
Menutup hidung dengan menggunakan telapak tangan agar aroma misterius yang ada di dalam gua ini tidak terhirup. Aku terus melangkahkan kaki ini untuk masuk lebih jauh ke dalam gua. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di sekitarku saat ini. Meskipun mataku tidak berfungsi dengan semestinya, diri ini seolah mengerti dengan baik akan keadaan.
“Astaga! Kepalaku semakin pusing,” keluhku sembari terus berjalan lurus ke depan.
Putus asa dengan situasi ini, aku merasa ingin keluar dari gua ini secepat mungkin. Tiba-tiba aku ditarik oleh seseorang. Sontak aku menghentikan langkah ini dan menarik kembali tanganku dengan paksa. “Siapa kau?” Dengan waspada aku memasang kuda-kuda dan bersiap untuk bertarung walaupun mata ini tak dapat melihat apa pun.
“Sssstt! Tenanglah! Ini aku, Rias,” bisik orang itu dengan perlahan kepadaku.
Aku menarik napas lega, karena ternyata orang yang menarikku bukanlah orang asing. Namun, aku merasa sedikit bingung tentang mengapa ia berkata dengan nada pelan seolah tak ingin diketahui oleh orang lain. Patut dengan keadaan, aku pun berbisik pada Rias, “ada apa ini? kenapa kau sepertinya sedang sangat waspada?”
Tak menggubris pertanyaanku, Rias lantas menarik tangan kananku dan mulai berjalan. “Hei! Hei! Hei! Setidaknya jawab dulu pertanyaanku!”
Sekali lagi aku diabaikan begitu saja. Karena tampaknya dia tidak akan menjawab, aku hanya pasrah mengikuti kemauannya menarik diri ini entah ke mana.
Tak lama berselang, kami akhirnya sampai di depan sebuah tempat aneh lagi. Di sini aku dapat melihat sebuah tempat kosong dengan penerangan sebuah lentera di sepanjang dinding dan gubuk reyot yang seperti akan rubuh kapan saja berada tepat di tengah-tengah tempat tersebut.
Dengan waspada Rias menarikku bersandar ke dinding sambil mengamati gubuk tua itu. Beberapa langkah di sebelah aku bersandar, terdapat Lize yang juga sedang bersembunyi melirik ke arah gubuk. Aku sangat tidak mengerti akan keadaan ini, kenapa mereka begitu takut hanya untuk mengecek secara langsung gubuk tersebut.
“Kalian ini kenapa sih? Kalau mau tahu apa yang ada di sana, kurasa kita perlu untuk melihatnya lebih dekat,” kataku pada mereka.
“Sssstt!” Rias langsung menutup mulutku dengan jari telunjuknya. “Jangan berisik! Aku curiga ada sesuatu yang tidak normal di sana.”
__ADS_1
Aku segera melepaskan tangannya dari mulutku. “Baiklah, kalau kalian takut, biar aku saja yang ke sana.”
Mengabaikan Rias yang hendak menghalangi jalanku, aku lantas berjalan dengan santai menuju gubuk tua yang kami bicarakan. “Haih, kenapa juga aku harus takut. Inikan hanya mimpiku yang baru,” gumamku sembari mengabaikan sekitar dan terus melangkah.
Mendadak, Lize langsung menghalangi jalanku dengan membentangkan kedua tangannya. “Ke mana kau akan pergi?” tanyanya dengan nada datar.
“Hanya mengecek isi gubuk itu,” jawabku sambil berlalu.
Tangan kananku ditarik hingga membuat diri ini berhenti melangkah. Kupalingkan wajah ini ke belakang dan melihat sosok seorang gadis berambut hitam panjang itu dengan sinis. Mata biru gadis itu menatap tajam mataku. “Kita tidak tahu ada bahaya apa yang mengincar kita di depan sana.”
Kuhela napasku sembari menarik tanganku. “Tidak akan ada bahaya yang akan mengancam kita,” ucapku tak acuh sambil terus melangkah.
“Argh ... terserah kau sajalah.”
Baiklah, mari kita tunggu apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah kejadian yang sama dengan mimpi burukku beberapa waktu lalu akan terulang kembali? Ataukah ada yang lainnya.
Tidak peduli dengan waktu yang akan datang, aku akhirnya sampai di depan gubuk kecil yang terbuat dari kayu yang sudah keropos. Andai kata di tempat ini ada sebuah angin kencang yang menerjang, gubuk reyot yang berada di depanku saat ini pasti sudah ambruk diterjang angin tersebut.
Kubuka pintu dari gubuk itu dan perlahan masuk ke dalamnya. Jaring laba-laba yang menjuntai di langit-langit tempat itu langsung memenuhi wajahku. Aku mengusap muka ini untuk menghilangkan jaring tersebut.
Aku langsung dikejutkan oleh mayat seorang pria tua yang terbaring di sudut kanan gubuk itu. Menenangkan pikiran, aku lantas melirik ke samping mayat itu. Di sana terdapat sebuah tas hitam berukuran sedang yang tampaknya berisikan sesuatu. Melihat itu, langsung saja aku mendekati ke arah tas itu dan mengangkatnya.
__ADS_1
Tas berukuran sedang ini cukup berat, ketika aku membuka isi dari tas itu, aku langsung menelan ludah karena terkejut. Bagaimana tidak, di dalam sana terdapat berkotak-kotak peluru dan sebuah pistol berwarna hitam. Aku tersenyum lebar melihat hadiah yang diberikan kepadaku ini. Untuk memastikan kalau ini bukanlah mimpi, aku mencubit pipiku sendiri dan ternyata sakit.
“Ini nyata.” Aku sangat senang ketika mengetahui kalau saat ini aku tidak sedang bermimpi atau pun berhalusinasi.
“Hei!” Sontak aku melompat karena dikejutkan oleh Lize yang memukul pundakku.
Bukannya marah, aku malah semakin bersorak kegirangan karenanya. “Kau sudah gila, ya?” ucap Lize yang melihat tingkah anehku.
Langsung saja aku memperlihatkan isi dari tas yang kuambil. “Ini, lihatlah! Aku menemukan sesuatu yang bagus di sini.”
Menanggapi pernyataanku itu, Lize pun mengintip isi tas yang kubawa. “Wow! Ini menakjubkan!”
Kuserahkan tas itu kepada Lize lalu mulai membalikkan mayat yang sudah kering tadi. Di balik mayat tersebut ternyata ada sebuah senapan panjang yang dilengkapi dengan teropong. “Ini pasti akan sangat membantu,” kataku sembari mengambil senapan itu.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku merasa sangat bahagia karena dapat menemukan barang-barang berguna ini. Berjalan keluar dari dalam gubuk, aku melihat Rias yang tengah berjaga-jaga di depan.
“Hei!” sapaku dengan santai kepada Rias.
Rias mengamatiku selama beberapa saat. “Sepertinya kau sedang sangat bahagia, ya,” katanya setelah melihat keadaanku.
Aku tersenyum lebar lalu berkata dengan riang, “tentu saja. Karena setelah kita keluar dari gua ini, aku rasa kesialan yang akan kita hadapi akan sedikit berkurang.”
__ADS_1
“Hahaha, seyakin—“
Kalimat Rias langsung terpotong ketika kami tiba-tiba mendengar suara orang yang sedang terjatuh. Tak jauh di depan kami, terdapat seorang pemuda yang jatuh terjerembab di atas tanah.