The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 5 part 2


__ADS_3

Zombie-zombie tadi kian dekat dengan pintu keluar, pandangan Andrew tak lepas dari mereka. Sementara itu, Zanik terlihat sangat tidak tertarik dengan semua ini, dia hanya ingin kembali ke markas dan bermain-main tanpa perlu bekerja keras memutar otak.


“Pasti ada di antara mereka,” gumam Andrew dengan pelan.


Zanik tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Andrew, sehingga ia hanya dapat memiringkan kepala karena bingung. Namun, yang jelas, Andrew pasti sedang mencari sesuatu. Dan tidak ada yang tahu apa itu.


Tunggu! Zanik menempelkan tangannya di dagu. Misalkan ia sedang mencari mutiara yang dapat mengendalikan zombie, kenapa dia malah mencarinya di antara para zombie? Bukankah itu tidak masuk akal? Pemuda yang ada di sebelah Andrew, benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang diincar oleh Andrew. Memang terlihat jelas kalau Andrew seperti sedang membual, tetapi faktanya berbeda.


“Baiklah.” Dengan sangat tenang, Andrew berdiri, lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.


Itu adalah sebuah mutiara kecil berwarna putih. Benda itu berkilauan ketika terkena sinar bulan. Namun, apa fungsi mutiara itu? Mungkinkan ini yang dimaksud pengendali zombie oleh Andrew? Kalau pun benar, bagaimana cara benda itu bekerja?


“Apa yang akan kaulakukan?” tanya Zanik.


“Zombie memiliki banyak jenis, dan jenis yang kita temui ini adalah zombie yang sangat berbeda dari yang lainnya.”


“Maksudnya?” Zanik semakin tidak mengerti setelah mendengar perkataan Andrew.


“Ada banyak kasus tentang zombie, yang paling populer, zombie ada karena manusia terinfeksi oleh suatu virus. Zombie yang kita temui saat ini, terbentuk karena suatu virus, tetapi virus yang benar-benar berbeda dari yang lainnya.”


Astaga, apa sebenarnya yang ia katakan? Sangat tidak efisien karena dia terus memutar-mutarkan penjelasan ini. Zanik tidak dapat mencerna maksud dari penjelasan Andrew.


“Dengan kata lain ....”


Kini Zanik menjadi lebih penasaran untuk mendengar kelanjutanya.

__ADS_1


“Mutiara yang aku pegang sekarang bukanlah mutiara biasa. Benda ini terbuat dari berbagai jenis virus dan bakteri yang dibekukan menjadi satu. Dengan bantuan alat yang canggih, maka terciptalah sebuah mutiara energi ini.”


“Mutiara energi?”


“Ya, kurang lebih seperti itu.”


Jika memang dengan mutiara energi ini kami dapat mengendalikan para zombie, lantas mengapa dia terlihat sedang mencari sesuatu di antara gerombolan zombie tersebut? Sebuah situasi yang tidak dapat dimengerti oleh Zanik, terjadi karena penjelasan Andrew tidak selaras dengan tindakan pemuda itu sendiri. Namun, sekarang Zanik hanya bisa pasrah dan menerima.


Tiba-tiba, Andrew menembakkan pistolnya ke arah seekor zombie, tetapi zombie tersebut tak bergeming sedikit pun karena serangan Andrew. Para zombie tadi kemudian bergerak perlahan ke arah Andrew dan Zanik, sehingga mereka harus bergegas pergi.


“Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?” Situasi ini membuat Zanik semakin kesal dengan kelakuan Andrew.


“Jarak antara gua ini dengan markas Klan Kelinci sangatlah jauh. Aku tidak tahu seberapa lama kita akan sampai, tetapi yang jelas, Klan Kelinci akan tamat malam ini.”


Zanik hanya dapat menelan ludah mendengar kata-kata Andrew. Dia yakin kalau orang yang menjadi ketua Klan-nya ini adalah seorang psikopat. Bagaimana mungkin tidak, keinginannya hanya agar dapat keluar hidup-hidup dari hutan ini, dan menyiksa orang lemah. Beruntung, ia masih mau mentoleransi anggota Klan-nya, kalau tidak, mungkin semua orang akan dia bunuh.


