The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 34 : Kebenaran


__ADS_3

Ledakan terus menggema di lapangan tandus ini. Debu berterbangan, Chimera berserta Tan pun ikut terhempas terkena gelombang udara.


Kilatan cahaya saling berbenturan di langit, membuat suara hantaman besi yang begitu keras. Sesekali api muncul dari benturan tersebut, dan tak lama berselang ledakan kembali menggema.


Vord terpental ke belakang saat ledakan menggema. Jauh di hadapannya terlihat sosok Prison yang tengah marah bersama dengan Night. Namun, ekspresi Vord tetap datar melihat situasi ini.


Di tangan Vord terdapat sebilah pedang, pedang itu sesekali ia tebaskan di udara. Matanya kemudian melihat ke bawah, di mana mayat Jahad terbaring dengan dibasuh habis oleh warna merah darahnya. Lalu, ia kembali menatap musuh di depannya.


Seketika itu, Prison telah menghilang dari pandangan. Bulu kuduk Vord lantas berdiri. Ia pun secara refleks berbalik ke belakang.


Pedang Vord dan cakar panjang Prison saling berbenturan. Tidak cukup sampai di sana, Night melancarkan serangan bola api dari belakang Vord ketika Vord ditahan oleh Prison. Akan tetapi, salah satu makhluk abu-abu yang ia ciptakan melompat untuk menghalau serangan tadi.


"Hia!" Sekuat tenaga Vord menebaskan pedangnya hingga membuat Prison terpental ke belakang. "Haah ... haah ... haah ...." Tarikan napas Vord sudah terputus-putus.


Gemuruh pertarungan masih tak kunjung reda di bawah sana. Namun, tubuh Vord hampir mencapai batas karena tidak berhasil menyelesaikan pertarungan dalam waktu singkat.


Belum sempat Vord beristirahat, sekali lagi Prison melesat dari atas. Vord menengadah, kemudian menebaskan Pedang Zero-nya secara vertikal untuk menahan serangan.


"Beraninya kau ... berani sekali kau membunuh temanku! Tidak bisa dimaafkan! Aku akan membunuhmu, Vord!" Tampak begitu jelas api kemarahan menguasai Prison sekarang ini.


"Dia pantas mendapatkannya setelah apa yang kalian lakukan!" Vord menambah kekuatan pada tangannya, hingga Prison lagi-lagi dibuat terpental. "Haah ... haah ... haah. Kalian para brengsek, begitu berani marah ketika nyawa kalian diambil. Tapi kalian malah menutup mata ketika mengambil nyawa orang lain!"


Tiba-tiba Vord merasakan kekuatan besar mendekat. Benar saja, sebuah bola api hitam raksasa melesat dengan cepat dari belakangnya. Seketika itu Vord berbalik, tangan kiri ia ulurkan ke depan. Tak lama, asap tebal lantas melingkupi dirinya.


"Lihatlah perbuatan kalian! Membunuh manusia dan membiarkan para makhluk yang tiba-tiba datang itu berkuasa? Jangan bercanda!" Asap tebal di sekeliling Vord lantas menghilang bersamaan dengan teriakan lantang dari pemuda itu.


"Kau takkan pernah kumaafkan karena membunuh temanku! Mati! Mati! Mati! Mati!!!" Dari depan Vord, Prison melesat secepat kilat dengan cakar panjang di depan.


Vord menggenggam erat Pedang Zero-nya dengan kedua tangan, lalu menebaskannya ke depan secara vertikal sekuat tenaga. "Kaupikir aku akan memaafkan perbuatan para makhluk biadab yang telah membumi hanguskan rumahku! Rumah kami! Jangan bercanda!"


Di detik-detik terakhir, Prison tersentak mendengar ucapan Vord. Akan tetapi, benturan kekuatan mereka berdua sudah terlambat untuk dihindari.


***


Beberapa saat lalu, Prison begitu tercengang melihat Jahad terbaring dengan luka besar di perutnya. Api amarah langsung mengisi lubuk hatinya, dan secara tidak sadar ia telah menyerang Vord berkali-kali. Namun, Vord begitu kuat untuk dihadapinya sekarang, bahkan bantuan Night saja masih belum cukup untuk menumbangkannya.


Hatinya menjerit ketika Jahad, satu-satunya temannya selama ini mati mengenaskan tepat di depan matanya. Ia tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika Jahad tiada. Apakah ia akan dilahap oleh kehampaan?


Memang benar kalau Jahad adalah orang yang menyebalkan. Bahkan sering kali dia menjahili Prison. Akan tetapi, mau se-brengsek apa pun dia, tetap takkan pernah meninggalkan temannya dalam keadaan kritis.

__ADS_1


"Vord!" Berulang kali Prison dan Night menyerang Vord bersama-sama. Tapi hasilnya sama saja. Vord yang sekarang terlalu kuat.


Dan kini, hanya beberapa detik lagi, maka ia akan mengetahui hasil dari pertarungan panjang ini. Namun, ia tersadar bahwa beban di pundak Vord jauh lebih berat daripada di pundaknya.


Sebuah senyuman lantas terukir di wajah Prison. "Kau menang, Vord ...." Saat cakar panjangnya hampir menyentuh tubuh Vord, Prison merubah wujudnya menjadi manusia biasa.


Aku menyerah, Jahad. Untuk apa aku mempertahankan nyawa tak bergunaku ini hanya demi membunuh orang tidak bersalah. Maafkan aku ....


