
Leon menarik napas dalam-dalam, Tan sudah tidak lagi menekankan dirinya seperti sebelum ini. Pedang berwarna hitam pada tangan Leon kian memanjang, meski demikian Tan hanya bergeming kala melihatnya.
Sejenak Leon memalingkan pandangan pada Sun. "Jika terus berada di sini, oksigen akan habis. Sebaiknya dinding ini kau hilangkan saja."
"Kau yakin? Bisa mengalahkannya?" Sun sedikit ragu pada perkataan Leon.
Tak terlalu peduli, Leon kembali memalingkan pandangan ke arah Tan. "Cepatlah lakukan. Aku tidak bertarung seorang diri!"
Melihat tekad kuat di dalam diri Leon, akhirnya Sun mengangguk lalu membatalkan dinding apinya. Kepulan asap seketika menghilang terbawa embusan angin. Dari belakang mereka berdua terdapat Gild, Theo, dan Sasa yang tengah berdiri.
Sun sedikit tersebut kepada mereka bertiga, sejenak dia melirik Leon, tetapi langsung kembali menatap Tan. "Ayo kita kalahkan dia!" ucapnya penuh percaya diri.
Tiga orang yang dari tadi berdiri di belakang langsung mendekati Leon dan Sun. Sasa berdiri di paling belakang, sementara Gild dan Theo berdiri berdampingan dengan Leon dan Sun.
"Kita kalahkan dia dengan kuantitas!" Gild menarik pedangnya ke depan, begitu juga dengan Theo.
Leon melirik mereka semua, lalu berkata, "Sun sudah menghabiskan banyak tenaga, sebaiknya Sasa merawatnya."
"Aku baik-baik saja! Tenanglah!"
Seketika Sun terbaring saat Theo yang ada di sampingnya menepuk punggung pemuda tersebut. "Baik-baik saja dari mana?"
"Biar aku yang merawatnya!" Sasa menarik Sun ke belakang, kemudian mulai memberi perawatan.
"Kalian berdua, aku tahu ini mungkin terlambat. Tapi, aku ingin meminta maaf atas sikapku beberapa waktu lalu," kata Leon, pelan. Namun, tanpa ada ekspresi apa-apa.
"Tidak usah khawatir! Sun baik-baik saja, kita hanya perlu berjuang sekuat tenaga sekarang ini." Sungguh tidak disangka, Gild yang tadinya dipenuhi oleh amarah seketika menjadi tenang.
"Sekarang kita hanya perlu mengalahkan mahkluk itu!" sahut Theo sembari mengarahkan pedangnya ke depan.
"Apa yang kalian bisikkan dari tadi?" tanya Tan. Sepertinya mahkluk fantasi ini sudah bosan menunggu. Walaupun, sesungguhnya dia tidak perlu menunggu dan segera menyerang saja.
__ADS_1
Leon segera berlari sekuat tenaga, pedang hitam di tangannya kian memanjang ke samping kanan. Dengan kekuatan penuh ia tebaskan pedang tersebut secara horizontal dari kanan ke kiri.
"Hia!" Langkah Leon terhenti, pedang ia ayunkan ke arah Tan. "Rasakan ini!"
Namun, serangan tersebut tertahan dalam sekejap mata. Debu berterbangan, saat sudah mulai menghilang, terlihat jelas pedang Leon ditahan menggunakan tangan kosong oleh Tan.
Bohong kalau Leon tidak terkejut, serangan ini adalah teknik andalannya. Akan tetapi, meski sudah menembus pertahanan tak terlihat Tan, mahkluk fantasi itu masih mampu menahan tebasan pedang memakai tangan kosong.
"Hei, hei!" Raut wajah Tan seketika berubah. "Kau ternyata cukup merepotkan!" Dalam sekejap mata dia sudah berada tepat di hadapan Leon.
Tak sempat bereaksi pada serangan mendadak itu, Leon terlempar sangat jauh ke belakang akibat pukulan dari Tan. Tidak cukup sampai di sana, Tan langsung melesat lagi ke udara dan mengepalkan tangan.
"Jangan abaikan kami!"
Dari arah samping, kilatan listrik dan pisau angin melayang tepat ke arah Tan. Itu adalah serangan dari Gild dan Theo. Namun, tanpa perlu berbuat apa pun, Tan dapat menahan serangan itu.
"Pengganggu!" teriak Tan dengan kesal.
Sebuah kejutan lain segera terjadi lagi. Dari arah depannya satu tombak besar berwarna hitam muncul lalu menghantamnya. Leon pun bangun kemudian mundur beberapa langkah. Jauh di depannya terdapat Sasa yang tengah merawat Sun.
