
Raja Tan seketika pergi sejauh mungkin, ia sudah tahu kalau akan berbahaya jika terus berada di sini. Aura orang-orang yang tadinya ia kira lemah, sekarang berubah seolah itu bukan mereka. Terlebih, instingnya tahu benar bahwa ada monster ganas di sana.
Segera Raja Tan mempercepat langkah selagi mereka tidak memerhatikan, tetapi, mendadak saja kakinya berhenti bergerak. Mata makhluk tersebut terbelalak, ia mematung seperti sebuah patung. Bagaimana tidak? Tepat di depannya menancap sebuah tombak besar berwarna hitam. Ketika memandang ke atas, terlihat sosok yang ia takutkan melayang di atas sana.
“Mar ... Marvin ....” Raja Tan mundur beberapa langkah. Dengan jelas ia dapat mengingat siapa yang melayang di atas itu. “Mustahil, bukankah penyergapan 50 Ti kala itu telah membuatmu tewas?”
Orang berjubah putih yang dipanggil Marvin itu tampak tenang. Dia hanya bergeming sembari mengamati untuk sesaat. “Yo! Kalau aku tidak salah, kau adalah Tan bodoh yang kuabaikan waktu itu?” tanya Marvin, tenang.
Raja Tan kembali mundur beberapa langkah, sekujur tubuhnya gemetar hebat. Mulutnya bungkam seketika, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
“Kenapa kau tidak menjawab?” Marvin menatap kosong ke bawah. “Bukankah kau adalah seorang raja?”
Mendengar ucapan Marvin membuat Raja Tan merasa terhina. Akan tetapi, ia masih takut untuk langsung menyerang begitu saja. Perbedaan kekuatan di antara mereka terlalu jauh. Namun, mendadak saja Raja Tan teringat pada sesuatu.
“Hahaha.” Kini Raja Tan kembali tenang. “Kau baru saja bangkit, dan sekarang ingin mengalahkanku? Aku yakin kalau kekuatanmu masih belum pulih seutuhnya. Jangan terlalu sombong di hadapanku!” Seketika ia melompat sembari melancarkan pukulan tangan kanan sekuat tenaga.
“Bodoh ....” Tanpa perlu bergerak, hanya dengan satu tangan kiri, Marvin sanggup menahan serangan Raja Tan. “Oh, ternyata kau sempat menyerap energiku ketika aku di ambang kematian ya? Tidak heran kau sekuat ini. Tapi, sudah saatnya kau tidur!” Tatapan Marvin begitu tajam, hingga membuat Raja Tan gemetar.
“Argh!” Seluruh kekuatan di dalam tubuh Raja Tan diserap secara paksa oleh Marvin. Tentu saja ia merasa kesakitan karena kekuatannya diserap seperti itu. Sekarang ia menyesal telah meremehkan lawan. Namun, semua rasa sakit tersebut lenyap dalam sekejap setelah beberapa saat. Ia pun menjadi lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
***
Marvin menatap kosong ke tubuh Raja Tan yang telah terpotong menjadi beberapa bagian. Seluruh energi di dalam tubuh makhluk tersebut telah ia serap dengan sempurna, sehingga tak menyisakan apa pun lagi. Sejenak ia memandang ke sekitar, terlihat jelas hamparan mayat para Tan bergelimpangan di sana sini.
“Haah ....” Marvin mengembuskan napas panjang, sembari membuang potongan tangan kanan Raja Tan yang masih ia pegang. “Hanya kawanan semut seperti ini, kenapa mereka sangat kesusahan menghadapinya?”
Sambil melirik ke segala arah, perlahan Marvin mendarat tepat di mana teman-temannya berada. Sama seperti sebelumnya, Sun dan Andrew—yang merasuki tubuh Sasa—masih bertengkar. Melihat ini, Marvin hanya bisa menggelengkan kepala dan berpura-pura tak melihat.
“Apa kau senang dapat kembali, Tuan Muda Klaurius?” tanya Ellise sambil tersenyum.
Marvin menatap mata Ellise, tetapi ia tidak dapat menebak bagaimana sebenarnya perasaan gadis tersebut. “Jangan memanggilku dengan sebutan itu.”
