The Dark Slayer

The Dark Slayer
[S3] Chapter 10 : Tan


__ADS_3

Gurun pasir penuh debu adalah di mana mereka berada sekarang. Leon terus melirik ke sekitar memastikan kalau kawasan ini aman dari bahaya.


Sun menerawang ke atas, langit cerah berawan membuat pemandangan di sana tampan begitu indah. Angin berembus, debu berterbangan sedikit membuat pengelihatan kabur.


Leon tak mau peduli dan berjalan perlahan ke depan. Langkahnya cukup pelan, sedangkan matanya tak henti waspada melirik ke sana-sini.


Berhenti melangkah, ia mengembuskan napas panjang. Seketika pikirannya kembali kosong serta tenang.


"Sepertinya kita tidak akan bertemu dengan satu pun Mahkluk Fantasi di sini," ucap Leon, pelan.


"Kalau begitu kita harus mencarinya. Tugas kita adalah berburu Chimera, di atas itu kita tinggalkan saja." Sun dengan penuh wibawa mengatakan kalimat tersebut.


Pemuda berambut hitam pendek dan mengenakan seragam merah terlihat mengembuskan napas entah karena apa. Leon berbalik mengamatinya sesaat, kemudian kembali memerhatikan sekitar.


"Sebaiknya kita berpencar," kata pemuda yang dilihat Leon tadi.


Sebenarnya Leon tidak terlalu peduli, karena ia yakin kalau kekuatannya tidak akan kalah. Jika memang harus berpencar, bagi Leon itu bukan sebuah masalah.


"Aku mengerti maksudmu, Theo. Tapi, kita tak tahu musuh seperti apa di luar sana," jawab Sun.


"Tidak, Sun. Kurasa akan lebih baik kalau kita berpencar saja." Tiba-tiba seorang pemuda dengan pedang di tangan kanan menyela.


"Ya, memang benar kita bisa menemukan mangsa begitu cepat saat berpencar. Tapi, Gild," kali ini yang menyela adalah gadis berambut pirang sebahu, "seperti kata Sun, kita tak tahu musuh seperti apa di luar sana."


Kalau sudah seperti ini, Leon yakin kesimpulan akan sangat susah didapatkan. Jika dipikirkan lebih dalam, sesungguhnya berpencar maupun tidak itu memiliki kelemahan serta kelebihan masing-masing. Dengan berpencar, lingkup pencarian lebih besar, tetapi kekuatan untuk menghadapi musuh tidaklah memadai.


Sementara itu, kalau memilih terus bersama, lingkup pencarian lebih sempit tetapi kekuatan untuk menghadapi musuh cukup memadai. Leon menggaruk kepala, empat orang di depan sana sedang asik beradu argumen.


"Daripada terus berbicara tanpa akhir, lebih baik kita melanjutkan perjalanan. Kalian bisa mendiskusikannya lagi saat kita menyusuri gurun ini." Leon menghela napas dan memasang wajah bosan.


"Ah, dia benar juga." Yang pertama kali menyetujui adalah pemuda bernama Theo, lalu diikuti oleh teman-temannya.


"Pintar juga pikiranmu," ledek Sun sambil tersenyum.


"Terserah! Ke mana kita akan pergi?" Kini Leon bersikap acuh tak acuh, tidak peduli pada ejekan Sun.


"Kita akan menuju selatan."

__ADS_1


Serentak setelah Sun melontarkan kalimat tersebut, mereka semua bergerak secara bersamaan mengikuti Sun. Namun, Leon terdiam sesaat, lalu segera berlari di barisan paling belakang.


Hei, Ellise! Leon memanggil Ellise yang berdiam di dalam kepalanya.


Apa? tanya Ellise, tak acuh.


Tidak, aku hanya ingin memastikan kau masih berada di sana.


Mo! Hmph! Ellise terlihat cemberut karena dipermainkan Leon.


Pfft ... entah kenapa saat melihat wajah cemberutmu aku jadi tertawa.


Hmph! Aku takkan membantumu lagi!


Ahahaha, aku tidak yakin kau akan seperti itu.


Lihat saja!


Ayolah, Nona Manis. Aku hanya bercanda. Leon memasang senyum bahagia di wajahnya. Suatu hari nanti, aku pasti akan menyelamatkan dunia dan memberikan tubuh untukmu.


Tidak! Seketika Leon menggelengkan kepala. Kau pantas mendapatkan lebih dari ini. Bahkan jika itu harus mengorbankan seluruh kekuatanku.


Kalau begitu, kau bukannya akan menjadi manusia biasa.


Ya, tapi kurasa lebih baik daripada harus memelihara kutukan yang disebut kekuatan ini.


Eh? Bukankah dulu kau sangat menginginkan kekuatan? Mungkin ucapan Ellise ini bersangkutan dengan saat Leon masih berada di hutan misterius, tetapi ada juga kemungkinan lain.


