
Waktu berlalu dengan cepat, kini Leon berlari sekuat tenaga menuju Lembah Evolusi. Setiap detik ia menaikkan kecepatan, ingin segera tiba di kota Heels. Akan tetapi, walau dengan kecepatan penuh, perlu waktu lama untuk bisa sampai di tempat tujuan.
Leon berlari begitu cepat, meninggalkan teman-temannya di belakang. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk di kota Heels. Sekarang, harapannya hanya satu, yakni agar kota Heels baik-baik saja.
“Cepatlah kakiku! Aku tidak dapat menunggu lagi!” Leon memaksakan agar kecepatannya bertambah. Namun, tetap saja kini ia telah mencapai batas maksimalnya.
“Leon! Jangan gegabah!” teriak Sun dari belakang.
Tentu saja Leon tidak merespon dan hanya terus berlari. Ia tengah panik saat ini, jadi mana mungkin dapat tenang semudah membalik telapak tangan.
Sedikit demi sedikit, muncul aura gelap dari kristal warna di dadanya. Leon menyadari hal tersebut, tetapi tak terlalu memedulikannya. Di sekujur tubuhnya muncul semacam aura gelap yang menyala-nyala bagaikan api. Dari matanya, kilatan cahaya muncul, dan seketika itu pula kecepatannya bertambah.
“Hia!” Saat ini ia benar-benar cepat, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Sekejap mata ia sampai di Lembah Evolusi.
Tanpa berhenti, Leon berlari menyusuri lembah, tetapi kemudian matanya terbelalak lebar melihat apa yang ada di depan pintu keluar lembah.
“I ... itu, apakah makhluk itu datang dari kota Heels? Apa yang terjadi?” Leon menurunkan kecepatan, lalu dengan segera mendekati seekor makhluk berwarna abu-abu yang sedang menggendong seorang gadis.
Makhluk tersebut lantas menurunkan si gadis, kemudian dia lenyap begitu saja setelah Leon membaringkan si gadis yang tengah pingsan perlahan-lahan. Leon berdiri, memandang ke depan untuk memastikan keadaan.
Ia masih belum mengerti akan semua ini, tetapi firasatnya mengatakan hal buruk baru saja terjadi. Kemudian pemuda tersebut kembali menatap gadis yang ia baringkan. Pipi gadis itu terlihat basah oleh air mata, dan tangannya sedang menggenggam erat sesuatu.
Ellise, bisa kau membantuku untuk membangunkan gadis ini?
Apa kau penasaran dengannya? Bukankah kau tadi ingin bergegas ke kota Heels?
Tidak, aku hanya merasa kalau dia bukan orang biasa. Aku tahu mungkin sekarang kota Heels tengah kacau, tetapi aku harus dapat bersikap tenang menghadapi keadaan.
Haah ... perlahan-lahan kau ternyata kembali menjadi dirimu yang dulu.
Yeah, kurasa gegabah itu tidak baik. Sun telah memperingatkanku sebelumnya.
Baiklah, aku akan mencoba menstabilkan aliran kekuatannya agar dia sadar kembali. Untuk itu, kau harus menempelkan tangan kananmu di keningnya.
Ya! Leon mengangguk dan melakukan perintah Ellise.
Air yang begitu hangat seolah mengalir di tangan kanan Leon. Ini sangat nyaman untuknya. Ia tak tahu bagaimana Ellise dapat melakukan hal ini juga.
Ellise, aku sungguh tak menyangka kalau kekuatanmu begitu hebat.
Kau terlalu berlebihan, ini hanyalah kekuatan kecil di dunia ini. Selain itu, aku bukanlah ahli pengobatan, jadi hanya dapat membangunkannya saja menggunakan kekuatan jiwaku. Untuk luka fisik, kau serahkan pada orang lain.
__ADS_1
Baiklah. Aku tahu itu.
Perlahan-lahan, gadis yang ditolong Leon membuka mata. Tak lama kemudian, dia telah sadar sepenuhnya. Leon pun mengangkat tangannya kembali sambil berdiri.
“Apa kau sanggup berdiri?” tanya Leon sembari mengulurkan tangan kanan pada si gadis.
Gadis itu terlihat bingung, kemudian meraih tangan Leon. “Ah iya, terima kasih.”
“Apa aku bisa menanyakan sesuatu hal padamu?”
Si gadis melepaskan genggaman tangannya dari Leon. Dia tampaknya tengah bersedih akan sesuatu hal. “Ya, aku bisa menjawabnya karena kau telah menolongku ...,” jawabnya pada akhirnya sambil menggenggam erat sesuatu di tangannya.
“Kau siapa? Dan dari mana kau datang?”
“Aku Starla. Aku dari ....” Sepertinya dia menjadi sedikit enggan menjawab pertanyaan kedua dari Leon.