“Kenapa? Bukankah sudah seharusnya kau menyandang nama tersebut?”
“Haah ... lupakan saja.” Akhirnya Marvin pasrah pada keadaan. “Selain itu, apakah kau senang sekarang?”
“Tentu saja!” Senyum di bibir Ellise kian lebar. “”Bagaimana mungkin aku tidak senang melihatmu kembali? Telah sangat lama aku menanti ini, Marvin ....”
“Kau bimbang, benar?” tanya Marvin.
“Apa maksudmu?” Ellise sedikit mengalihkan pandangan.
__ADS_1
“Aku tahu, kau sangat buruk jika disuruh berbohong padaku, Ellise. Sebelum itu, biar aku tebak, pasti adikku, Leonal, yang telah merencanakan kebangkitanku?”
Kali ini Ellise sudah tak dapat mengelak lagi, sehingga mengakui semuanya. “Ya, dia sudah memperhitungkan segalanya dari awal. Aku takjub padanya, tetapi juga kasihan. Dia tampak tersiksa oleh dirinya sendiri, oleh kekuatan serta kecerdasannya sendiri.”
Marvin mengembuskan napas panjang sembari melambai-lambaikan tangan kanannya, tidak peduli pada cerita Ellise. “Mengasihaninya sama dengan mendorongnya jatuh ke dalam jurang, jangan pikirkan dia. Terlebih, dia dapat mengatasi semuanya sendiri jika dia mau. Memang kekuatannya sekarang masih kurang, tapi beberapa tahun lagi kau takkan bisa membayangkannya.”
“Apa maksudmu?”
“Kau masih belum sadar? Seharusnya dulu kau pernah berada dalam dirinya, kan? Apakah kau tidak sadar akan sesuatu?”
“Aku tak mengerti ....”
“Biar aku beritahu. Kristal hitam di dalam dirinya berbeda denganku, sebelumnya memang benar dia menggunakan kristalku, tetapi entah kenapa kristal tersebut berubah menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Aku bisa membayangkan, seberapa sulit hidupnya selama ini.” Marvin berhenti senjenak. “Yang pasti, aku yakin ini pastilah pengaruh dari lingkungan.”
Ellise tersenyum masam. “Ya, kau memang benar. Lingkungannya dulu sangat jauh dari kata damai. Mungkin, jauh lebih buruk dan lebih parah dari dunia yang diinvansi oleh para makhluk luar angkasa ini.”
“Sudah kuduga. Terlebih,” sejenak Marvin menyentuh kristal hitam di dadanya, “sepertinya kristal ini baru diaktifkan tidak lama ini. Apa aku salah, Ellise?”
Terpaksa Ellise harus mengakui, meski harus menggigit bibir agar bisa melakukannya. “Kau memang hebat, dapat menebak semua itu dengan benar. Seperti yang diharapkan dari Marvin.”
“Kenapa dia melakukan semua itu?”
“Itu karena dia sangat menyayangimu, Marvin. Sewaktu kecil, kau sudah tahu bagaimana keluarga Klaurius memperlakukannya. Dia sudah seperti robot, hanya kau yang dia anggap sebagai kakaknya, yang disayanginya sepenuh hati.”
“Tidak. Tapi aku dapat merasakannya. Ketulusan hatinya itu membuat—” Belum sempat Ellise menyelesaikan kalimatnya, dia sudah menangis. “Eh? Ada apa denganku?”
Marvin tersenyum kecil, kemudian menatap Ellise dengan lembut. “Ellise, tugas kita sudah selesai sejak dulu. Kita pernah gagal satu kali, dan ini saatnya memberi mereka kesempatan bertarung.”
“Hei! Kau pasti bercanda, kan?” Dalam sekejap Ellise membentak Marvin. “Kau masih diperlukan untuk dunia ini!”
“Tidak lagi, Ellise.” Dengan lembut Marvin mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi Ellise. “Aku sudah lelah, begitu pula dengan Wolf. Dan, kurasa Andrew pun sama.”
