
Leon duduk bersila sembari memejamkan mata. Aliran energi di sekitar dapat terasa olehnya. Perlahan dia menarik napas kemudian mengembuskannya.
Pikiran pemuda itu mulai tenang, keringat yang tadinya terus bercucuran sudah mulai menghilang. Dia tetap bergeming selama beberapa saat, lalu akhirnya membuka mata.
Pemuda itu berdiri, memandangi sekitar untuk mengamati. Tidak ada hal aneh, hanya dimensi kosong tanpa ada apa pun selain dirinya sendiri.
"Hm ... apakah benar aku dapat keluar dari dimensi ini menggunakan kekuatanku?" Perasaan ragu mulai melingkupi hatinya. Memang benar, kata Ellise kekuatan Leon begitu besar, tetapi percuma saja jika tak bisa dikendalikan dengan baik.
Beberapa kali Leon melompat-lompat kecil. Kemudian dia fokus merasakan energi di sekitar.
"Baiklah, bagaimana cara untuk mengendalikan kekuatan ini? Apakah sama dengan cara mengendalikan kekuatan bayangan?" tanya Leon pada dirinya sendiri.
Leon mulai berimajinasi dalam benaknya, dia membayangkan memakai jubah bayang. Benar saja, sekarang dia berhasil mengenakan jubah bayang berwarna hitam.
"Kekuatanku adalah mengendalikan bayangan," sejenak Leon terdiam, "dan hanya itu yang kutahu tentang diriku."
Dia menarik napas panjang sembari menutup mata. Kini dia tengah membayangkan sesuatu hal.
"Bayangan bisa menciptakan apa pun, tapi bisakah yang diciptakan menggunakan bayangan berfungsi sebagai mana mestinya benda itu berkerja." Tangan kanan bayangannya dia arahkan ke depan.
Hal pertama yang menjadi pertanyaan bagi Leon bukan mengenai hal rumit, tetapi apa itu bayangan? Dan sekarang dia telah mengetahui jawabannya.
Menurutnya, bayangan adalah suatu refleksi dari suatu benda. Jadi, jika bayangan merupakan refleksi, maka benda tersebut akan memiliki fungsi sama jika berada di dimensi berbeda.
Dimensi berbeda yang dimaksudkan tidak lain adalah dunia cermin. Maka dari itu, salah satu pilihan untuk memaksimalkan kekuatan bayangan adalah dengan membuat sesuatu di dunia cermin tersebut dan menariknya keluar ke dunia nyata.
Leon membayangkan sebuah dunia di dalam kepalanya, lalu hal yang paling disorot olehnya adalah sebuah pintu berwarna putih. Ketika matanya terbuka, seketika cahaya berwarna putih bersinar dari sana.
Meski perlu banyak waktu, bayangan dari kekuatan Leon membentuk sebuah pintu. Lalu, tak lama berselang, bayangan tersebut mulai menghilang.
Saat semua bayangan sudah memudar, pintu melayang berwarna putih pun tampak di sana.
Leon menghela napas sembari menurunkan tangan. Matanya yang tadi bersinar kini sudah normal lagi.
Meskipun baru pertama kali dia melakukan hal ini, tak terlihat sama sekali kalau dia sedang kelelahan. Mungkin, banyaknya latihan fisik selama di hutan misterius sudah membuatnya berkembang pesat.
__ADS_1
Selain itu, karena banyaknya energi yang diterima saat hampir keluar dari hutan misterius, Leon sudah tidak bisa berubah menjadi sosok hitam lagi.
Leon akhirnya turun dari atas kotak hitam tempatnya berdiri. Perlahan dia mendekati pintu putih buatannya tadi sambil mengamati.
"Sepertinya ini sama dengan pintu putih yang membawaku ke sini, tapi ke mana dia akan membawaku setelah ini?"
Walau sedikit ragu, Leon masih tetap memberanikan diri untuk memasuki pintu tersebut.
Pandangannya seketika dibutakan oleh cahaya berwarna putih. Sesaat kemudian, sebuah pemandangan di balik pintu pun terlihat begitu jelas.
"Di mana ini?"
Angin berdesir, menerbangkan debu dan sampah plastik kering. Terik matahari begitu menyengat, mungkin dapat membuat dehidrasi jikalau terlalu lama berdiam di sini.
