
Aku menjaga keseimbangan tubuh lalu berjalan mendekati dua ekor monster tadi. Senapan panjang yang ada di tangan ini kuarahkan pada salah satu monster itu.
Hei, ternyata aku bisa menggunakan alat ini.
Sungguh, aku tidak pernah menyangka kalau diri ini bisa mengendalikan senjata api yang sangat berbahaya. Dengan gerakan cepat, sekali lagi aku membidik dan meletakkan jari telunjuk di pelatuk senapan.
"Groar!"
Salah satu monster mengaum, salah satu kakinya dihentakkan dengan keras di tanah. Tanah bergetar, konsentrasi yang tadinya telah kukumpulkan, kini berhamburan. Walaupun keseimbangan tubuh mulai goyah, tetap aku memaksakan diri untuk berdiri tegak sambil membidik.
"Sialan, monster kepala banteng itu ternyata cukup cerdik." Tanpa mau memperhatikan lagi, pelatuk senapan pun kutarik.
Suara tembakan menggema, seketika itu pula peluru meluncur dan aku menjadi sedikit terdorong. "Harus cepat!" Langsung mengambil peluru yang ada di kantong celana dan memasukkannya ke dalam senapan.
"Leon! Cepatlah!" Mischie berseru dengan suara nyaring kepadaku.
"Sialan," kataku sambil kembali menembak.
Tiga buah bunyi ledakan, menggema di telinga. Monster berbulu abu-abu mulai bergerak menjauh dari monster berbulu hitam. "Ini terakhir!" Segera aku menghentikan langkah dan meluncurkan serangan dengan senapan panjangku.
"Oh tidak!" Di lapangan luas tempat kami bertarung saat ini, aku berbalik dan berlari sekuat tenaga. "Monster sialan itu malah mengincarku."
Langkahku goyah, gerakan kaki ini mulai tak karuan. Goncangan tanah akibat monster yang sedang berlari, kini bertambah kuat.
Tiba-tiba, aku tersandung oleh kakiku sendiri hingga menyebabkan diri ini jatuh terjerembab di tanah. Ketika memalingkan wajah ke belakang, mataku dapat melihat dengan jelas sosok monster yang tengah berlari dengan cepat ke arahku.
***
__ADS_1
Beberapa waktu lalu sebelum Leon dan teman-temannya bertarung dengan monster. Mischie menyampaikan usulnya kepada temannya saat sedang mendiskusikan strategi.
"Ada kemungkinan kalau monster yang akan kita hadapi, adalah monster abu-abu dan monster hitam," kata Mischie sembari berbalik dan menghentikan langkah. "Jika itu terjadi, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memisahkan mereka berdua."
"Jadi maksudmu, kita akan memancing salah satu dari mereka ke tempat lain lalu melawan yang lainnya bersama." Leon langsung menyela penjelasan Mischie.
"Ya ...." Raut wajah Mischie menampakkan ketidakpuasan. "Tapi, ada satu orang yang harus menjadi umpan."
Leon sedikit tersentak mendengar penjelasan Mischie. Dia mematung, sekujur tubuhnya kaku. Dengan kata lain, orang yang berani menjadi 'umpan' harus siap untuk berkorban nyawa, pikir Leon.
"Dan orang yang cocok menjadi 'umpan' adalah dia yang berani berkorban," kata Mischie melanjutkan penjelasan. "Orang itu tidak lain adalah aku."
"Tidak!" sahut Leon dengan tegas. "Akulah yang cocok menjadi 'umpan'. Karena aku mempunyai dua buah senjata dan empat buah granat."
"Kau bodoh, ya!" Mischie membentak Leon. "Kau bisa saja mati karena hal ini."
"Leon tidak boleh menjadi umpan." Dengan tegas Lize menyerukan pendapatnya.
"Ya, itu benar." Rias pun ikut dalam diskusi. "Tidak ada yang boleh berkorban."
Mengetahui kondisi yang semakin rumit, Leon langsung menyela, "apakah aku selemah itu di mata kalian?"
Lize langsung tertegun mendengar kalimat itu. "Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau tetap hidup."
"Ya, kau memang lemah dan tidak cocok untuk menjadi umpan," sahut Rias.
"Apa maksudmu mengatakan itu?" Lize langsung marah ketika Rias unjuk bicara.
__ADS_1
"Orang lemah sepertinya mana mungkin bisa menjadi umpan."
"Kau ...."
Lize hampir saja mengamuk kala itu. Namun, dengan tenang Leon berhasil memenangkannya. Leon sangat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rias. Rias melakukan hal itu agar Leon menghentikan tekadnya untuk menjadi umpan.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya dengan berat hati, mereka merelakan Leon untuk menjadi umpan.
***
Sial, kenapa aku mau menjadi umpan. Berusaha untuk bangkit, aku menjaga keseimbangan tubuhku dengan menjadikan senapan sebagai tumpuan. Berdiri, aku lagi-lagi bergerak tak karuan karena guncangan.
Tidak! Aku harus hidup.
Bermodalkan sebuah tekad, kutahan rasa sakit yang terasa dan mulai berlari.
Tak tahan dengan guncangan yang terjadi akibat ulah sang monster. Aku pun berbalik dan melancarkan beberapa serangan menggunakan senapan panjangku.
Keseimbangan tubuhku menjadi goyah, diri ini terbaring dan mulai merasakan sakit. Namun, serangan yang kuluncurkan tidak berefek apa-apa pada monster sialan itu.
Dengan putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Aku mengaktifkan salah satu granatku dan melemparkannya ke arah sang monster.
Meledak, granat itu tidak memberikan dampak yang fatal pada tubuh sang monster. Hanya sekumpulan asap hasil ledakan tersebut yang menutupi raga monster itu.
Perlahan, monster tersebut kembali bergerak menuju ke arahku.
Matilah aku.
__ADS_1