The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 8 : Perjalanan Baru


__ADS_3

Waktu telah banyak berlalu sejak Mischie menarikku untuk berlari bersamanya. Ia semakin menambah kecepatan saat mengetahui kalau Lize mengejar kami. Aku sungguh tidak mengerti kenapa dia menghindar dari Lize. Namun, satu hal yang kuyakin, pasti terjadi sebuah pertengkaran di antara mereka saat aku pingsan.


Sebenarnya apa yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri?


Meskipun aku sangat ingin tahu mengenai jawaban atas pertanyaanku itu, aku tetap menutup mulut ini rapat-rapat agar tidak bertanya pada Mischie. Menyusuri lorong nan gelap, tiba-tiba saja Mischie dan aku menabrak dinding terowongan. Kepalaku terasa sakit ketika menabrak Mischie yang terpelanting karena menabrak dinding.


Tak menunggu lama, Mischie pun kembali menarikku berlari. Suara langkah kaki kami menggema di dalam terowongan ini. Lalu beberapa saat kemudian, jalan keluar dari terowongan akhirnya terlihat. Dalam sekejap, sinar matahari langsung menyilaukan mata ini hingga membuatku menutupnya dengan kedua tangan.


Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, kami akhirnya keluar dari terowongan itu. Langsung saja, Mischie menarikku ke sebatang pohon yang cukup besar serta rindang. Lalu kami pun duduk di bawahnya untuk memulihkan tenaga.


Tidak lama setelahnya, Lize akhirnya datang dengan tarikan napas yang tidak karuan. Kedua tangannya tampak memegangi perutnya yang terluka. Melihat itu, aku langsung berdiri dan mendekatinya.


“Kau kenapa?” tanyaku dengan nada khawatir.


Lize sedikit tersenyum seraya menjawab, “Tidak apa-apa.”


Walau dia menjawab seperti itu, aku dapat tahu bawasannya ia sedang berbohong. Namun, sebenarnya aku masih sedikit kesal karena dia meninggalkanku saat itu dan berkata kasar terhadap diriku. Akan tetapi, kuabaikan semua itu saat melihat dia sedang terluka.


“Kenapa kau bisa terluka seperti ini?” tanyaku untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Menanggapi pertanyaanku itu, Lize lantas tersenyum dan tiba-tiba saja, dia terjatuh menimpa tubuhku. Aku sempat terkejut karenanya, saat aku memeriksanya, tak kusangka dia ternyata sudah pingsan akibat kelelahan.


Kuangkat dengan perlahan tubuhnya sembari membaringkannya di bawah pohon yang rindang agar dia dapat beristirahat. Setelah itu aku langsung menatap tajam Mischie yang tengah menghabiskan waktu dengan duduk bersandar di bawah sebatang pohon. Dilihat dari reaksinya, aku dapat tahu kalau dirinya benar-benar tidak peduli pada apa yang terjadi dengan Lize.


Segera aku mendekati Mischie, lalu bertanya, “Kau apakan Lize?”


Mischie tidak mau menjawab pertanyaan itu. Dia malah berdiri dan hendak pergi meninggalkanku. Mengetahui hal itu, aku langsung saja menariknya dari belakang supaya dia tidak pergi. “Kenapa kau tidak menjawab?”


Mischie masih tetap tak mau membuka mulut untuk menjawab pertanyaanku. Namun, aku masih tidak menyerah, lalu dengan susah payah aku membujuknya berulang kali supaya dia mau memberikan jawaban.


Bosan mendengarku mengoceh, Mischie akhirnya mau membuka mulut. “Argh, baiklah, aku akan menjelaskannya padamu,” gerutunya sembari menepis tangan kananku yang memegang pundaknya.


Seusai menggerutu, Mischie pun menjelaskan tentang apa yang sebelumnya terjadi dan mengenai pertengkarannya dengan Lize. Dari ceritanya itu aku akhirnya mengerti kenapa Mischie sangat tidak suka pada Lize. Dan semua penjelasan Mischie dapat membuktikan kalau Lize memanglah orang yang disuruh oleh Andrew untuk mempermainkan kami. Itu pun kalau Mischie mengatakan yang sebenarnya.


