The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S2] Chapter 2 part 3


__ADS_3

Suasana menjadi hening, tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun. Beberapa saat kemudian, Andrew akhirnya berkata, “Jadi, bagaimana menurutmu tentang orang itu?”


Meskipun Andrew tidak memberitahukan pada siapa pertanyaan itu dilontarkan, tetapi gadis berambut hitam panjang tadi, mendekat ke arah Andrew. Gadis yang mengenakan pakaian hitam dengan pistol terikat di perutnya itu, berdiri di sebelah Andrew. “Dia orang yang cukup menarik, tapi hatinya terlalu lembut, sehingga mudah bagi kita untuk membunuhnya.”


“Apakah aku pernah bilang kalau kita akan membunuhnya begitu saja?”


Gadis berambut panjang itu sedikit tertawa, dia tahu apa yang dimaksud oleh Andrew. “Nampaknya, kau benar-benar ingin mempermainkannya.”


Andrew memasukkan pistol hitamnya ke balik pakaian, lalu merangkul bahu gadis di sebelahnya. Ia kemudian berbalik dan menatap mata gadis itu, dengan jarak satu jengkal saja. “Tentu saja, karena dia hanyalah sebuah mainan, Lize.”


Apa-apaan mereka berdua ini, bermesraan tepat di depan mataku, kejam sekali, pikir Zanik yang melihat kemesraan antara Andrew dengan Lize. Sebelum adegan itu berlangsung lama, Zanik langsung menyela dengan melontarkan sebuah pertanyaan. “Kenapa waktu itu, kau melemparkan sepotong kaki kepada Leon, Lize?”


Dua insan yang hendak bermesraan tadi, mendengus kesal mendengar pertanyaan Zanik. Andrew kemudian mundur beberapa langkah dari Lize. Karena sangat jengkel, Lize menodongkan sebuah pistol pada Zanik, tatapan matanya begitu dingin, seperti hendak memakan daging manusia mentah-mentah.

__ADS_1


“Sudahlah, hentikan itu!” Andrew meletakkan tangannya di bahu Lize, dan mencoba menenangkan gadis tersebut. Pemuda itu kemudian beralih pada Zanik. “Dia melakukannya atas perintahku. Apa ada yang salah?”


Para pisikopat ini, mereka benar-benar kejam dan tak segan menyiksa orang, Zanik mengupat dalam hati. Pasrah akan keadaan, ia akhirnya tersenyum masam. “Tidak sih, tapi kenapa kau tidak menyiksanya waktu itu saja? Dan kenapa kau begitu ingin melihat orang itu menderita? Bukankah ini hanya membuang waktu?”


Kepala Andrew tengadah, memandangi rimbunnya pepohonan, dan cerahnya hari ini. Tak lama berselang, ia akhirnya menurunkan kembali kepalanya, lalu menatap lurus ke arah Zanik. “Semua orang melakukan sesuatu karena adanya sebuah alasan. Aku pun begitu. Ada sesuatu hal yang membuatku mau melakukan ini.”


“Oh, iya.” Tiba-tiba Lize teringat pada sesuatu. “Leon berasal dari Klan Ular, itu berarti dia satu kelompok dengan orang itu.”


“Dari klan mana pun dia berasal.” Senyum jahat, terlihat di wajah Andrew. “Yang akan menjadi pemenangnya tetaplah kita, Klan Naga, karena ada aku di sini.” Begitu angkuhnya, Andrew menunjuk dirinya sendiri.


***


Sore harinya, di tempat yang sama, Lize duduk di bawah sebuah pohon sambil memakan beberapa potong daging kelinci yang sudah dipanggang. Tanpa ada bumbu apa-apa, rasa daging itu begitu hambar di lidah. Namun, dia tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Suasana sunyi, melingkupi Lize dalam kesendiriannya, hanya suara nyamuk yang terdengar di telinga. Terkadang dia menepuk para nyamuk tersebut, karena memang hewan yang satu itu, sangat mengganggu. Bosan menepuk nyamuk yang tak ada habisnya, Lize menundukkan kepala, lalu ia mengingat kejadian waktu itu. Saat di mana dua mahkluk hitam mendadak muncul setelah mereka berhasil mengalahkan dua ekor monster besar.


Kala itu, Lize mematung kaku ketika melihat dua mahkluk hitam, tetapi dia akhirnya sadar akan sesuatu. Melanjutkan aktingnya sebagai rekan Leon, Lize berusaha untuk terlihat histeris, dengan berpura-pura terkejut. Tidak ada satu pun yang sadar bahwa Lize tengah berpura-pura, mereka sungguh percaya kalau Lize itu rekan mereka. Namun, fakta berkata lain.


Saat dua mahkluk hitam itu muncul, Leon baru saja naik ke atas tebing. Tanpa membuang waktu, salah satu mahkluk hitam langsung menyerang Leon. Sementara itu, mahkluk hitam lainnya mengejar Lize dan dua orang lainnya. Lize sadar, mahkluk hitam tersebut adalah orang suruhan dari Andrew, maka dari itu, ia dapat dengan santai melanjutkan aktingnya.


Tak lama kemudian, Leon sudah terkapar, karena kalah, lalu Lize pun menembak mahkluk hitam yang mengalahkan Leon itu. Layaknya sebuah pertanda, mahkluk yang mengalahkan Leon, langsung bergegas mendekati Lize. Ketika Leon sedang menutup mata, di sinilah semuanya terungkap.


Lize menarik Rias ke belakang, lalu menyerahkannya kepada salah satu mahkluk hitam. Namun, Mischie tidak tinggal diam saat mengetahui itu. Mischie pun mencoba melawan, tetapi naas, takdir berkata lain. Rias dan Mischie akhirnya mati di tangan mahkluk hitam.


“Sebagai imbalan atas usaha kalian, dua mayat ini boleh kalian makan,” kata Lize, lalu mematahkan salah satu kaki Rias.


Dua mahkluk hitam tadi, hanya mengerang sesaat, kemudian mulai mengunyah. Lize hanya tersenyum melihatnya, dan melemparkan sepotong kaki tadi kepada Leon. “Baiklah, aku akan pergi. Nikmatilah santapan kalian.” Lize akhirnya pergi jauh ke dalam hutan.

__ADS_1


***


“Kejadian waktu itu masih dapat kuingat dengan jelas,” gumam Lize sembari melemaskan tubuhnya. Ketika melihat lurus ke depan, ia dapat melihat seorang pemuda berdiri di sana. “Kau ....”


__ADS_2