Bodoh! Jangan mati! Kau tak tahu apa yang ada di dalam tubuh kita! Terdengar jelas di dalam pikirannya kalau Jahad sedang berteriak, tetapi sudah terlambat.


Tanpa belas kasihan, Vord membelah tubuh Prison menjadi dua bagian. Namun, meski demikian, senyum di wajah Prison belum juga hilang, seolah tengah mengatakan kalimat terima kasih.


"Padahal aku sudah katakan jangan mati. Kenapa kau tidak menurut?" Terpisah selama beberapa saat, Prison akhirnya bisa kembali bertemu dengan Jahad.


"Aku sudah lelah bertarung, Jahad." Prison tersenyum hangat pada Jahad.


"Kau tahu ...?" Jahad menundukkan kepala. "Aku pun sama, lelah membunuh orang tak berdosa. Tapi tidak ada hal yang bisa kita lakukan untuk melawan perintah Tan itu. Orang itu, Leon, adalah satu-satunya harapan kita."


"Jadi kau tak berniat menyerahkan pada Tan itu sejak awal?"


"Aku bukan orang yang bodoh. Kenapa aku lebih memilih mengulur waktu dan membuatnya terus menghadapi situasi kritis? Bukankah lebih baik jika kita menghemat waktu seperti biasa?"


"Aku memang benci orang-orang yang menyiksa mental dan fisikku. Namun, itu dilakukan supaya aku bisa bertambah kuat dan melindungi mereka yang lemah. Bodohnya aku waktu itu secara gegabah menerima pertolongan Tan brengsek itu karena emosi. Dan, pria berambut merah yang sangat kuat datang menyadarkanku di saat semuanya telah terlanjur terjadi."


"Kenapa kau menutupinya dan bertindak layaknya orang jahat?"


"Leon bagai sebuah berlian yang harus terus diasah. Harapan yang diberikan oleh pria berambut merah itu adalah Leon. Dia berkata, suatu hari, Leon akan menjadi penyelamat manusia."


"Kenapa kau menyuruhku untuk tidak mati?"


Jahad sedikit tersenyum. "Semuanya telah terjadi. Menyesal pun sudah terlambat. Sebaiknya kita serahkan masalah ini pada orang yang masih hidup."


***


Napas Vord begitu terengah, pedangnya sekarang sudah berlumuran darah. Ia bertanya-tanya dalam pikiran tentang sesuatu hal. "Kenapa? Kenapa dia membatalkan tekniknya dan tersenyum?"


"Hahahaha! Jadi mereka berdua telah tewas ya?"


Sontak Vord berpaling ke belakang mendengar suara itu menggema. Bukan hanya Vord, tetapi Night berada cukup jauh darinya juga menengadah.

__ADS_1


"Siapa kau! Cepat keluar!" Vord berteriak sekeras mungkin.


"Kau tak pantas melihat makhluk mulia sepertiku! Matilah dengan tenang bersama kaummu, manusia rendahan dan fana!"


Vord menggertakan gigi mendengar ucapan tersebut. "Aku tak tahu kau siapa, tetapi jangan pernah mengaku sebagai makhluk mulia hanya karena kau kuat! Kau itu bahkan jauh lebih rendah dari manusia!"


"Makhluk rendahan! Kau terlalu lancang! Kami adalah makhluk mulia yang diberkahi kekuatan!"


"Persetan dengan itu semua! Tindakanmu telah mencerminkan bahwa kau jauh lebih rendah dari kami!"


"Sudah cukup! Aku muak mendengarnya!"


Mendadak Vord merasakan sesuatu yang aneh. Dan benar saja, ketika melihat ke bawah, mayat Jahad dan Prison kembali pulih. Namun, ada sesuatu yang tidak beres di sini.


Ketika Vord memerhatikan lebih jauh, mata kedua orang itu telah berubah warna menjadi merah gelap. "Sialan! Ternyata sejak awal kalian telah merencakan ini, Jahad, Prison! Aku paham sekarang mengapa Prison menyerahkan diri untuk dibelah olehku!"


***


Di dalam Menara Harapan, Leon dan teman-temannya berjalan melewati sebuah lorong berwarna putih. Dengan penuh percaya diri Leon memimpin di depan diikuti oleh Sun, Sasa, dan Ni.


"Mari kita mulai dengan mencari informasi tentang markas para Makhluk Fantasi. Aku sudah tidak sabar untuk menghajar Jahad dan Prison!"


"Jangan terlalu bersemangat, Leon. Kau pasti sedang bercanda dengan keinginan menyerang langsung markas mereka!"


"Aku tidak sedang bercanda, Sun. Makhluk Fantasi sialan, sudah saatnya kita menyelesaikan semua ini."


Tiba-tiba Leon menghentikan langkah saat hampir masuk melalui pintu, ketika melihat seorang pria bertopeng emas tengah berbicara dengan seseorang. Ia kemudian bersembunyi di balik dinding bersama teman-temannya, mencoba menguping pembicaraan.


"Kota Heels diserang, bawa beberapa Pelahap Energi untuk membantu."


Seketika Leon dan teman-temannya terperanjat mendengar ucapan tersebut. Leon pun segera masuk tanpa memedulikan sekitar. "Apa maksud Anda, Tuan?"


"Oh, kau pasti Leon?" ucap pria dengan topeng emas. "Seperti yang kaudengar, kota Heels diserang."


×××


[Terkadang apa yang kaulihat di luar sangat jauh berbeda dengan kenyataan.]


-Save Jahad dan Prison -3-

__ADS_1


__ADS_2