The Dark Slayer

The Dark Slayer
Chapter 11 part 3


__ADS_3

Tanpa membuang-buang waktu, langsung saja aku mengambil dua buah senjata yang tadi kuletakkan. Tiga temanku yang masuk ke dalam bangunan ini juga mulai panik. Mereka lantas berlarian menuju pintu keluar.


Guncangan pun berhenti, aku langsung mematung tanpa ada niat untuk keluar dari bangunan ini. Sekali lagi aku meletakkan senjata yang kubawa, ke tanah. Kemudian, dengan santai aku kembali duduk.


Untuk apa juga aku panik? Lebih baik aku berdiam diri di dalam sini daripada hujan-hujanan di luar sana.


Melihat tingkahku yang santai, Mischie dengan cepat mendekat lalu berkata, "Kenapa kau bisa sesantai itu? Ayo pergi dari sini!"


Seharusnya aku yang bertanya, kenapa dia tidak segera keluar dan malah menegurku? Aku benar-benar tidak dapat mengerti jalur pikirannya.


Suara dari hujan deras yang mengguyur atap rumah, terdengar merdu di telinga bagaikan sebuah musik. Entah bagaimana aku merasakan sebuah nostalgia.


"Kenapa kau tidak menjawab?" Mischie langsung menarikku untuk berdiri.


"Jika kau ingin keluar, maka keluarlah," jawabku tak acuh.


Detik berganti detik, lantunan suara hujan yang turun di atas atap kian mereda. Namun, sebuah siaran langsung dari speaker di depanku lantas menggantikannya. Masih mendingan jika siaran ini bagus, tapi aku sangat kecewa karena siaran ini begitu monoton dan membosankan.


"Groarr!"


Sebuah auman yang begitu nyaring, menggema di telinga. Aku pun berdiri dan bergegas mengikuti Mischie setelah mengambil senjata yang tadinya aku letakkan.


"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membalas dendam," gumam Mischie sambil memutar-mutarkan pistol di tangan kanannya.


Walau sesaat, semangatku juga mulai membara. Diri ini sudah tidak sabar untuk menghajar habis dua monster jelek yang pernah mengganggu hidup kami. Hm ... bisakah aku menyiksanya terlebih dahulu sebelum membuatnya tidur untuk selamanya.

__ADS_1


"Lize! Persiapkan granat-granat itu untuk menghadapi dua monster sialan itu," kata Mischie memerintah Lize.


"Baiklah," jawab Lize yang langsung membongkar isi tas hitamnya.


"Sedangkan kau, Leon." Mischie kemudian berbalik menghadap ke arahku. "Persiapkan dirimu untuk menembak menggunakan dua senjata yang ada di tanganmu."


"Hei! Kau serius dengan ini?" Sontak aku mengajukan pertanyaan. "Mana mungkin aku dapat menggunakan kedua senjata itu dalam waktu yang sesingkat ini. Lagipula, aku belum pernah tahu cara menggunakan alat berbahaya ini."


"Tidak, kau pasti bisa, Leon," jawab Mischie mencoba membujukku. "Melihat bentuk fisik dan kecepatanmu waktu itu, aku dapat yakin kalau kau pasti bisa menggunakan kedua alat itu."


"Kau pasti bercanda, kan?"


"Kenapa aku harus bercanda di saat seperti ini?"


"Tapi ...."


Astaga, dia pasti bercanda. Mana mungkin aku dapat menggunakan senjata mematikan ini. Secara, aku kan belum pernah menembak.


Tanpa mau mendiskusikan tentang siapa yang memegang senapan panjang ini, Mischie memberikan empat buah granat yang mempunyai ledakan tingkat menengah. Jumlah yang diberikan kepadaku tergolong kecil, dengan hanya bersenjatakan empat buah granat, aku masih belum yakin dapat membunuh monster besar itu.


"Jangan khwatir kalau kau gagal. Karena cukup wajar bagimu jika gagal."


Haih ... tidakkah dia sadar kalau perkataannya barusan bisa membuatku tertekan. Orang bernama Mischie ini ternyata sangat menakutkan. Di balik kata-katanya tadi, tersirat sebuah pesan yang mengerikan. Pesan itu tidak lain adalah, 'jika kau gagal, maka kita akan mati'. Sungguh mengerikan, bukan.


Berjalan keluar dari ruangan, kami berempat langsung berbelok ke arah kiri. Suhu udara masih sangat dingin. Aku yang merasakan itu langsung menggigil karena tak tahan.

__ADS_1


"Sudah kuduga, selepas hujan memang akan sangat dingin," gumamku perlahan.


Sepanjang perjalanan, kami membahas strategi apa yang hendak kami pakai saat melawan dua monster yang akan kami hadapi. Ini tidaklah mudah, dan sejenak aku berpikir, kenapa kami harus repot-repot melawan dua monster itu? Bukankah baik jika kami membiarkannya saja.


Pikiranku mulai berkecamuk, ditimpa lagi oleh kebingungan. Beberapa saat memikirkan pertanyaanku tadi, sebuah jawaban tiba-tiba muncul.


Jika dilihat dari jarak jauh, pertarungan melawan dua ekor monster itu memang seperti mencari mati tanpa keuntungan. Namun, ketika di pikirkan lebih jauh, membunuh kedua monster akan sangat menguntungkan. Salah satunya, mungkin di dalam perut sang monster, terdapat berbagai alat yang mungkin berguna.


Alasan itu mungkin belum cukup, tetapi ada kemungkinan, kedua monster itu memiliki sebuah petunjuk penting agar kami bisa keluar dari hutan mengerikan ini. Selain itu, tidak ada salahnya jika kami membantai akar masalah dan balas dendam.


Setelah sekian lama berjalan, kami akhirnya melihat dua ekor monster sedang berjalan mendekat ke arah kami.


"Leon, Rias, Lize, kita mulai rencana kita sekarang!" Mischie berseru lalu bergerak ke depan.


"Baik!" Kami bertiga dengan serempak menjawab dan mulai berpencar.


Aku bergerak menuju ke balik sebuah batu besar, dengan sigap, aku langsung mengarahkan senapan panjangku ke arah salah satu dari dua monster itu.


"Baiklah, mari kita siapkan mental dan fisik," gumamku yang tengah membidik kepala sang monster.


Kutarik napas perlahan, dan mulai menghembuskannya. Kulakukan hal itu berulang kali sampai diri ini menjadi tenang. Perlahan tapi pasti, aku meletakkan jari telunjukku di pelatuk senapan.


Duar!


"Itu aba-abanya."

__ADS_1


Langsung aku menarik pelatuk senapanku sampai suara tembakan menggema dan diri ini terdorong ke belakang.


__ADS_2