Mungkin karena aku dulu sangat terobsesi untuk keluar dari hutan. Jawaban Leon ini jelas didasarkan pada kejadian di dalam hutan, tetapi Ellise tampak menyembunyikan sesuatu dan terus berusaha menutupinya serapat mungkin.


Ada apa, Ellise? Tahu Ellise terdiam, Leon kembali melontarkan pertanyaan karena heran.


Tidak, bukan apa-apa, jawab Ellise, kau lanjutkan perjalananmu, aku akan menunggu dengan tenang di sini.


Begitu ya .... Meskipun tahu kalau Ellise tampak tengah menyembunyikan sesuatu, tetapi Leon tak lanjut bertanya. Ia yakin kalau suatu saat, pada waktu yang tepat, Ellise pasti akan mengungkapkan hal itu padanya jika memang perlu.


Perjalanan Leon dan yang lainnya sudah cukup jauh. Namun, pemandangan yang terlihat masihlah sama yakni reruntuhan kota yang kini menjadi padang pasir tandus.

__ADS_1


"Sebenarnya seberapa kuat Mahkluk Fantasi itu hingga dapat meratakan banyak tempat?" gumam Leon.


Kelompoknya terus berlari, debu berterbangan dari jejak kaki mereka. Terik matahari cukup menyengat, beruntungnya mereka membawa perbekalan berupa air di dalam tas.


Sejenak mereka semua berhenti, istirahat dan meminum air. Sejauh mata memandang hanya terdapat pasir serta bangunan yang sudah tak layak dihuni lagi karena berbahaya. Di tengah gurun panas ini, mereka terpaksa berhenti tanpa berteduh.


Leon mendapatkan beberapa kali tawaran air minum dari rekan-rekannya, tetapi pemuda itu menolak untuk menerimanya. Saat ini ia sedang tidak haus, ini efek dari meningkatnya kekuatannya usai keluar dari hutan misterius.


Tiba-tiba angin berembus kencang, seketika itu mereka semua waspada. Debu berterbangan, lalu suara langkah kaki hewan yang tengah berlari terdengar oleh telinga mereka.


Leon segera menerawang ke depan, sumber dari suara tersebut. Matanya langsung terbelalak lebar tatkala melihat kawanan Chimera yang berlarian ke arah mereka.


"Astaga, hewan itu bergerombol," ucap Leon.


"Lari! Kita tak akan bisa mengalahkan mereka kalau begini!" seru Sun, mencoba tetap tenang dan mengatur teman-temannya.


"Kenapa harus takut?" tanya Leon. "Bukankah akan lebih mudah menghabisi mereka jika seperti ini?"


"Jangan berlagak di sini! Jumlah mereka sekitar 20 ekor, sebaiknya kita menyingkir segera!" Sun berserta teman-temannya langsung berbalik arah untuk kembali ke kota.


Senyum lebar terbentuk di bibir Leon. Ia terlihat senang dengan perginya orang-orang itu. "Ya, kalian boleh pergi. Tapi, hanya segerombolan hewan tak berakal ini pasti bisa kutangani semudah membalik telapak tangan."


Di dalam kepala Leon, Ellise mengamati pemuda itu dengan saksama. Kekuatannya yang sekarang mengingatkan Ellise pada tujuan sebenarnya Leon. Gadis itu merasa takut, tetapi juga senang.


Bimbang, mungkin itu kata paling tepat untuk menggambarkan keadaan Ellise. Hatinya terus bergejolak, meminta agar Leon tetaplah menjadi Leon yang sekarang. Dia tidak ingin ada yang berubah.


Sementara itu, Leon telah membuat sebuah pedang besar bayang di tangan kanannya. Ia mempersiapkan kuda-kuda, menunggu dengan tenang kedatangan para Chimera.


Benar saja, tanpa ada niat untuk berbalik arah atau apa pun, para Chimera tadi tetap berlari sekuat tenaga hendak menyerang Leon. Akan tetapi, hanya dengan satu kali tebasan, Leon berhasil memotong mereka semua menjadi dua bagian.


"Hahaha, hanya ini kemampuan kalian?" Leon berseru lantang.


Walaupun begitu, Ellise melihat adanya perubahan dari Leon. Dia bingung memutuskan apakah Leon ini memang akan berubah, atau akan tetap sama. Semua ini membuat dia ingin tahu, sebenarnya bagaimana perasaan Leon sekarang? Apakah pemuda itu senang mendapatkan kekuatan, atau tersenyum puas sesaat demi menghibur hati yang hampa?


Mendadak, saat Ellise tengah berputar dalam ruang pikirannya, seekor Mahkluk Fantasi dengan tubuh kurus, cakar panjang. Ukurannya lebih tinggi dari manusia, kini berada tepat di hadapan Leon.


__ADS_1


__ADS_2