“Mischie! Tolong jaga Lize untukku!” kataku sembari berjalan menjauh.


Aku sungguh mengerti jika Mischie enggan untuk melakukannya. Meskipun demikian, dia pasti akan tetap melakukannya untuk diriku. Kenapa begitu? Karena aku dan dia sudah seperti sahabat karib.


Melangkahkan kaki di atas dedaunan kering yang bertaburan di tanah. Aku akhirnya menemukan sebuah pohon yang memiliki lubang cukup besar. Melihat itu, tanpa berpikir lagi aku langsung memasukkan tanganku di dalamnya. Awalnya aku mengira akan mendapati sesuatu yang aneh didalam sana, tetapi ternyata aku salah menebak.

__ADS_1


Dari dalam lubang pohon itu aku menemukan sepotong roti yang dibungkus dengan kertas seperti yang biasa aku temui di hutan ini. Sejujurnya itu yang kupikirkan sebelum tanganku menyentuh sebuah botol kaca. “Apa ini?” ucapku setelah mengeluarkan botol kaca berisikan cairan yang berwarna hitam dari dalam lubang tersebut.


Setelah kuperhatikan lebih lanjut, warna cairan itu bukanlah hitam melainkan biru tua yang jika dilihat sekilas akan terlihat seperti warna hitam. Meletakkan roti yang ada di tangan ke atas tanah. Aku langsung memutar tutup botol tersebut sekuat tenaga. Dan benar saja, ketika tutup botol itu lepas, aroma aneh yang begitu menyengat langsung menusuk masuk ke dalam kepala ini.


“Hoeks ....” Aku yang hampir muntah langsung membuang botol itu sejauh mungkin lalu menutup hidung dengan kedua tangan.


Tak ingin berlama-lama berada di sini, kusambar roti yang sebelumnya kuletakkan di atas tanah kemudian beranjak pergi dari tempat itu secepat mungkin. Sudah cukup jauh aku berjalan sehingga aroma tidak sedap tadi kian mengilang dari indra penciuman. Namun, ada masalah lain lagi setelah masalah pertama terselesaikan.


“Sialan! Aku tidak tahu ke mana jalan kembali.” Aku berteriak histeris sekeras mungkin.


Menyerah akan keadaan, aku pun berjalan ke depan tanpa semangat. Saat di perjalanan, aku tidak pernah berhenti mengoceh karena kesal. Akan tetapi, selama apa pun aku mengeluh, tetap tidak ada yang berubah dari situasi menyebalkan ini.


Kian jauh aku melangkah, tanpa sadar, aku sudah berada di dekat sebuah sungai besar. Tanpa menunggu lagi, langsung saja aku masuk ke dalam sungai itu untuk menjernihkan pikiran. Dinginnya air sungai yang jernih merasuk ke sekujur tubuh ini dan membuat pikiran sedikit tenang.


“Ah ... sangat segar ... seandainya saja semua ini berakhir begitu saja,” ucapku sambil berharap dapat segera keluar dari hutan misterius ini.


Aku menikmati betapa segarnya tubuh setelah basah oleh air sungai dingin. Beberapa saat setelah puas memanjakan diri ini di dalam sungai, langsung saja aku keluar dari dalam air lalu mengeringkan badan.


Matahari sudah hampir terbenam, tetapi aku masih belum juga menemukan di mana Mischie dan Lize berada. Aku sangat khawatir jika seandainya aku tidak dapat menemukan mereka hingga malam tiba. Sebab akan berbahaya bagiku tanpa ada rekan di sini.

__ADS_1


Mencari ke sana sini, aku tak kunjung juga menemukan mereka berdua. Dan ternyata, kemungkinan terburuk telah terjadi padaku. Hari sudah gelap, tetapi aku masih belum menemukan rekan-rekanku.


Aku menghela napas panjang sebab muak dengan semua yang telah kuhadapi, termasuk sekarang. “Ini menyebalkan,” keluhku sembari duduk di bawah pohon, berharap dapat ditemukan oleh Lize dan Mischie.


__ADS_2