Jauh di tempat lain, seorang pemuda tinggi dengan seragam hitam tengah berbaring di antara semak-semak sambil mengawasi sesuatu menggunakan teropong jarak jauh miliknya. Apa yang ia lihat adalah sebuah rumah tua yang dijaga ketat oleh para pemuda dengan senapan panjang di tangan mereka. Dan di sebelahnya terdapat seorang pemuda lain.


Pemuda itu juga mengawasi wilayah yang sama menggunakan teropong jarak jauh juga. Kemudian, ia menurunkan teropongnya, lalu berkata, “Sepertinya akan sulit bagi kita untuk menerobos masuk, Kaiser.”


“Masih terlalu dini untuk menyerah, Scof.” Pemuda yang bernama Kaiser, menurunkan teropongnya dan mulai menerawang ke sekitar.


Karena tak dapat menemukan apa pun, Kaiser hanya dapat menghela napas pasrah. “Kalau sudah seperti ini, tampaknya kita hanya dapat menunggu Bos dan Zanik.”


“Memang seharusnya begitu. Tapi seperti yang dikatakan Bos, kalau kita langsung membereskan masalahnya, maka akan lebih baik.”

__ADS_1


“Kau yang mengeluh, tetapi kau juga yang keberatan, aneh.” Kaiser kembali mengawasi rumah tua tadi, mengabaikan pemuda yang memakai seragam hitam seperti dirinya.


Ya, Kaiser bukanlah orang yang selalu peduli, karena itu ia dapat dengan mudah mengabaikan segala hal. Namun, tetap saja, ada sesuatu yang mengganggunya sehingga mau menjadi bawahan Andrew. Kalau tidak, mungkin telah lama ia mengembara seorang diri mencari jalan keluar secepat mungkin. Sama seperti Zanik, tujuan pemuda ini hanya satu, yaitu bertahan hidup dan keluar dengan selamat dari hutan terkutuk tempat ia kini berada.


Hembusan angin, menerbangkan dedaunan ke arah para penjaga yang mengelilingi rumah tua itu. Sedangkan Kaiser hanya terus bergeming, tanpa mau bergerak sedikit pun. Di sisi lain, Scof meneropong arah belakangnya, mencari tahu keberadaan dua orang pemuda yang menyuruh ia dan Kaiser menunggu di sini.


“Kapan mereka tiba?”


“Bersabarlah!” Kaiser langsung memperingatkan Scof. “Bos pasti sedang bermain-main dengan para zombie itu.”


“Tapi ... bukankah dia bilang kita akan menyerang beberapa Klan malam ini?”


“Mungkin kau pikir itu hanyalah bualan ....” Kalimat Kaiser terjeda selama beberapa saat. “Namun kenyataannya, jika Bos mau menyerang satu Klan seorang diri, mungkin saja dia akan mendapatkan kemenangan.”


“Sekuat itukah dia?”


“Ya. Tapi dia takkan mau menunjukkan kekuatannya itu.”


Percakapan ini mengingatkan Kaiser pada suatu insiden yang dulu pernah dialaminya, ketika berpergian bersama dengan Andrew. Kala itu, Andrew membawa Kaiser dan dua orang lainnya untuk menjelajahi sebuah ngarai, lalu di sana seekor monster besar muncul. Akan tetapi, ketika dua orang lainnya telah tewas, dan hanya tersisa Andrew dan Kaiser, Andrew memperlihatkan kemampuan aslinya, kemudian dengan mudah mengalahkan monster tersebut.


Sejak saat itu, Andrew memperingatkan Kaiser untuk merahasiakan kejadian tersebut, sehingga Kaiser hanya dapat diam karena takut akan dihabisi oleh Andrew. Meskipun Andrew tidak mengatakan kalau ia akan membunuh Kaiser jika mengatakan rahasianya, tetapi Kaiser tahu kalau dia pasti akan mati jikalau membeberkan rahasia tersebut.


“Tampaknya, sebentar lagi mereka akan sampai,” gumam Kaiser sembari menurunkan teropongnya.


“Kuharap apa yang kau katakan itu benar terjadi.”

__ADS_1


Tepat di saat Kaiser berdiri sambil masih bersembunyi di balik pohon yang ada di sebelahnya, Zanik dan Andrew datang dengan berlari. Walaupun jarak yang mereka tempuh sangat jauh, Andrew masih sangat bugar, hanya sedikit keringat yang membasahi tubuhnya. Sedangkan Zanik sudah sangat kelelahan dan hampir pingsan menempuh perjalanan panjang tadi.


__ADS_2