“Baiklah, Starla, aku akan langsung saja. Apa kau tahu sesuatu yang sedang terjadi di kota Heels sekarang?”
“Itu ....” Starla semakin enggan menjawab, kedua tangannya mengepal erat. “Kota Heels telah ....”
“Ya?”
Tiba-tiba Leon tersentak kala mendengar nama Vord. “Ada apa dengannya?”
“Dia diserang oleh makhluk itu ....”
“Kau pasti bercanda!” Langsung saja Leon berlari menuju kota Heels. Akan tetapi, sebuah kejutan datang menghadang jalannya. Ia terhenti, matanya terbelalak lebar menyaksikan kejutan tersebut. “Apa ini?”
Di depan sana, terlihat kawanan Tan tengah berjejer, berjalan mendekat ke arah Leon. Pemandangan ini membuat Leon berpikir pada hal yang tidak-tidak, hingga membuatnya secara tidak sengaja melepaskan kekuatan dari kristal warnanya.
“Jangan bilang kalau ....”
Leon, tenanglah! Aku yakin Vord pasti baik-baik saja! Dia itu kuat, tidak akan kalah dengan mudah!
Aku tahu, Ellise. Tapi, kawanan makhluk biadab itu datang dari arah kota Heels! Mereka pasti yang telah menyerang kota itu! Mau bagaimanapun, para biadab ini tak bisa dibiarkan! Aku bersumpah akan memusnahkan kalian semua!
Jirah hitam muncul di sekujur tubuh Leon, jubahnya seketika berkibar terkena embusan angin kencang. Tak lama kemudian, sebilah pedang besar muncul tepat di tangan kanannya.
Leon memasang kuda-kuda, merentangkan pedang ke samping, dan mulutnya menganga hingga mengembuskan asap. “Hancur, hancur, hancur! Matilah kalian semua di tanganku!” Dalam sekejap ia melompat, lalu mengayunkan pedang di udara. “Rasakan ini!”
Gelombang angin besar tercipta, beberapa Tan seketika terhempas begitu saja saat terkena serangan brutal dari Leon. Tak menunggu waktu lama, Leon turun kemudian kembali melompat ke depan. Ia dengan cepat melesat, menebas kawanan Tan tanpa kenal ampun.
__ADS_1
“Hia! Hia! Hia!” Beberapa Tan langsung tumbang terkena serangan Leon. Tapi tak cukup sampai di sana, pemuda tersebut lantas melompat ke belakang dan melancarkan serangan bola energi murni. “Akan kubalas kalian!”
Ledakan dahsyat terjadi, Leon mendadak berhenti bergerak. Tarikan napasnya menjadi tak karuan, di tambah kekuatannya habis begitu banyak setelah melancarkan serangan habis-habisan tadi.
Kakinya melemas, pedang di tangan kanannya pudar perlahan-lahan. Bukan hanya itu, jirah serta jubahnya pun perlahan menghilang.
Ketika debu berterbangan membutakan penglihatan, Leon jatuh berlutut di tanah karena kehabisan kekuatan. “Sial ... apakah ini sudah batas dari kekuatanku?” Ia sungguh tak dapat bergerak lagi, kekuatannya tersedot begitu banyak akibat serangan gegabahnya.
Kau ini! kenapa sangat gegabah! Mereka banyak, jangan asal serang!
Maaf, Ellise, aku hanya tak dapat menahan emosiku....
Jadi sekarang bagaimana?
Aku—
Mendadak, jantung Leon berdetak kencang beberapa kali. Dadanya begitu sesak, sehingga ia berusaha meredamnya dengan menekankan kedua tangannya di dada.
“Argh!” Pemuda tersebut sudah tak sanggup menahan rasa sakit di dadanya. “Argh!” Ia menjerit begitu nyaring, dan darah perlahan keluar dari dalam mulutnya. Sekarang ia merasa ada sesuatu yang mengerogoti tubuhnya dari dalam.
Hei! Kau kenapa?
Leon masih terus menjerit kesakitan, kekuatannya terasa dihisap habis oleh kristal warnanya sendiri.
Tak lama kemudian, ada yang mendekat di depan Leon. Tampak seekor makhluk besar tengah tidak senang dan menggenggam erat wajah Leon sambil mengangkatnya.
“Kau, jangan berani menyerang Raja Tan sepertiku!”
“Argh!” Leon menjerit semakin nyaring, sekarang ia tidak hanya merasakan sakit di dada, tetapi juga di kepala.
Leon! Ellise menjadi panik, tetapi tak dapat berbuat apa-apa.
“Matilah!” kata makhluk besar sambil membakar hangus tubuh Leon, kemudian melemparkannya ke depan Lembah Evolusi.
Kini, Leon telah hangus, pakaian juga rambutnya telah terbakar, menyisakan tubuh yang gosong bagai arang.
××××
The end? ^^
No! Just a joke! That’s not the ending! Still waiting for new chapter!
__ADS_1