Ia dengan nekad menebas Tan dari jarak dekat memakai pedang hitamnya. Tapi, lagi-lagi Tan hanya menahannya menggunakan tangan kosong.
Kini, Leon terlempar sangat jauh dari teman-temannya, Tan juga tidak mau berhenti mengejar dirinya. Namun, sekarang ia tidak sendirian. Dari arah belakang, kilatan petir dan pisau angin kembali melesat ke arah Tan.
Serangan tersebut hanya masalah kecil untuk Tan, tetapi tetap saja teman-teman Leon itu menyerangnya menggunakan itu. Tan mendarat, tanah berguncang cukup dahsyat, sampai-sampai Leon dibuat melompat olehnya.
Segera setelah mendarat, Tan pun melesat ke arah Leon. Namun, Leon menampakkan senyum lebar di sini.
Seluruh aura di sekujur tubuh Leon seketika memudar, ia terbatuk hingga memuntahkan darah. Tubuhnya lemas, sementara Tan sebentar lagi sampai ke hadapannya.
__ADS_1
Leon terbaring di tanah, tiba-tiba Tan mematung kaku tanpa bisa bergerak sedikit pun. Dari mulutnya keluar darah segar yang mengucur sampai menetes di atas kepala Leon.
Tan sudah kehilangan kesadaran, walaupun tidak terlihat terluka, dia kali ini telah kalah. Ya, mahkluk itu benar-benar sudah mati.
Di dalam alam bawah sadar Leon, tampak Ellise yang sudah terengah-engah. Gadis itu mencoba menahan napasnya yang sudah tak beraturan. Mendadak Leon muncul tepat di depan Ellise sambil tersenyum hangat.
"Kau sudah berjuang, Ellise. Sekarang istirahatlah. Sisanya serahkan kepada mereka di luar sana," kata Leon sembari merangkul kedua tangan Ellise.
"Baiklah," jawab Ellise sambil tersenyum. Dia yakin kalau perkataan Leon bisa dipercaya.
Di luar sana, Tan sudah terbaring di tanah tanpa kesadaran. Luka yang diterimanya bukanlah luka fisik, melainkan luka psikis.
Ini semua terjadi karena kekuatan Ellise. Gadis itu mampu membuat sebuah senjata untuk melukai jiwa Tan. Serangan-serangan dari Theo dan Gild hanya pengalihan, ini juga alasan kenapa Leon terlihat cukup tenang saat bertarung.
Rencana pembunuhan Tan sudah berhasil, walaupun Leon harus kehabisan seluruh kekuatannya agar Ellise dapat melancarkan serangan kuat kepada Tan.
Jauh di sana, Gild berlari mendekat. Seketika dia tercengang melihat Leon dan Tan terbaring. Sebelum ini dia tidak terlalu yakin pada rencana Leon, tetapi sekarang dia tak ragu lagi pada kekuatan Leon.
"Ini ... bukankah kekuatan Tan ini kuat? Tapi kenapa? Kenapa dia bisa dikalahkan Leon?" Meski masih banyak pertanyaan dalam kepalanya, Gild langsung memeriksa keadaan Leon. "Ah, itu tidak penting. Sekarang bagaimana keadaan orang ini?"
Dalam sekejap dia bisa menghela napas lega. Nadi Leon masih berdenyut, karena pada dasarnya Leon tidak mati, melainkan hanya terlalu kelelahan akibat energinya yang terkuras habis.
Tak lama berselang, Theo, Sasa, serta Sun yang sudah sadar kembali langsung datang mendekati Gild. Mereka juga bereaksi sama seperti Gild sebelumnya, tetapi pada akhirnya segera mendekati Gild.
"Apakah Leon berhasil mengalahkan mahkluk ini ...?" tanya Theo, ragu.
"Seperti katamu. Dia berhasil melakukannya," jawab Gild, tenang, walaupun sebenarnya masih sangat terkejut.
"Tan adalah salah satu dari dua mahkluk fantasi terkuat, dan dia berhasil mengalahkannya?" Sekali lagi Theo bertanya.
"Mungkin Tan ini sudah menghabiskan banyak waktu saat bermain-main dengan Sun sebelumnya." Gild lantas merubah topik. "Itu tidak perlu dipikirkan. Sasa, segera pulihkan dia!"
__ADS_1
"Baik!" Sasa pun bergerak cepat untuk mengobati luka-luka Leon.