Di ujung sana, tampak reruntuhan bangunan tinggi maupun kecil. Beberapa terlihat seperti benda berbentuk lingkaran yang kini sudah tak dapat dipakai.
Padang tandus adalah apa yang menjadi pijakan Leon sekarang. Matanya melebar, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" Leon terheran-heran, langkah kakinya melambat ketika semakin dekat dengan reruntuhan.
"Lalu, di mana kita sekarang?"
Memang benar gravitasi di sini tidak jauh berbeda dengan dunia kita, tapi aliran energinya sungguh berbeda.
"Dari mana kau tahu kalau tarikan gravitasinya sedikit lebih ringan?" Kali ini Leon benar-benar menghentikan langkahnya.
Ya, sedikit aneh sih karena aku adalah sebuah jiwa tanpa raga. Namun, dengan menggunakan kekuatan aku bisa mengetahui hal itu.
"Jadi, sekarang kita ada di mana? Dan kenapa aku bisa membawa kita ke sini?"
Leon semakin bertanya-tanya, keadaan ini sungguh tidak bisa dimengerti olehnya.
Satu-satunya jawaban adalah, kau menentukan koordinat pintu dimensi secara acak hingga sampai ke sini.
"Apakah itu mungkin kulakukan?"
__ADS_1
Dengan kekuatan hebatmu itu, mungkin menjelajahi alam semesta luas ini bukanlah sebuah masalah. Tapi....
"Tapi apa?"
Kemungkinan besar kelemahanmu adalah pada fisik. Kekuatan fisik manusia itu sangat lemah, bahkan kalaupun kau memiliki kekuatan besar, tubuhmu akan tetap hancur jika sudah mencapai batasan.
Sejauh ini, belum terlihat jelas kelemahan dari Leon, sebab kekuatannya masih belum digunakan sepenuhnya. Akan tetapi, sama seperti yang dikatakan Ellise, fisik manusia suatu saat akan sampai pada batas di mana dia tak lagi bisa bertahan.
Sekarang Leon menghela napas lagi. "Ya, kau mungkin benar, tetapi aku harus kembali ke dunia kita untuk dapat melihat dengan jelas keadaan di sana. Tujuanku pulang adalah untuk menebus dosa, kuharap ada sesuatu yang bisa kulakukan nantinya."
Benar, tujuan Leon sekarang adalah mencari penebusan dosa. Bagaimanapun juga, kesalahan di masa lalu masih terus menghantui pikirannya hingga sekarang. Namun, dia tak tahu apa yang akan ditemuinya nanti ketika kembali.
Sudah beberapa kali dia memikirkan hal ini, dan dia tidak yakin ada hal istimewa untuk dilakukan olehnya. Akan tetapi, meski sepele, dia bertekad untuk terlebih dahulu menebus kesalahan pada ayahnya.
Kenapa dia ingin melakukan itu? Jawabannya sederhana, karena dia telah menyalahgunakan kekuasaan yang dipercayakan ayahnya kepada dirinya.
"Ellise, kuharap kau mau membantuku."
Membantu apa?
"Kau bilang tadi aku menentukan koordinat pintu secara acak, tapi jika kau mau memberikan gambaran dunia kita, mungkin aku bisa langsung ke sana."
Tapi, aku tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikannya. Ellise bingung harus berbuat apa sekarang.
"Tidak perlu bingung. Kau bilang Kristal Warna kita menyatu, itu artinya kau juga bisa menggunakan kekuatan bayangku di alam bawah sadarku."
Leon memejamkan mata, berkonsentrasi untuk masuk ke alam bawah sadarnya. Di sana terlihat Ellise yang memiringkan kepala karena bingung.
"Apa yang kau maksud?" tanya Ellise.
"Bayangkan sebuah tempat dalam pikiranmu, lalu rasakanlah kekuatanku di dalam jiwamu itu." Leon tersenyum hangat.
"Baiklah, akan kucoba. Kalau tidak berhasil jangan salahkan aku."
"Kau tidak akan tahu sebelum mencoba."
__ADS_1
Dengan bersatunya Kristal Warna Ellise dan Leon, di dalam alam bawah sadar Leon, Ellise bisa menggunakan kekuatan bayangan milik Leon. Memang tidak sekuat Leon, tetapi tetap saja bisa menggambarkan sesuatu seperti aslinya.