu?” bentakku, tidak terima dengan perlakuannya.


Bukannya meminta maaf, gadis itu malah cemberut dan menunjukku dengan jari telunjuk. “Beraninya kamu menyentuhku!”


“Jangan pura-pura tidak tahu! Ka-ka-kamu baru saja me-menyentuh ituku bukan?”


Kupandangi kedua telapak tangan kemudian tersadar akan apa yang kulakukan beberapa saat yang lalu. Akan tetapi, bukankah itu tidak masalah, sebab aku kan melakukan hal itu demi menyelamatkan nyawanya. Mengabaikan semua yang telah terjadi, aku bengkit berdiri kemudian berjalan dengan santai melewati si gadis—Rias.


“Terserah kamu saja, aku tadi hanya menekan dadamu untuk menyelamatkan nyawamu yang kritis,” kataku sambil berlalu.


“Hei! Tunggu aku!”


Setelah sekian lama menyusuri lapangan luas, kami kini memasuki kawasan hutan rimbun yang dipenuhi oleh semak-semak. Tanpa sadar, mata ini melihat dua orang tengah kelelahan bersandar di bawah sebatang pohon besar. Dan yang benar saja, aku mengenal kedua orang tersebut.


“Lize! Mischie!” Dengan girang aku meneriakkan kedua nama tersebut sembari berlari sekuat tenaga menuju ke arah mereka.

__ADS_1


Kedua orang itu sontak menghadap ke arahku ketika mendengar nama mereka disebut. Lize yang tampak terkejut melihat diriku, langsung bangkit berdiri. “Leon?” Tanpa menunggu jawaban dariku, Lize lantas beranjak memelukku. “Leon! Dari mana saja kau?”


Aku tersenyum tipis lalu membelai kepala Lize dengan lembut. “Aku di sini,” jawabku, pelan.


Melihat aku dan Lize berpelukan, Mischie memasang wajah tidak senang. “Sampai kapan kalian akan berpelukan seperti itu?”


Nampaknya dia iri dengan kemesraan antara aku dan Lize. Menyadari hal itu, aku lantas memeluk erat Lize lebih mesra dari sebelumnya.


“Cih!” Segera Mischie memalingkan wajah ke arah lain.


“Ngomong-ngomong, Leon! Siapa gadis itu?” Lize melepaskan pelukannya dan mengatakan pertanyaan itu sambil tersenyum.


Sebenarnya tidak penting dia menanyakan hal itu kepadaku, karena aku dan dirinya tidak memiliki suatu hubungan yang istimewa. Ditambah, dia pernah mencoba untuk membunuhku, meskipun dia melakukannya karena perintah orang lain. Namun, tetap saja, dia melakukannya. Dan itu juga yang membuatku masih ragu untuk membalas perasaannya padaku.


“Oh, dia adalah Rias,” kataku sambil menunjukkan gadis berambut panjang di dekatku.


“Halo! Aku Rias, salam kenal,” Rias memperkenalkan diri dengan lembut sembari mengulurkan tangannya.


“Halo, Rias! Aku Lize, salam kenal,” jawab Lize menyambut baik uluran tangan Rias.


Meskipun begitu, entah kenapa perasaanku mengatakan kalau mereka tidak akan menjadi akur. Bahkan nampaknya, mereka akan saling bersaing satu sama lain.


Aku menggigil ketakutan ketika merasakan firasat tersebut. Dan aku berharap aku salah mengenai hal itu. Sebab pasti akan sangat merepotkan jika benar.


Di bawah sinar rembulan yang bersinar terang, Mischie tiba-tiba berkata dengan gelisah, “Apa lagi yang akan kita temui di hari berikutnya? Kuharap itu bukan hal buruk.” Mischie sambil langit di belakangku. Lelah menghadapi situasi.


Karena penasaran, aku pun memalingkan pandangan ke belakang dan melihat gumpalan asap tebal yang membumbung tinggi di langit. Melihat hal tersebut semakin membuatku takut untuk menghadapi hari-hari berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2