
Pada waktu yang sama, di depan sebuah gua, Andrew yang mengenakan pakaian serba hitam kesukaannya, membawa Zanik untuk memeriksa tempat ini. Zanik menggenggam erat kedua pistol yang ada di tangan, matanya terfokus pada gua yang ada di hadapannya.
“Kau yakin dengan ide super gila ini?” Zanik terlihat ragu untuk bertindak.
Namun, dengan santainya Adrew mengambil dua buah pistol dari balik pakaiannya, lalu berjalan mendekati gua yang diwaspadai oleh Zanik.
“Jangan manja,” kata Andrew yang masih terus melangkah. “Semua ini demi tujuan akhir kita. Walaupun merepotkan, itu tidak jadi masalah.”
Apa-apaan orang sinting ini? Apakah dia tidak pernah dapat berpikir logis? Menyebalkan, kenapa juga aku harus menjadi rekan orang macam ini? pikir Zanik. Meskipun sedang kesal, pemuda itu dapat menyembunyikan semua emosinya dengan wajah datar.
Mau tidak mau, Zanik akhirnya melangkahkan kaki, masuk ke dalam gua mengikuti Andrew. Ia melakukannya bukan karena rasa solidaritas ataupun takut, tetapi untuk menjaga rahasianya tetap aman.
Bagian dalam gua begitu gelap, tetapi hal ini tidak berarti, sebab mereka mempunyai mata khusus yang dapat melihat dalam kegelapan. Suara langkah kaki mengisi telinga, tak ada yang mau memulai suatu percakapan hanya untuk menghabiskan waktu. Pandangan Zanik terus waspada pada sekitar, ia tak mau jika seandainya ada bahaya yang menyergap dari belakang.
Kedua pemuda itu tiba-tiba berhenti, mereka terus melirik ke sana sini untuk memastikan keadaan. Tidak ada yang terjadi selama beberapa detik, hanya terdengar suara bebatuan kecil yang jatuh ke lantai. Bau busuk kemudian menusuk ke dalam hidung, Zanik tak tahan dan menutup hidungnya dengan lengan kanan, sebab sedang memegang pistol.
“Jangan lengah,” peringat Andrew.
Zanik pun kian meningkatkan kewaspadaannya. Mata pemuda itu terus menerawang sekitar, mencari tahu tentang bahaya apa saja yang mengancam. Namun, indra penciumannya masih tidak berfungsi dengan baik, karena bau menyengat yang mirip dengan aroma bangkai.
Sial, sebenarnya kenapa juga aku harus repot seperti ini? Zanik semakin kesal saja dengan situasi sekarang. Ia sangat tahu apa sebenarnya yang ada di dalam gua ini, tetapi juga tak mau menolak tawaran Andrew, yang nantinya akan berimbas pada rencana yang telah disusunnya.
__ADS_1
“Baiklah, akan kuselesaikan sekarang juga jika kau tidak mengambil tindakan apa pun.” Segera Zanik berjalan ke depan. Dia tahu kalau situasi ini sangat tidak ada apa-apanya bagi Andrew. Hanya saja, pemuda itu sangat malas untuk mengatasi semua rintangan yang ada. Menyebalkan.
Andrew sedikit tersenyum melihat rekannya sangat peka terhadap dirinya. Semementara itu, Zanik dengan kesal semakin masuk ke dalam gua, di mana tempat itu adalah sumber dari bau busuk yang sangat menusuk hidung. “Sialan, dasar sampah. Beraninya dia menyuruhku seperti ini. Ketika waktunya tiba, akan kubuat kau bersujud meminta maaf padaku,” Zanik bergumam perlahan. Mulutnya tak berhenti mengungkapkan rasa kesalnya.
Di ujung terowongan gua, Zanik mengendap-endap pada dinding di sebelahnya. Mata pemuda itu masih terus mengamati begitu banyak mayat hidup yang bergerak tak karuan atau biasa disebut zombie. Para zombie itu berdesak-desakan, terkadang ada satu zombie yang mereka makan bersama.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Zanik memutar otaknya agar dapat menemukan suatu cara yang aman untuk mengelurkan para zombie dari dalam sini. Dia tahu kalau zombie-zombie tersebut pasti akan bereaksi dengan suara, tetapi ketika ia menciptakan suara, maka para zombie pasti akan menyerbu secara bersamaan.