Mendadak, Andrew mendekati Marvin diikuti oleh Sun. Sejenak Andrew tersenyum melirik bola mata Ellise. “Marvin benar, Ellise. Aku sudah lelah bertarung. Terakhir kali Leon mengacaukan ingatanku dan memeralatku, lalu membangkitkanku kembali. Ini konyol!”
“Aku setuju!” Sun meyahut. “Mana sudi aku menyerahkan tubuh indah Sasa untuk laki-laki brengsek ini!” Telunjuk Sun lantas menodong wajah Andrew.
“Apa katamu? Aku bukan orang brengsek!” Akhirnya mereka berdua kembali berkelahi.
“Kau sudah dengar, kan, Ellise?” Tanpa memedulikan sekitar, Marvin menenangkan Ellise lagi.
“Sebenarnya, aku juga sama. Namun, tanpa kita, tanpamu, dunia akan dikuasai oleh Makhluk Fantasi itu.”
__ADS_1
“Mereka masih mempunyai Leon. Suatu hari, anak itu pasti melampauiku.”
“Seyakin itu kau padanya?”
“Ya, seyakin itu!” Marvin pun melirik ke arah lain, mencari keberadaan Andrew. “Andrew, kita akan kembali.”
“Tuan ....” Mendadak, seekor tengkorak hidup datang menghampiri Marvin.
Tentu saja Marvin mengenalinya. “Tusk, aku akan pergi untuk selamanya, tolong jaga adikku, Leon, ya ....”
“Tidakkah Anda bisa tinggal saja?”
“Tenang saja, adikku akan menggantikan diriku. Kekuatannya pasti akan jauh di atasku. Dan, aku yakin kalian sempat bertemu sebelumnya.” Marvin tersenyum, lalu cahaya berwarna putih melingkupi sekujur tubuhnya, termasuk Ellise dan Andrew. “Untung saja anak itu tidak menggunakan mantra yang rumit, sehingga aku dapat melepasnya dengan mudah,” gumam Marvin, merasa lega. “Sampai jumpa, Tusk.” Ia pun melambaikan tangan.
***
Dalam ruangan berwarna putih, Leon terlihat masih melamun. Ia bergeming, tanpa berbuat apa-apa. Akan tetapi, tak lama orang yang ia kenal, muncul tepat di hadapannya.
“Yo! Leon, adikku!” Itu adalah Marvin.
“Kakak, kenapa kau masuk ke sini? Bukankah seharusnya sekarang kakak mengendalikan tubuhku di luar sana?”
“Kau ini.” Marvin lantas memukul pelan kepala Leon. “Jangan merepotkanku terus. Kau atasi saja masalahmu. Aku sudah tenang, dan kau memanggilku tiba-tiba untuk menyelesaikan masalah. Jangan bercanda.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi! Selesaikan masalahmu sendiri. Aku pergi ....” Akhirnya Marvin benar-benar menghilang, sementara tubuh Leon perlahan memudar.
***
Di luar sana, Leon dan Ni berpelukan dengan mata tertutup. Itu adalah posisi terkahir sebelum Marvin dan Ellise yang merasuki mereka berdua, menghilang. Mulai dari sekarang, perjalan baru akan dimulai. Perang besar antara manusia dengan makhluk luar angkasa jelas tidak akan dapat terhindarkan.
The End. Really .... It’s not a joke.
[Oh iya, jangan lupa kunjungi channel YouTube-ku, ya! Namanya : Careless Boy.]
[Instagram, untuk mengetahui karya-karyaku yang lain : @creshek_kun]
Untuk seasons selanjutnya sih, aku gak tahu kapan bakal update. Soalnya, jujur aja aku merasa ada yang aneh dengan akun Mangatoon-ku. Entahlah, mungkin hanya perasaanku, tapi sebelum masalah itu (gak bakal aku sebutin secara rinci, tapi moga aja ngerti) kelar, aku jamin gak bakal update seasons berikutnya!!!
Udah, segitu aja. Sampai jumpa lagi di (tempat lain)! *cek ig-ku
__ADS_1
Sekilas info, nama Mark Wijya cuma kupake di Mangatoon.