“Gawat ....” Meskipun telah berusaha memikirkan cara, Zanik tak kunjung juga menemukan sebuah ide. Ia harus berpikir bagaimana caranya mengeluarkan para zombi sambil menyembunyikan kemampuannya yang asli. “Sepertinya, aku hanya bisa mengandalkan sebuah keberuntungan di sini. Semoga rencanaku berjalan dengan lancar.”
Zanik langsung menghadap pada para zombi dan segera melancarkan sebuah serangan dengan pistol yang ada di tangan kirinya. Pistol yang satunya ia simpan di balik pakaian agar tidak mengganggu.
Salah satu zombie terkena serangan, tetapi mahkluk tersebut masih bergerak maju ke arah Zanik. Sudah kuduga. Secepat kilat, Zanik berbalik dan berlari ke arah pintu keluar. Gerombolan zombie bergerak ke arah pemuda itu, sebab ia baru saja membuat sebuah suara berisik menggunakan pistolnya.
Hari sudah sore, di depan pintu gua terdapat Andrew yang tengah menunggu Zanik keluar dari gua. Pemuda itu tak peduli apakah Zanik mati ataupun tidak, yang diinginkannya hanyalah kepuasaan melihat seseorang menderita. Namun, dia juga punya tujuan lain, yaitu: keluar dari hutan ini bersama dengan Klan-nya, Klan Naga. Sebab itulah dia menjadi pemimpin Klan tersebut.
Dengan napas terengah, seorang pemuda keluar dari gua yang ada di dekat Andrew. Melihat itu, Andrew tidak panik, ia hanya bergerak sedikit untuk memastikan apa yang mengejar pemuda tersebut.
Sebuah senyum tipis, terbentuk di bibir Andrew, ketika melihat kawanan zombie tengah berdesakan menuju ke arahnya. Pemuda yang baru saja keluar dari gua—Zanik—mengatur napasnya yang tidak karuan, sambil bersandar di batang pohon. Dia tidak menyangka kalau berlari tanpa menggunakan kekuatan aslinya akan sangat melelahkan.
“Sial, seharusnya aku menggunakan sedikit dari kemampuanku.” Ya, wajar dia menyesal saat ini, tetapi penyesalan tersebut tak berlangsung lama.
__ADS_1
Sedangkan Andrew masih berdiri di depan gua, menunggu para zombie mendekati dirinya. Waktunya sangat tepat, matahari sudah terbenam seluruhnya, meninggalkan gelapnya malam hari ini.
“Pasukan zombie telah siap, saatnya menghabisi Klan Kelinci sebagai percobaan, tanpa perlu berperang dengan tenaga sendiri.”
“Markas Klan Kelinci sangat jauh dari sini,” sahut Zanik yang telah berhasil menstabilkan kondisinya. “Apa kau yakin sanggup membawa zombie ini ke markas mereka, tanpa ketahuan?”
Andrew tertawa kecil mendengar ucapan Zanik. “Haha, kau masih belum juga paham ternyata.”
“Apa maksudmu?”
“Selain suara, ada sebuah mutiara yang bisa membuat para zombie ini bergerak?”
Sontak Zanik membelalakkan mata lebar-lebar. Ia tidak pernah tahu ada hal yang semacam itu. Hutan aneh ini menyimpan banyak misteri, tetapi semuanya selalu saling berkaitan, pikir Zanik.
“Kau akan segera tahu.” Andrew menjauh dari pintu gua, diikuti oleh Zanik yang masih bingung akan situasi ini.
“Sebenarnya, seberapa banyak yang kau ketahui tentang hutan aneh ini?” Walau sedikit ragu, Zanik masih memberanikan dirinya untuk bertanya.
Tentu Andrew tidak akan dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut. Karena dulu dia bersusah payah mencari berbagai informasi dengan menjelajahi hutan seorang diri. Mempertaruhkan nyawa demi mengungkap suatu misteri yang tersembunyi, hingga akhirnya ia tahu sebagian besar tentang apa saja yang ada di hutan ini.
“Tidak banyak.”
__ADS_1
Zanik tahu kalau apa yang dikatakan oleh Andrew hanyalah sebuah kebohongan. Walaupun Andrew juga pandai memakai wajah datar, insting Zanik seolah tahu pada kebohongan yang dikatakan Andrew. Sebab mereka berdua sama-sama suka menggunakan wajah datar untuk menutupi sesuatu.
“Sepertinya kita harus berusaha lebih giat lagi untuk dapat mengetahui semua rahasia yang tersimpan di sini.” Daripada berdebat, Zanik lebih memilih untuk pasrah dan mengiyakan kata-kata Andrew.